Mitigasi Metana Berpotensi Tambah Pasokan Gas, Pertamina Dorong Kolaborasi di Kawasan

wartaekonomi.co.id
1 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Sanur, Bali -

PT Pertamina (Persero) mendorong penguatan kolaborasi negara-negara ASEAN untuk mempercepat pengurangan emisi metana di sektor minyak dan gas bumi. Upaya ini menjadi bagian penting dalam mendukung agenda dekarbonisasi, meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya energi, serta memperkuat ketahanan energi di kawasan.

Hal tersebut mengemuka dalam forum The 51st ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) di Bali, yang mempertemukan para pemangku kepentingan sektor energi untuk membahas tantangan dan peluang pengelolaan emisi metana, Senin (26/10/2026). 

Senior Expert I Sustainability Strategy PT Pertamina, Wahyu Dwi Astuti, menjelaskan bahwa perseroan telah menjalankan komitmen pengurangan emisi metana secara sukarela dan memperoleh dukungan dari mitra internasional, termasuk Bank Dunia dan Japan Organization for Metals and Energy Security (JOGMEC). 

“Jika kita ingin mengurangi emisi di kawasan ASEAN, kita harus bergerak maju secara bersamaan di semua sektor tersebut,” ujar Astuti dalam diskusi.

Ia juga menekankan pentingnya peran forum ASCOPE sebagai katalisator untuk mendorong percepatan inisiatif pengurangan emisi metana, termasuk melalui penguatan kebijakan nasional dan pertukaran pengalaman antarnegara. Menurutnya, upaya mitigasi perlu dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan kontribusi berbagai sektor terhadap emisi di kawasan ASEAN.

Berdasarkan paparan dalam forum tersebut, sektor energi menyumbang sekitar 26% emisi di ASEAN, sementara sektor pertanian dan limbah menyumbang sekitar 46%. Adapun sektor minyak dan gas berkontribusi sekitar 10% dari total emisi yang dibahas dalam pemaparan tersebut.

"Petronas telah menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Mereka juga memiliki faktor pendorong yang jelas, termasuk dorongan dari regulasi nasional. Saya berharap forum ini dapat menjadi faktor pendorong atau katalisator untuk mempercepat berbagai inisiatif pengurangan emisi,” tambahnya.

Sementara itu, Research Analyst ASEAN Centre for Energy (ACE), Shania Esmeralda Manaloe, memaparkan hasil kajian Methane Policy Readiness Assessment Report melalui proyek OMEGA yang mencakup Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Kajian tersebut mengidentifikasi kesenjangan kebijakan pemerintah dan tantangan yang dihadapi perusahaan migas dalam mengurangi emisi metana.

Hasil kajian menunjukkan perusahaan migas di ASEAN cenderung bergerak lebih cepat dibandingkan pembentukan regulasi pemerintah di negaranya. Namun, perusahaan masih perlu memperkuat sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (MRV), inventarisasi emisi, serta tata kelola dan akuntabilitas agar target pengurangan emisi dapat diterapkan secara konsisten dalam kegiatan operasional.

“Tanpa inventarisasi data yang memadai, perusahaan tidak akan dapat menangani emisi metana secara efektif sejak awal. Oleh karena itu, penyediaan data yang akurat merupakan langkah pertama yang sangat penting,” kata Shania.

Dari perspektif global, penasihat hukum dan analis regulasi International Energy Agency (IEA), Sadhika Gulati, menyoroti bahwa mitigasi metana tidak hanya berdampak pada iklim, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi melalui pemulihan gas yang selama ini terlepas ke atmosfer atau terbuang melalui kegiatan operasional migas

Dalam paparannya mengenai Global Methane Tracker 2026, IEA memperkirakan emisi metana dari sektor bahan bakar fosil mencapai sekitar 124 juta ton pada 2025.

Baca Juga: UMKM Binaan Pertamina Hadirkan Manfaat Nyata, dari Pelestarian Budaya hingga Pemberdayaan Masyarakat

Baca Juga: Perkuat Ketahanan Energi Nasional, Pertamina Kaji Teknologi Distribusi Gas Bersama Mitra Jepang

Secara global, IEA memperkirakan upaya mitigasi emisi metana dari operasi minyak dan gas berpotensi meningkatkan ketersediaan gas di pasar hingga hampir 100 miliar meter kubik pada 2026. 

Sementara itu, penghapusan pembakaran gas suar non-darurat (non-emergency flaring) juga berpotensi membuka tambahan volume gas sekitar 100 miliar meter kubik lagi.

“Di tengah krisis energi yang sedang berlangsung, penanganan emisi metana dapat membantu negara-negara meningkatkan keamanan pasokan gas mereka,” tutup Sadhika.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bek Barcelona: Kami Tampil Oke, tapi Madrid Mampu Manfaatkan Peluang Sekecil Apa pun
• 3 jam lalumedcom.id
thumb
Bea Cukai, BNN, dan Polri Gerebek Pabrik Sabu di Aceh, 10 Orang Diamankan Termasuk Dua WN China
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Kasus Hilangnya Ibu dan Anak asal Bogor di Madiun, Suami Siri Diduga Terlibat Pembunuhan dan Mutilasi
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Mendikdasmen: Tunjangan Guru Non-ASN Sudah Cair 100 Persen Hari Ini
• 14 menit lalukumparan.com
thumb
Kedubes Singapura Bantah Ada Pertemuan dengan Dino Patti Djalal dan Saiful Mujani
• 23 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.