Kasih sayang merupakan salah satu jalan untuk meraih rahmat Allah SWT. Islam mengajarkan umatnya agar menebarkan kasih sayang kepada sesama, termasuk anak-anak, orang yang lemah, dan seluruh makhluk di bumi. Sikap penuh kasih saying dan peka terhadap sesama, mencerminkan kelembutan hati, tetapi juga menjadi bagian penting dari akhlak yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah yang akrab disapa Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan, suatu ketika, cucu Rasulullah SAW sedang bermain di hadapan beliau. Rasulullah SAW kemudian menggendong anak itu dan menciumnya. Seorang sahabat yang baru datang dari kampung melihat kejadian tersebut dengan heran. Ia lalu bertanya, “Engkau mencium cucumu, ya Rasulullah?”
- Mourinho Tegaskan Real Madrid Bermain untuk Bidik Gelar La Liga Usai Tekuk Barcelona
- Penundaan Wajib Halal dan Momentum Penguatan Pendampingan Halal di Kawasan Transmigrasi
- Danantara Restrukturisasi Besar-besaran 1.074 BUMN
Rasulullah SAW memandang sahabat itu dengan heran, lalu balik bertanya, “Apakah engkau tidak pernah mencium anak dan cucumu?”
Maka Rasulullah SAW bersabda, "Orang-orang yang penyayang (mempunyai rasa rahmat) niscaya akan disayangi (dirahmati) juga oleh Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih). Sayangilah siapa saja yang berada di bumi, niscaya Dzat yang berada di langit akan menyayangi kalian."
.rec-desc {padding: 7px !important;}Disebutkan juga dalam sebuah hadis bahwa Allah SWT menciptakan rahmat sebanyak 100 bagian. Namun, yang diturunkan ke dunia ini baru satu bagian, yang kini tersebar di antara jin, manusia, binatang, dan serangga. Dengan rahmat yang satu itulah mereka saling mengasihi dan menyayangi. Bahkan, dengan rahmat itu pula induk binatang menyusui anaknya.
Adapun 99 bagian rahmat lainnya, menurut hadits tersebut, disediakan Allah bagi hamba-Nya untuk diterima pada Hari Kiamat.
Lawan dari rasa rahmat (rasa penyayang) adalah kebencian, hati yang sempit, dada yang lapangannya tertutup, dendam, dan kesumat. Hal-hal demikian tidak sepatutnya bersemayam dalam hati orang yang beriman. Itulah yang ditegaskan pada ujung ayat, bahwa pengajaran dari Tuhan merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ
Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Alquran) dari Tuhanmu, penyembuh bagi sesuatu (penyakit) yang terdapat dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang mukmin. (QS Yunus Ayat 57)
Rahmat (kasih sayang) itulah kekayaan terbesar dalam hati seorang mukmin, yang nilainya tidak dapat diukur dengan benda. Apa gunanya kaya raya dengan harta benda, emas, dan perak jika hati kosong dari rahmat? Segala amal ibadah yang dikerjakan pun akan kehilangan ruhnya apabila hati kosong dari rahmat. Karena itu, ayat selanjutnya kembali menegaskan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS Yunus Ayat 57)
Alam terbuka untuk pemilik hati yang penuh kasih sayang
Bersukacitalah engkau apabila Allah telah melimpahkan petunjuk-Nya kepadamu. Limpahan karunia Ilahi meliputi seluruh hamba-Nya, tetapi karunia itu dirasakan berlipat ganda oleh orang-orang yang beriman. Limpahan karunia Ilahi tersebut diiringi pula dengan rahmat. Dalam hati seorang mukmin, sebagaimana dijelaskan pada ayat sebelumnya, tumbuhlah rahmat itu. Rahmat yang tumbuh dalam hati seorang mukmin mendapat sambutan pula dari Allah. Kepada orang yang memiliki hati penuh rahmat (kasih sayang), Allah pun melimpahkan rahmat-Nya.
Maka, bergembiralah engkau karena dengan demikian cita-citamu dalam hidup telah tercapai. Alam ini seakan-akan telah dibukakan untukmu! Sebab, rahmat yang tumbuh dalam dirimu telah bertemu dengan rahmat yang turun dari langit. Bergembiralah, karena tidak ada kekayaan yang lebih besar daripada itu.
"Harta benda dunia dicari dan dikumpulkan. Namun, pada suatu saat, harta itu akan meninggalkan kita atau kita yang meninggalkannya. Sebaliknya, rahmat yang telah terjalin itu tidak akan hilang untuk selama-lamanya. Dengan demikian, diri pun siap menjalani kehidupan dan menghadapi kematian," tulis Buya Hamka.
Karena itu, pada akhir ayat ditegaskan, "Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS Yunus Ayat 57)
Jika orang-orang yang tidak beriman mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dan bersukacita atas apa yang telah mereka kumpulkan, maka engkau, wahai orang mukmin, hendaklah mengumpulkan iman, amal saleh, karunia, dan rahmat Ilahi. Kumpulkanlah pedoman hidup, tuntunan Tuhan, serta petunjuk yang kekal. Itulah kekayaan sejati yang harus diutamakan.
Sebab, apabila karunia dan rahmat Ilahi itu hilang, runtuh dan hancurlah nilai segala benda yang telah dikumpulkan. Ini bukan berarti bahwa mengumpulkan harta benda dilarang. Namun, manusia diperintahkan untuk terlebih dahulu mengumpulkan karunia dan rahmat Ilahi agar harta benda yang dimiliki memiliki nilai dan manfaat.
Sebagai orang yang beriman, seorang mukmin percaya bahwa kehidupan tidak berhenti sampai di dunia ini saja, melainkan berlanjut ke kehidupan akhirat. Karena itu, harta benda yang dikumpulkan dapat dijadikan jembatan untuk meraih kebahagiaan akhirat. Kebahagiaan akhirat merupakan kelanjutan dari karunia dan rahmat yang telah diterima di dunia.




