JAKARTA, DISWAY.ID-- Sebagai bentuk dari komitmennya dalam memperbarui pengetahuan, serta mengasah keterampilan dalam menangani berbagai kasus saraf dan otak, Mayapada Hospital Jakarta Selatan (MHJS) dengan bangga kembali melaksanakan Mayapada Neuro Connect 2026, pada Sabtu (24/10).
Dalam agenda yang berlangsung pada 24–25 Oktober 2026 tersebut, Mayapada Hospital pun turut menunjukkan semangatnya dalam tema "Dari Mayapada untuk Indonesia", lewat simposium dan workshop medis yang diikuti oleh lebih dari 2.000 dokter dari berbagai wilayah di Indonesia.
BACA JUGA:Pemerintah Perketat Pengawasan MBG : 1.288 SPPG Ditutup, 353 Kepala Diberhentikan, Rp311 M Kembali ke Negara
Dalam penuturannya sendiri, Hospital Director Mayapada Hospital Jakarta Selatan Fiktorius Kuludong menilai bahwa kehadiran Mayapada Neuro Connect 2026 juga turut menjadi wadah bagi para dokter untuk memperkuat kolaborasi lintas spesialis dalam menangani berbagai kasus saraf dan otak.
"Bagi kami, inovasi dan kemajuan layanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi medis, tetapi juga oleh keahlian tenaga medis, kolaborasi multidisiplin, serta penerapan standar mutu dan keselamatan pasien," ucap Fiktorius.
Tidak hanya itu, kegiatan ini juga menghadirkan demonstrasi teknik bedah saraf minimal invasif dan prosedur berbantuan robot, serta praktiklangsung (hands-on) bedah saraf pada kadaver bagi dokter spesialis bedah saraf.
BACA JUGA:Karang Taruna DKI Dorong Kader Berperan Aktif Kurangi Masalah Sosial
"Untuk itulah, kami hadirkan sebagai wadah bagi para dokter untuk memperbarui pengetahuan. Prinsip inilah yang terus kami terapkan di MHJS sebagai rumah sakit yang telah meraih akreditasi internasional Joint Commission International (JCI)," pungkas Fiktorius.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (PERDOSNI) Abdul Wahid Indrajaya turut mengapresiasi penguatan jalinan kolaborasi lewat Mayapada Neuro Connect 2026 tersebut.
Bukan tanpa alasan. Menurutnya, kolaborasi sendiri juga merupakan langkah penting dalam peningkatan kompetensi dokter dalam menjawab tantangan penanganan penyakit neurologis di Indonesia, termasuk stroke yang masih memiliki angka kematian mencapai sekitar 337.000 jiwa per tahun.
"Kondisi ini menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan penguatan layanan neurologi yang tidak hanya didukung teknologi medis, tetapi juga keahlian dokter dan kolaborasi lintas disiplin," tegas Indrajaya.
Untuk itulah, dirinya menilai bahwa partisipasi aktif para dokter dari berbagai wilayah Indonesia menunjukkan besarnya kebutuhan terhadap forum ilmiah yang mempertemukan perkembangan ilmu kedokteran dengan pengalaman praktik klinis.
BACA JUGA:Lirik Lagu DESERVE - BABYMONSTER Lengkap Makna dan Terjemahan, Cinta yang Belum Hilang Saat Hubungan Berakhir
"Inisiatif seperti ini diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas penanganan pasien neurologi di Indonesia," ungkapnya.
Di sisi lain, Mayapada Hospital Jakarta Selatan telah diakui sebagai rumah sakit siaga stroke oleh World Stroke Organization (WSO), organisasi global yang menilai mutu penanganan stroke di seluruh dunia.
- 1
- 2
- »





