Pekalongan, ERANASIONAL.COM – Industri batik lokal di Kota Pekalongan terus berjuang menghadapi tantangan zaman, mulai dari penurunan jumlah pelaku usaha hingga gempuran produk impor.
Momen Kauman Batik Art Festival (KBAF) yang digelar pada Minggu (25/10/2026) siang menjadi panggung konsolidasi penting bagi keberlanjutan tradisi dan bisnis batik nasional.
Acara tahunan ini dihadiri oleh jajaran pejabat nasional, di antaranya Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria, Anggota Komisi VII DPR RI Yoyok Riyo Sudibyo, serta Staf Ahli Kemenekraf RI Restog Krisna Kusuma. Ketiganya hadir untuk memberikan solusi konkret bagi para perajin lokal.
Ketua Panitia Kauman Batik Art Festival, Muhammad Fauzi Hidayat, mengungkapkan bahwa perhelatan ini dihadiri khusus oleh putra daerah yang kini memimpin lembaga riset negara.
Kunjungan ini sekaligus menjadi ajang sosialisasi berbagai program strategis BRIN bagi perajin batik Kauman.
“Alhamdulillah, siang hari ini kita kedatangan kunjungan Kepala BRIN, Bapak Arif Satria yang notabene beliau kelahiran Kampung Batik Kauman. Jadi kami memang undang secara khusus dan kita juga bekerjasama dengan BRIN,” ujar Fauzi di lokasi festival.
Selain Kepala BRIN, pihak panitia juga menghadirkan perwakilan legislatif dan kementerian untuk membedah akar persoalan yang dihadapi oleh para pelaku UMKM saat ini.
“Selain Kepala BRIN, siang ini kami juga mengundang Anggota Komisi VII DPR RI Bapak Yoyok Riyo Sudibyo, dan Staf Ahli Bidang Pendanaan dan Pembiayaan Kemenekraf RI Bapak Restog Krisna Kusuma,” tambahnya.
Fauzi menyoroti tren penurunan jumlah pelaku UMKM batik di sentra Kauman yang dipicu oleh dampak krisis pascapandemi serta kurangnya minat generasi muda untuk melanjutkan usaha orang tua.
“Untuk UKM di Kauman sendiri saat ini ada sekitar 40. Memang itu jumlahnya ada arah menurun, karena beberapa ada yang tidak meneruskan usaha orang tuanya, dan beralih profesi. Dulu, jumlah UKM di sini sekitar 50 lebih,” jelasnya.
Menanggapi fenomena tersebut, paguyuban berkomitmen untuk terus memantik semangat anak muda agar kembali melirik potensi bisnis dan nilai kelestarian batik lokal.
“Nah itu sebenarnya PR kami juga di paguyuban bagaimana supaya generasi muda di Kauman ini kembali mencintai batik, ada keinginan untuk melestarikan batik, baik dari sisi bisnis dan pelestariannya. Semoga dari acara ini bisa meningkatkan kecintaan generasi muda,” harapnya.
Perlindungan Negara terhadap Gempuran Impor
Sementara itu, Anggota Komisi VII DPR RI, Yoyok Riyo Sudibyo, menekankan pentingnya ruang dialog seperti sarasehan festival ini untuk membedah persoalan mendasar perbatikan di Pekalongan.
“Sarasehan kayak gini ini sebetulnya untuk mempertemukan beberapa orang yang punya seni kreatif. Orang-orang seni kumpul untuk membedah bareng-bareng lah gimana caranya agar supaya batik itu bisa berkembang lagi,” tutur Yoyok.
Ia mengenang kejayaan perbatikan Pekalongan beberapa tahun silam saat roda perekonomian warga berputar sangat cepat seiring dengan tingginya aktivitas produksi batik.
“10-5 tahun yang lalu batik di Pekalongan booming kan. Sampai ada istilah bahwa selama sungai di Pekalongan itu berwarna, berarti orang Pekalongan uangnya jalan. Ini fakta ya,” kenangnya.
Namun, Yoyok menepis anggapan bahwa penurunan industri batik semata-mata disebabkan oleh pandemi atau krisis global, melainkan akibat derasnya arus barang impor dari luar negeri.
“Semenjak adanya perdagangan bebas, faktanya adalah bahwa ada penurunan yang sangat luar biasa tentang batik ya. Kita enggak bisa hanya menyalahkan adanya Covid lah, krisis lah. Tapi faktanya ada serbuan barang dari luar tadi melalui pelabuhan,” tegas Yoyok.
Sebagai anggota dewan, ia menuntut keberpihakan dan regulasi ketat dari pemerintah untuk membendung masuknya produk tekstil asing yang merusak pasar batik lokal.
