Singgah Sejenak Mencecap Keramahtamahan Kampung Bena di Ngada

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Peluh, letih, serta lutut yang nyut-nyutan seolah menguap ketika Emiliana Gopa (50) dan rombongan wisata religi Camino de Flores menapakkan kaki di Kampung Bena, Ngada, Nusa Tenggara Timur. Rute yang curam dan berliku terbayar tuntas oleh keindahan sa’o atau rumah adat, batuan megalitik, dan keramahan warga setempat.

Tanta Emi, begitu ia disapa, adalah pemandu wisata asli Bena yang telah berlisensi. Sejak dua pekan lalu, ia dan warga setempat dengan penuh semangat menyiapkan penyambutan rombongan Camino de Flores.

Wisata religi ini terinspirasi dari rute ziarah rohani bersejarah Camino de Santiago dari Perancis ke Spanyol. Camino de Flores perdana digelar pada 23-27 Oktober 2026 dengan mengambil etape tengah Ngada-Nagekeo-Ende sepanjang 70 kilometer.

Emi dan rombongan berjalan dengan penuh semangat menuju Kampung Bena. Namun, mereka tetap berhati-hati agar tidak tergelincir.

Perjalanan itu ditemani keindahan Gunung Inerie. Gunung berapi berbentuk kerucut dengan ketinggian 2.245 meter di atas permukaan laut tersebut sekaligus menjadi logo Camino de Flores.

Selembar kain tenun ikat dikalungkan ke leher setiap peserta yang tiba di Kampung Bena. Kain itu menjadi simbol bahwa mereka diterima dengan tangan terbuka dan dalam semangat persaudaraan.

Kehangatan semakin lengkap dengan masakan yang dihidangkan di sa’o. Warga menyajikan hasil kebun sendiri, seperti nasi jagung dan nasi kacang, tumis pucuk labu dan daun singkong, serta sup brenebon atau kacang merah.

Bumbu dapur sebagai penyedap rasa juga diolah dari kebun sendiri. Dua di antaranya serai dan daun jeruk purut. Tak lupa, rombongan disuguhi air kelapa muda sebagai pelepas dahaga.

”Biar sederhana, ini rasa asli dari tanah kami,” tutur Emi.

Baca JugaSemua Melebur di Camino de Flores
Napas pascagempa

Kehadiran rombongan Camino de Flores sangat berarti bagi warga Kampung Bena. Hal itu menjadi penanda bahwa kampung tradisional tersebut telah pulih dan siap kembali menyambut wisatawan.

Pemulihan ini tak lepas dari dampak Gempa Flores pada 15 Agustus 2026. Rentetan gempa bumi menyisakan trauma sekaligus melumpuhkan roda perekonomian lokal.

Banyak wisatawan mancanegara maupun domestik membatalkan rencana perjalanan. Sebagian bahkan memilih langsung berbalik arah setelah berlibur di Labuan Bajo, Manggarai Barat.

Dampaknya langsung terasa. Perkampungan tradisional dengan 54 sa’o dan deretan batu megalitik yang dirawat secara swadaya oleh warga itu menjadi senyap.

”Waktu gempa itu sepi sekali. Tamu-tamu takut, banyak yang langsung balik,” kata Emi.

Peserta tak hanya singgah dan menikmati keindahan. Sebagian membeli kain tenun, tas bere dari anyaman lontar atau pandan, gelang, maupun cendera mata lain yang digantung di beranda rumah warga.

”Kalau ada tamu yang datang dan membeli hasil tangan warga, itu berkat yang sangat besar,” tutur Emi.

Camino de Flores perdana juga meninggalkan satu kesan berharga, yakni pepatah di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Perjalanan dengan berjalan kaki menelusuri jantung kebudayaan Ngada tak hanya menuntut ketahanan fisik. Siapa pun yang melangkah di tanah adat wajib menjunjung etika dan kerendahan hati.

Kampung adat bukan sekadar lanskap pariwisata, melainkan ruang relasi hidup antara manusia, tanah, dan para leluhur.

Baca JugaPascagempa Flores, Pariwisata NTT Berangsur Membaik
Rumah sendiri

Camino de Flores: The Sacred Journey of Flores dirancang sebagai wisata religi Katolik. Perjalanan dengan berjalan kaki ini menghubungkan berbagai situs religi, desa wisata, lanskap alam, serta tradisi budaya yang tumbuh di tengah kehidupan masyarakat.

Inisiator Camino de Flores, Mari Elka Pangestu, mendapatkan banyak pengalaman berkesan selama perjalanan di Ngada dan Nagekeo. Warga, khususnya anak-anak, kerap menyapa dan menyemangati rombongan.

Mereka juga memberikan sambutan hangat di titik-titik kegiatan, seperti Wolowio, Beiposo, Bena, dan Mataloko di Ngada, serta Gako dan Nangaroro di Nagekeo. Sambutan hangat komunitas lokal menjadi bagian penting karena memperkaya pengalaman para peserta.

”Sangat tersentuh dengan keramahtamahan. Banyak interaksi dengan warga, kami disambut dengan sukacita. Rasanya diterima di rumah sendiri,” ujar Mari, Minggu (25/10/2026).

‎Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini merasakan hal yang sama. Menurut dia, berjalan kaki dari satu titik ke titik lain memberikan sudut pandang berbeda dalam mengenal Flores.

Pengalaman itu memiliki daya tarik tersendiri, khususnya bagi wisatawan yang mencari perjalanan mendalam dan bermakna. Potensi tersebut dapat dikembangkan sebagai pilihan wisata yang memadukan perjalanan spiritual, keindahan alam, budaya, dan interaksi dengan warga setempat.

Pengalaman wisata seperti itulah yang diharapkan Pelaksana Tugas Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores Andhy MT Marpaung dapat mendorong persebaran wisatawan ke berbagai wilayah di Flores. Persebaran wisatawan juga diharapkan dapat meningkatkan lama tinggal mereka.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gunung Ibu Erupsi Pagi Ini, Kolom Abu Membubung 500 Meter
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
KAI Tanjungkarang Tambah 196 Penjaga Perlintasan Kereta Api, Total 380 Petugas Amankan 49 Titik
• 10 jam lalupantau.com
thumb
Persekabpas Fast Launching Tim Menuju Liga 3 Nusantara, Ribuan Sakera Mania Memadati Pandaan
• 4 jam laluberitajatim.com
thumb
Gandrung Sewu 2026 Digelar Malam Hari, 1.300 Penari Berpendar di Banyuwangi
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
BEI Libatkan Akademisi hingga Investor Asing untuk Komite HSC
• 48 menit lalumedcom.id
Berhasil disimpan.