Riset dan Teknologi Pacu Pengembangan Industrialisasi Indonesia

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Inovasi teknologi Indonesia harus didukung riset dan pengembangan berkelanjutan di tengah perubahan geopolitik dan pesatnya perkembangan akal imitasi. Upaya tersebut dinilai penting untuk mendorong industrialisasi dan membantu Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah. 

Hal ini mengemuka dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) pada hari pertama penyelenggaraannya di Hotel Fairmont Jakarta, pada Senin (26/10/2026). 

Dean and Chief Executive Officer Asian Development Bank Institute (ABDI) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro menyatakan, model pertumbuhan ekonomi di negara-negara ASEAN harus didasarkan pada adaptasi teknologi, terutama dengan akal imitasi atau AI untuk menghasilkan nilai tambah lebih tinggi. 

Menurut Bambang, perubahan geopolitik dan geoekonomi telah mengubah tata perdagangan, investasi, dan rantai pasok global. Di tengah situasi ini, Indonesia menghadapi tantangan berbeda untuk mengembangkan industri dan meningkatkan daya saing ekonomi.

Bambang menilai, adaptasi teknologi perlu dilakukan tidak hanya di sektor manufaktur. Lebih jauh, adaptasi tekonologi perlu dilakukan pada sektor pertanian dan jasa. Upaya itu harus didukung oleh riset dan pengembangan (research and development) dan inovasi  untuk menambah nilai produk dan layanan.

Untuk itu forum tersebut berupaya menghubungkan berbagai pihak Universitas, pengembang teknologi, dan investor untuk bersinergi bersama. Tujuan utamanya yakni agar terjadi hilirisasi riset dan pengembangan teknologi. 

Baca JugaSepatu BRIN dan Jalan Panjang Hilirisasi Riset Indonesia

“Meski kita jauh tertinggal dari negara-negara lain di Asia, saat ini merupakan waktu yang tepat bagi Indonesia untuk mendongkrak inovasi teknologi melalui riset dan pengembangan (research and development),” ujar Bambang.

Managing Director Chief Economist Danantara Indonesia, Reza Yamora Siregar yang juga hadir dalam forum itu menekankan pentingnya pertumbuhan teknologi berkelanjutan. Energi dan sumberdaya di Indonesia merupakan kelebihan negara Indonesia yang dapat menjadi sumber pertumbuhan berkelanjutan. 

Upaya ini terutama didorong oleh komitmen pemerintah terhadap energi terbarukan yang pertumbuhannya sangat pesat. Sebagai contoh, pertumbuhan cepat ini dapat dilihat dengan meningkatnya kendaraan listrik di Indonesia. 

Baca JugaBelajar dari Swiss, Hilirisasi Riset Butuh Investasi untuk Transfer Teknologi

Perkembangan digital perangkat keras di Indonesia berupa pusat data, komputasi awan, dan e-commerce juga memainkan peran besar di Asia Tenggara dan Asia. Karena itu posisi pusat data amat penting sebagai bagian dari infrastruktur. Lebih lanjut, ia menekankan, untuk mengembangkan inovasi, perlu adanya kolaborasi lintas sektor.

Manfaat kecerdasan buatan

Bambang juga menekankan memanfaatkan kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) dalam memudahkan pengembangan teknologi dan industri. Berdasarkan laporan Bank Dunia, dampak nyata dari kehadiran teknologi internet dan komputer membutuhkan waktu sekitar satu hingga dekade. 

Sebaliknya, kehadiran AI membawa dampak yang lebih pesat dalam waktu kurang dari satu dekade. Oleh karena itu, Bambang menekankan, masyarakat perlu bersiap untuk hidup berdampingan dengan teknologi tersebut.

Namun, tantangan yang kita hadapi bukan sekadar kehadiran kecerdasan buatan. Lebih dari itu, Indonesia kerap mengalami kegagalan inovasi teknologi akibat terjebak pada pendapatan menengah. Untuk itu, mereka menekankan perlu ada revitalisasi industri menuju produksi lebih bernilai tambah, salah satunya adalah industrialisasi teknologi. 

Bambang kembali menekankan bahwa deindustrialisasi di Indonesia masih prematur. Indonesia seringkali mengalami kegagalan inovasi akibat masih terjebak pada pendapatan menengah. 

Padahal sebelumnya Indonesia telah mengalami infusi ekonomi dimana negara kita mampu melakukan transformasi struktural dari sektor primer pertanian dan pertambangan ke sektor manufaktur. Keberhasilan ini dicapai Indonesia pada tahun 80-an dan awal tahun 90-an.

Saat itu Indonesia pernah mencapai pertumbuhan ekonomi tertinggi sebesar 8 persen pada tahun 1994-1995 karena transformasi ke sektor manufaktur. Namun, saat itu yang terjadi adalah transformasi manufaktur padat karya. 