“Jadi yang bertanggung jawab sebetulnya adalah bagaimana kebijakan pemerintah yang benar-benar menaungi batik kita sendiri. Saya sebagai DPR menilai pemerintah belum banyak berpihak,” kritiknya.
Nilai Tambah Fesyen dan Ceruk Pasar Spesifik
Dari sudut pandang pemerintah pusat, Staf Ahli Bidang Pendanaan dan Pembiayaan Kemenekraf RI, Restog Krisna Kusuma, menyambut positif festival ini sebagai sarana penguatan ekosistem kriya dan fesyen di daerah.
“Untuk acara ini kami support dari pemerintah pusat khususnya di Direktorat Kriya. Pekalongan ini kan kota batik nomor satu di Indonesia dan jadi benchmark dari batik-batik lain, bahkan sudah masuk UNESCO. Ekosistemnya sudah sangat mature,” papar Restog.
Kemenekraf mendatangkan narasumber pembatik modern untuk saling berbagi pandangan mengenai tren pewarnaan dan desain yang diminati pasar masa kini.
“Kami hadirkan narasumber pembatik yang lebih modern untuk sharing tukar pikiran, mendiskusikan tren ke depan seperti apa dan pewarnaan apa yang kira-kira akan laku. Jadi kita tidak asal buat kegiatan, tapi disesuaikan kebutuhan di sini,” terangnya.
Menghadapi persaingan barang luar negeri, Restog menyarankan perajin lokal untuk beralih ke produk bernilai tambah tinggi (high value-added) serta memajukan keunggulan batik tulis.
“Gempuran itu memang tidak bisa kita tahan, tapi bisa kita hindari. Kalau batik cuman kain doang paling jadi sarung, tapi kalau dikemas menjadi fashion design baju misalnya, ini akan sangat lebih menarik dan punya nilai jual tinggi,” urainya.
Ia optimis produk dalam negeri mampu bersaing jika menyasar ceruk pasar yang tepat, mengingat produk impor umumnya mengandalkan batik printing massal.
“Mereka kebanyakan kan batik printing karena mass production. Jadi kita ambil ceruk-ceruk market yang memang bisa diterima oleh masyarakat Indonesia,” tambah Restog.
Sentuhan Teknologi dan Inovasi Sains BRIN
Sebagai pilar utama penguatan teknologi, Kepala BRIN Arif Satria memaparkan komitmen lembaga riset negara dalam mengintervensi industri UMKM batik agar bertahan di tengah arus modernisasi.
“BRIN salah satu misinya adalah bagaimana memperkuat UMKM di Indonesia. Salah satu UMKM potensial adalah batik, sehingga kita berusaha memperkuat UMKM dengan riset dan inovasi,” ujar Arif.
Dalam ajang KBAF 2026 ini, BRIN memamerkan lima hasil riset unggulan yang siap diterapkan secara masif oleh para perajin batik di Pekalongan.
“Ada lima hasil riset terkait batik. Pertama Biopas, malam batik dari limbah sawit yang ramah lingkungan dan berkualitas lebih bagus. Kedua, teknologi radiasi gamma untuk mengatasi masalah limbah batik yang sudah diterapkan di Pekalongan sejak 2021,” bebernya.
Selain itu, BRIN menghadirkan pewarna alami Ecoastra dari daun ketapang, secang, dan mangrove yang menghasilkan kain antibakteri serta anti-UV, plus inovasi serat daun nanas sebagai bahan tekstil baru.
“Yang terakhir Carbon Dots, yaitu penanda keaslian batik dengan material nano fluorescence. Dengan teknologi ini kita bisa mendeteksi mana batik tiruan dan mana batik asli,” ungkap Arif secara rinci.
Arif menegaskan bahwa modernisasi sains sangat vital bagi kelangsungan industri kriya tradisional agar tidak tergerus persaingan global.
“Jadi batik pun, meskipun dikelola oleh UMKM, harus diperkuat dengan teknologi dan sains. Tugas BRIN adalah memperkuat sisi teknologinya agar batik Pekalongan semakin survive di tengah gempuran produk impor,” tegasnya.
Ia mengundang seluruh pelaku usaha batik di Pekalongan untuk aktif berkolaborasi dan menyampaikan kendala teknis produksi agar menjadi bahan riset BRIN selanjutnya.
“Saya harapkan hasil dari festival ini para pelaku industri batik Pekalongan menugaskan BRIN. Tolong di-riset ini dan itu. Kami justru senang kalau masyarakat datang ke BRIN memberikan tugas untuk melayani masyarakat dengan teknologi baru,” tutup Arif. (em-aha)





