KUNINGAN, KOMPAS.TV - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) turut membakar habitat satwa endemik di daerah tersebut. Relawan pemadam di Gunung Ciremai pun menemukan seekor bayi surili jawa (Presbytis comata) di area yang terbakar.
Relawan pemadam kebakaran, Dodo alias Darsa, mengatakan anak surili jawa tersebut ditemukan saat pemadaman karhutla pada Kamis (22/10/2026) malam.
Dodo mengatakan bayi satwa berstatus terancam itu ditemukan di dahan pohon dalam kondisi lemas. Relawan pun berinisiatif mengevakuasi satwa tersebut.
"Dia sembunyi di dahan, sembunyi posisi udah lemes, jadi kami inisiatif untuk diselamatkan," kata Dodo, Sabtu (24/10/2026).
"Setelah di bawah ternyata lemas karena mungkin kena asap, mungkin seharian nggak nyusu, ditinggal induknya."
Baca Juga: Karhutla Gunung Ciremai, Tim Gabungan Fokus Pendinginan di 3 Blok hingga Asap Hilang
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai Toni Anwar mengatakan bayi surili jawa yang ditemukan relawan telah dilepasliarkan.
Menurut Toni, anak satwa itu dilepas pada Jumat (23/10) pagi setelah diberi cairan saat evakuasi. Bayi surili jawa itu disebutnya telah dibawa kelompoknya berjumlah sekitar 15 individu.
Toni Anwar menambahkan, sebagian area Gunung Ciremai merupakan habitat asli suruli jawa. Namun, ia mengaku pihaknya tidak mengetahui secara persis jumlah surili jawa di Taman Nasional Gunung Ciremai.
"Untuk areal-areal ini sebagian areal-areal terbuka, tetapi memang sebagian lagi adalah habitat dari surili tersebut, maka itu ditemukanlah di area yang terbakar," kata Toni dalam program "Kompas Petang" KompasTV, Minggu (25/10).
Kebakaran Gunung CiremaiKebakaran di kawasn kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai diketahui berlangsung sejak Rabu (21/10). Hingga pemadaman pada Sabtu (24/10), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan melaporkan masih terdapat kepulan asap di sejumlah titik.
Kepala BPBD Kabupaten Kuningan Indra Bayu Permana mengatakan pihaknya berupaya memadamkan api melalui operasi udara pada Sabtu (24/10).
"Menggunakan water bombing dengan frekuensinya mungkin enam kali, dengan metode juga penebalan di beberapa titik untuk melihat mana yang intensitasnya masih perlu penanganan lebih," kata Indra.
Untuk operasi pemadaman pada Minggu (25/10), Indra menyebut tim gabungan akan melakukan pemantauan asap dan pendinginan untuk memastikan titik api tidak kembali muncul.
Baca Juga: BKSDA Kaltim Evakuasi 39 Satwa Terdampak Karhutla sejak Agustus 2026, termasuk 19 Orangutan