Baca JugaCapaian Kinerja Sektor Energi dan Tambang Dinilai Belum Signifikan

Setelah terjadi krisis keuangan di negara-negara Asia, Indonesia turut mengalami industrialisasi prematur. Krisis ini telah menghancurkan sebagian sektor manufaktur. Selain itu deindustrialisasi terjadi karena adanya booming komoditas sumber daya alam.

“Kita tiba-tiba mengalami semacam amnesia singkat bahwa kita adalah negara industri, karena Indonesia tiba-tiba beralih ke sektor minyak dan gas, terutama minyak sawit dan batubara,” ujar Bambang. 

Berikutnya, pada tahun 2001, terjadi guncangan global di mana China bergabung dengan Organisasi Perdagangan Internasional (World Trade Organization/WTO).

Hal ini berdampak pada persaingan industri manufaktur global, termasuk bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia. Rantai industri menjadi terdampak, tidak hanya pada produk, tetapi juga pada rantai pasokan. 

Baca JugaManufaktur Tertekan, Penyerapan Tenaga Kerja Berpotensi Melemah

“Jadi, itulah periode yang membuat Indonesia tidak pernah benar-benar menyadari sektor manufaktur setelah krisis keuangan Asia. Bagaimana kita dapat mendukung Indonesia sebagai negara yang lebih terindustrialisasi?” ungkapnya.

Bambang menekankan, peningkatan produktivitas melalui teknologi harus berjalan beriringan dengan transisi menuju energi bersih, tanpa mengabaikan keterjangkauan dan keandalan pasokan listrik bagi industri.

Ia juga menyoroti langkah Jepang yang kembali mendorong investasi, khususnya di bidang pusat data dan kecerdasan buatan (AI), di tengah perubahan rantai pasok global.

Baca JugaInvestasi AI Dorong Keunggulan SDM Teknologi

Bambang menyatakan, keberhasilan negara-negara menghindari jebakan pendapatan menurut laporan pembangunan Bank Dunia pada tahun 2024 didasarkan pada tiga hal, yaitu investasi, suntikan dana, dan inovasi. 

Investasi akan sangat membantu ketika negara kita masih berpenghasilan rendah dan mencoba untuk meningkatkan ke level ekonomi menengah bawah. Selanjutnya, ketika ekonomi negara bergerak dari tingkat menengah ke pendapatan tinggi, yang perlu ditekankan yakni inovasi.

Pengembangan SDM 

Di balik pentingnya pengembangan industri dan manufaktur, Menteri Keuangan Suahasil Nazara yang juga turut hadir dalam forum, menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia. 

Suahasil menyatakan, Indonesia memiliki dua kekuatan utama yaitu manusia dan kekayaan alam. Ada lima hal yang harus secara konsisten negara kita lakukan, pertama adalah pengembangan sumber daya manusia.

“Semua yang kita lakukan, dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun non-APBN yaitu menggalang dana untuk masyarakat dalam sektor pendidikan dan kesehatan,” ujarnya. 

Suahasil menyatakan, belanja Kementerian Keuangan yang terbesar yakni memberi makan kepada masyarakat dan pendidikan. Sebab, infrastruktur sosial berupa pembangunan SDM merupakan hal dasar yang harus dipenuhi. Jika warga terpenuhi kebutuhan jasmani dan rohaninya, serta terbebas dari stunting atau tengkes, itu menunjang pembangunan lainnya. 

Selain itu, Suahasil menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur. Pembangunan infrastruktur tak sepenuhnya harus dibiayai negara, tetapi negara berperan penting dalam penyediaannya. Selain itu, penguatan institusi penting untuk mewujudkan tata kelola negara yang baik, dinamis, dan berkeadilan.

“Reformasi struktural adalah soal bagaimana cara kita bekerja dan bagaimana keterkaitan antara satu institusi dengan institusi lain,” ujar Suahasil menegaskan. Ia juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas sebagai bagian dari keberlanjutan pembangunan ekonomi.



Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Viral, Lamaran di Gowa Bawa Uang Panai Rp2 Miliar dan Perhiasan Mewah
• 9 jam laluharianfajar
thumb
Video: Ekspor Gas ke Singapura Dipangkas, Bahlil: Tak Langgar Kontrak!
• 9 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
BMKG: Mayoritas Kota Besar Akan Diguyur Hujan Hari Ini
• 13 jam lalunarasi.tv
thumb
RAPBD Jawa Barat 2027 Targetkan Pendapatan Rp29,35 Triliun, Rp1,67 Triliun Dialokasikan untuk Bayar Utang
• 52 menit lalupantau.com
thumb
Penumpang KRL Cekcok di Gerbong Wanita, Diturunkan di Stasiun Tebet
• 11 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.