Bisnis Suvenir Asemka: Pernah Garap Pesanan 40 Ribu Mug hingga Pernikahan Artis

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Pasar Asemka di Jakarta Barat menjadi salah satu tujuan masyarakat untuk berburu aneka suvenir dan pernak-pernik dengan harga grosir. Di tengah perubahan tren dan maraknya penjualan online, pedagang suvenir di pasar ini masih melayani pesanan langsung di tokonya dalam jumlah besar, mulai dari kebutuhan acara pribadi hingga pernikahan artis.

Salah satunya pedagang suvenir Yuni Arcan (42) mengungkapkan keluarganya mulai berdagang di Pasar Asemka sejak 1998. Ia mengawali usahanya dengan membantu bisnis orang tua sebelum akhirnya memiliki kios sendiri pada 2017.

Selama hampir dua dekade mengelola kiosnya, Yuni telah menerima beragam pesanan, termasuk suvenir dalam jumlah besar. Ia mengaku pernah mengerjakan pesanan hingga 40 ribu buah mug.

Tak hanya melayani pesanan dalam jumlah besar, ia juga pernah mendapat pesanan suvenir untuk acara pernikahan pasangan artis Dewi Sandra dan Agus Rahman.

Dahulu, menurut Yuni, pembeli lebih banyak datang langsung ke toko untuk mencari suvenir. Namun, perkembangan teknologi dan media sosial turut mengubah cara pedagang menjangkau pelanggan.

Ia pun mencoba memanfaatkan TikTok untuk memperluas produk yang dijualnya. Melalui platform tersebut, produknya dapat dikenal oleh konsumen yang sebelumnya belum pernah berbelanja langsung di Pasar Asemka. Bahkan, ia mengaku pernah menangani hingga 2.000 resi pesanan daring dalam sehari.

Kehadiran platform tersebut membuat tokonya semakin dikenal dan mendorong sejumlah pelanggan datang langsung setelah melihat produknya secara online.

“Kalau di online sekarang malah karena aku ada TikTok ya, jadi bergerak ya. Ee maksudnya orang jadi aware gitu sama-sama Asemka, gitu. Jadi banyak yang datang,” jelas Yuni.

Namun, Yuni mengaku tetap terdapat penurunan penjualan secara offline dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Selama berjualan, ia juga merasakan perubahan tren produk yang diminati konsumen. Salah satu produk yang dahulu menjadi andalan adalah suvenir kipas berbahan kayu cendana. Namun, menurut dia, harga produk tersebut kini meningkat seiring terbatasnya pasokan dan pembatasan impor.

“Dulu kayu cendana tuh kan best seller banget. Cuman kan sekarang kayu dibatasin, gitu. Jadi harganya tuh benar-benar dua kali lipat. Kipas-kipas kayu cendana, kipas Jepang, itu dua kali lipat harganya. Sekarang orang lebih banyak ke tumbler,” ujarnya.

Menurut yuni, pembeli lebih memilih tumbler karena tersedia dengan beragam model dan harga. Selain itu, piring keramik, pouch, dan dompet juga kini masih menjadi suvenir paling laris di tokonya.

Selain perubahan tren, harga bahan dan barang impor juga menjadi tantangan bagi pedagang. Ia mengatakan pergerakan nilai tukar dolar turut memengaruhi harga jual sejumlah produk yang didatangkan dari luar negeri.

“Misalnya kita kemarin beli masih Rp 1.000 modal ya dolar hari ini naik bergerak, kan bisa jadi naik Rp 1.050 atau Rp 1.100 mengikuti harga dolar,” ujar Yuni.

Meski begitu, beberapa barang suvenir tetap ada yang berasal dari produk lokal.

Pesanan suvenir yang dilayaninya pun tidak terbatas pada acara pernikahan. Ia menyebut pesanan juga datang untuk acara reuni, kegiatan komunitas, peringatan kemerdekaan, hingga acara kematian.

Sementara, Jangkauan pelanggannya tak hanya terbatas di sekitaran Jakarta. Yuni juga melayani pesanan untuk dikirim ke luar pulau bahkan sampai ke luar negeri. Ia mengaku pernah mengirim pesanan hingga ke Singapura dan Malaysia.

Penjualan suvenir di Pasar Asemka biasanya dijual per pak atau per 100 pcs tergantung dengan jenis barangnya.

Selain suvenir untuk kebutuhan pernikahan, Pasar Asemka juga terkenal dengan grosir penjualan pernak pernik aksesoris lainnya.

Azmi, salah satu pedagang aksesori yang telah berjualan selama sekitar delapan tahun, mengaku penjualannya menurun dalam lima tahun terakhir. Ia mengatakan, omzet yang dahulu bisa mencapai belasan juta rupiah sehari kini jauh lebih sulit diperoleh.

“Dulu sehari Rp 15 juta dapet, tapi sekarang Rp 1 juta belum tentu, bahkan Rp 500.00 juga nggak nentu,” kata Azmi

Namun demikian, ia mengakui pendapatannya masih mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Selain itu, berdagang merupakan hal yang turun temurun telah dilakukan dari orang tuanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Konflik Timnas Korea Selatan Memanas! Son Heung-min Dikucilkan Rekan Setim
• 17 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Potret Basuki Lihat Langsung IKN Kebanjiran Investasi Baru Rp 4 T
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
5 Tanda Kamu Sulit Menetapkan Batasan dengan Orang Lain
• 9 jam lalubeautynesia.id
thumb
Asing Net Sell Rp 6,67 Triliun Sepekan, BBCA hingga BBRI Ramai Ditransaksikan
• 13 jam lalukatadata.co.id
thumb
Pertamina Pastikan Kebutuhan BBM Masyarakat Terjaga dengan Perkuat Pasokan dan Distribusi
• 11 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.