Dunia menghadapi ancaman El Niño yang berpotensi mencapai intensitas luar biasa pada akhir 2026. Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO telah memperingatkan, anomali suhu permukaan laut di Pasifik tropis dapat mencapai 3,8 derajat Celsius di atas rata-rata pada November 2026–Januari 2027.
Bagi Indonesia, peringatan ini menjadi ujian terhadap kesiapan pemerintah mengantisipasi kekeringan, krisis air, kebakaran hutan dan lahan, serta dampaknya terhadap pangan dan kesehatan masyarakat.
“Kondisi ini benar-benar berada di luar skala pemantauan yang telah kita gunakan selama empat dekade terakhir. El Niño akan mencapai puncaknya menjelang akhir tahun 2026, namun dampaknya akan terus terasa jauh setelah itu,” ujar Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo, Senin (26/10/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan ketika berbagai wilayah dunia masih menghadapi cuaca ekstrem. WMO memperkirakan penguatan El Niño akan semakin mengganggu pola suhu dan curah hujan, memperbesar risiko kekeringan di sejumlah kawasan, sekaligus meningkatkan curah hujan dan banjir di kawasan lainnya.
Namun, ancaman terbesar bukan semata-mata kekuatan fenomena iklim itu, melainkan seberapa siap pemerintah mengantisipasi dampaknya. Prakiraan yang tersedia memberi kesempatan untuk bertindak sebelum kekeringan meluas, lahan terbakar, sumber air menyusut, atau gagal panen terjadi.
“El Niño yang dahsyat tidak harus berujung pada bencana kemanusiaan. Kita memiliki ilmu pengetahuan, prakiraan, dan sistem peringatan dini untuk menyelamatkan nyawa serta melindungi mata pencaharian. Yang kita butuhkan saat ini adalah tindakan tegas, terutama untuk melindungi komunitas yang paling rentan,” kata Saulo.
Pesan WMO sangat jelas. Prakiraan iklim harus menjadi dasar tindakan, bukan sekadar informasi yang dipublikasikan ketika ancaman sudah terlihat.
Peringatan global itu perlu dibaca bersama prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai musim hujan Indonesia 2026/2027. Meskipun sebagian besar wilayah diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026, kedatangannya di banyak daerah diprediksi lebih lambat daripada kondisi normal.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, musim hujan rata-rata di Indonesia diperkirakan mundur sekitar dua hingga tiga dasarian atau 20–30 hari dari waktu normal. “Sebagian wilayah Indonesia memasuki musim hujan pada November hingga Desember,” kata Faisal, dalam laporan mengenai prediksi musim hujan 2026.
Bagi kawasan gambut dan hutan yang mengering, keterlambatan hujan juga dapat memperpanjang ancaman kebakaran.
Pergeseran tersebut bukan sekadar perubahan kalender. Bagi wilayah yang bergantung pada hujan untuk pertanian, keterlambatan awal musim hujan dapat mengganggu jadwal tanam dan memperpanjang periode ketika kebutuhan air harus dipenuhi dari sumber lain. Bagi kawasan gambut dan hutan yang mengering, keterlambatan hujan juga dapat memperpanjang ancaman kebakaran.
BMKG memperkirakan 529 Zona Musim (ZOM), yang mencakup 61,08 persen luas daratan Indonesia, mengalami awal musim hujan yang mundur. Hanya 26 ZOM atau 2,15 persen luas daratan yang diperkirakan mengalami awal musim hujan sesuai normalnya.
Musim hujan diprediksi mulai pada November di 185 ZOM, yang mencakup 24,66 persen luas daratan Indonesia. Pada Desember, sebanyak 266 ZOM atau 17,31 persen luas daratan diperkirakan memasuki musim hujan. Pergerakannya dimulai dari Sumatera bagian utara dan berlanjut secara bertahap ke wilayah lainnya.
Sementara itu, puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Desember 2026 di 155 ZOM, Januari 2027 di 162 ZOM, dan Februari 2027 di 190 ZOM. Sebagian besar wilayah juga diprediksi mengalami puncak musim hujan yang mundur.
Ada satu hal yang juga perlu dicermati. BMKG memperkirakan akumulasi curah hujan selama musim hujan berada dalam kategori normal di 510 ZOM, mencakup 69,76 persen luas daratan Indonesia. Akan tetapi, 482 ZOM atau 51,90 persen luas daratan diprediksi mengalami musim hujan yang lebih pendek daripada normalnya.
Kondisi ini tidak berarti seluruh Indonesia akan mengalami kekeringan ekstrem. Namun, musim hujan yang datang terlambat dan berlangsung lebih pendek dapat mempersempit waktu tersedianya air, mengganggu kalender tanam, dan meningkatkan tekanan terhadap wilayah yang sudah mengalami defisit air.
Kategori curah hujan musiman yang normal pun tidak menjamin distribusi hujan merata setiap pekan atau setiap bulan. Hujan yang terkonsentrasi dalam periode singkat masih dapat diikuti jeda kering yang panjang. Sebaliknya, hujan lebat dalam waktu singkat dapat memicu banjir dan longsor di lokasi tertentu.
