BANDUNG, KOMPAS — Persib Bandung menyampaikan dukacita mendalam atas meninggalnya seorang suporternya, Arief Rahman Kusuma, di Jalan Raya Jakarta-Bogor Kilometer 50, Desa Cimandala, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Minggu (25/10/2026). Remaja berusia 16 tahun itu ditemukan tewas dengan luka tajam di tubuhnya.
Arief diketahui merupakan suporter Persib atau bobotoh. Ia meninggal seusai menyaksikan laga Persib melawan Garudayaksa FC di Stadion Pakansari yang dimulai pada pukul 19.00 WIB. Pertandingan berakhir sekitar pukul 21.00 WIB.
Beberapa waktu setelah pertandingan usai, Arief ditemukan tergeletak di pinggir jalan dalam kondisi tidak bernyawa dan bersimbah darah. Warga Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, itu diduga sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.
Dugaan sementara, korban dihadang orang tak dikenal dan menjadi korban kekerasan. Polisi menemukan luka pada tubuh korban, terutama di bagian punggung.
Manajemen Persib Bandung dalam keterangan tertulis menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum. Manajemen berharap kepolisian mengusut kasus tersebut secara transparan hingga tuntas serta memproses hukum pihak-pihak yang terbukti terlibat.
Manajemen Persib menegaskan, sepak bola seharusnya menjadi ruang yang mempersatukan masyarakat dengan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, rasa hormat, dan persaudaraan. Perbedaan dukungan atau rivalitas tidak semestinya berujung pada kekerasan dan hilangnya nyawa.
”Kepergian almarhum merupakan kehilangan yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan dan menjadi duka bagi keluarga besar Persib,” demikian pernyataan manajemen Persib.
Manajemen Persib juga mengajak seluruh bobotoh untuk tetap tenang, saling menjaga, dan mempercayakan penanganan kasus tersebut kepada pihak berwenang. Tidak melakukan tindakan balasan dinilai menjadi bagian penting dari upaya bersama untuk mencegah jatuhnya korban dan munculnya duka baru.
Bupati Bogor Rudy Susmanto juga menyampaikan dukacita mendalam kepada keluarga almarhum. Ia berharap Arief mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.
”Sepak bola mengajarkan kebersamaan dan kekuatan tim. Semoga hari ini menjadi tangisan terakhir seorang ibu yang kehilangan putra terbaiknya,” ungkap Rudy.
Sementara itu, Kepala Kepolisian Resor Bogor Ajun Komisaris Besar Arfan Sipayung mengatakan, pihaknya masih menyelidiki penyebab kematian ARK. Upaya tersebut dilakukan dengan mendalami kronologi kejadian, mengumpulkan keterangan dari para saksi, serta menelusuri pihak-pihak yang diduga berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Ia berharap masyarakat yang memiliki informasi terkait kejadian itu dapat menyampaikannya kepada pihak kepolisian guna membantu proses penyelidikan.
”Seluruh informasi yang diperoleh terus didalami untuk mengungkap fakta-fakta secara menyeluruh berdasarkan bukti yang sah,” kata Arfan.





