YOGYAKARTA - Alih-alih terus bergantung pada pinjaman online (pinjol), generasi muda, khususnya Generasi Z dan milenial didorong memanfaatkan koperasi untuk mengembangkan usaha dan memperluas peluang ekonomi. Melalui bisnis yang dikelola bersama, koperasi dinilai dapat menjadi jalan untuk membuka lapangan kerja sekaligus memberikan sumber pendapatan bagi anggotanya.
Hal ini disampaikan Direktur Umum dan Hukum LPDB Koperasi, Deva Rachman. Ia menyampaikan koperasi tak sekadar menjadi tempat simpan pinjam, tetapi juga bisa menjadi salah satu solusi untuk menjawab kebutuhan lapangan kerja di Indonesia.
Baca Juga
Kuliah Gratis, UAD Ingatkan PTS Siap-Siap Gigit Jari Kehilangan Mahasiswa
Viral Sepekan di Yogya: UGM Bantah Penarikan Biaya Rp129.500 di Wisdom Park
Suhu Yogyakarta Tembus 35,2 Derajat, Warga Mengeluh Gerah dan Bikin Pusing
"Koperasi jadi solusi bagi Indonesia yang saat ini membutuhkan tenaga kerja. Bagaimana koperasi menjadi solusi lapangan kerja bagi anak muda Gen Z dan milenial. Kami harap koperasi yang melibatkan anak muda bisa terus berkembang," kata Deva saat menyampaikan sambutannya di acara media gathering di Yogyakarta, Senin (12/10/2026) malam. Deva menilai, potensi koperasi perlu dimanfaatkan untuk memperluas kesempatan ekonomi, termasuk bagi pekerja lepas (freelance), pelaku industri kreatif, komunitas olahraga, hingga kelompok profesi yang ingin mengembangkan usaha bersama. .rec-desc {padding: 7px !important;} Menurutnya, koperasi memungkinkan anggota menghimpun potensi dan sumber daya untuk membangun bisnis, memperluas pasar, serta memperoleh keuntungan yang dibagikan melalui Sisa Hasil Usaha (SHU) sesuai ketentuan koperasi. Ia mencontohkan, komunitas yang memiliki anggota dalam jumlah besar dapat mengembangkan usaha melalui koperasi. Suporter sepak bola, misalnya, tidak hanya menjadi konsumen atau pendukung klub, tetapi juga berpotensi membangun kegiatan bisnis bersama. Kemudian, Deva juga menyinggung klub sepak bola besar seperti FC Barcelona dan Bayern Munchen sebagai contoh bagaimana model kepemilikan berbasis anggota dapat berkembang dalam industri olahraga. Menurutnya, komunitas suporter di Indonesia juga memiliki potensi ekonomi apabila dikelola melalui model bisnis yang terorganisasi. "Bayangkan, FC Barcelona dan Bayern Munchen itu adalah koperasi. Dan mereka bisa sampai sebesar itu bahkan membuat tim yang sebesar itu dan membayar pemain-pemain seharga bola itu dari koperasi," ujarnya.