Karena itu, angka rata-rata musiman perlu diterjemahkan menjadi informasi yang lebih operasional: kapan hujan diperkirakan mulai turun di suatu kabupaten, berapa lama jeda kering yang mungkin terjadi, bagaimana kondisi waduk dan sumber air, serta kapan petani sebaiknya mulai menanam.
Dalam laporan "Global Seasonal Climate Update" edisi Oktober 2026, WMO mencatat indeks Niño 3.4 meningkat dari sekitar 2 derajat Celsius pada Juli menjadi 2,8 derajat Celsius pada September 2026. Untuk periode November 2026–Januari 2027, rata-rata anomali Niño 3.4 diproyeksikan mencapai 3,8 derajat Celsius, dengan puncak pemanasan diperkirakan sekitar Desember.
WMO menyebut kesepakatan antarmodel prakiraan relatif tinggi untuk proyeksi tersebut. Meski demikian, angka 3,8 derajat Celsius merupakan proyeksi anomali suhu permukaan laut, bukan kenaikan suhu udara Indonesia sebesar 3,8 derajat Celsius.
Perbedaan ini penting. El Niño merupakan fenomena laut-atmosfer yang memengaruhi sirkulasi atmosfer dan distribusi hujan dalam skala luas. Dampaknya terhadap setiap negara, bahkan setiap wilayah dalam satu negara, tidak seragam.
Untuk Indonesia, penguatan El Niño secara umum meningkatkan kekhawatiran terhadap berkurangnya curah hujan di sejumlah kawasan, terutama ketika kondisi itu bertepatan dengan musim kemarau atau keterlambatan musim hujan. Namun, besarnya dampak lokal tetap bergantung pada kondisi atmosfer regional, topografi, pola hujan setempat, serta perkembangan fenomena iklim lain.
Untuk Indonesia, penguatan El Niño secara umum meningkatkan kekhawatiran terhadap berkurangnya curah hujan di sejumlah kawasan.
WMO juga mencatat bahwa Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yang menguat selama Juli–September 2026, diperkirakan melemah mendekati kondisi klimatologis pada periode November–Januari. Perubahan ini merupakan bagian dari dinamika iklim yang perlu terus dipantau, bukan alasan untuk menganggap risiko di Indonesia akan otomatis mereda.
Laporan WMO menempatkan wilayah Asia Tenggara dalam kecenderungan suhu yang lebih hangat. Dalam ringkasan regionalnya, organisasi tersebut juga memperingatkan risiko berkurangnya hujan, tekanan tambahan terhadap pertanian dan pasokan air, serta peningkatan risiko kebakaran hutan dan kabut asap.
Dengan demikian, persoalan Indonesia bukan hanya apakah hujan akan turun, melainkan apakah air tersedia pada tempat dan waktu yang dibutuhkan masyarakat.
Selain kebakaran hutan dan lahan yang meluas, dampak El Niño juga perlu diantisipasi dalam sistem pangan di Indonesia. Pergeseran awal musim hujan dapat mengacaukan jadwal tanam, sementara musim hujan yang lebih pendek berpotensi mempersempit kesempatan petani mengandalkan hujan. Risiko ini tidak sama di setiap daerah dan tidak otomatis berujung pada gagal panen, tetapi cukup untuk menuntut perencanaan yang lebih cermat.
Pemerintah daerah perlu menerjemahkan prakiraan BMKG menjadi kalender tanam yang spesifik lokasi, disertai informasi ketersediaan air irigasi, kondisi waduk, dan pilihan varietas yang sesuai. Penyuluh pertanian perlu menyampaikan pembaruan secara berkala, bukan hanya membagikan kalender tanam pada awal musim.
Diversifikasi pangan juga penting sebagai bagian dari ketahanan menghadapi gangguan iklim. Ketergantungan berlebihan pada komoditas, wilayah produksi, atau pola tanam yang seragam dapat memperbesar risiko ketika cuaca menyimpang dari perkiraan. Penguatan pangan lokal dan pengetahuan pertanian masyarakat dapat membantu memperluas pilihan, meskipun efektivitasnya tetap bergantung pada dukungan pasar, infrastruktur, dan kebijakan.
Pada sektor air, pemerintah perlu mengidentifikasi lebih awal desa, pulau kecil, kawasan pertanian, dan daerah perkotaan yang rawan kekurangan pasokan. Pemantauan waduk, mata air, air tanah, dan jaringan distribusi harus disertai rencana cadangan yang dapat dijalankan sebelum krisis terjadi.
Penghematan air di tingkat rumah tangga penting, tetapi tidak dapat menggantikan tanggung jawab pemerintah untuk mengelola sumber air, memperbaiki kebocoran, dan memastikan distribusi yang adil.
WMO menegaskan bahwa proyeksi iklim ke depan yang mereka keluarkan bukan prakiraan resmi untuk masing-masing negara. Laporan ini merupakan panduan global bagi pusat iklim regional dan badan meteorologi nasional, sedangkan keputusan operasional harus merujuk pada prakiraan regional dan nasional yang lebih terperinci.
WMO juga mengingatkan bahwa prakiraan musiman bersifat probabilistik. Kategori yang paling mungkin terjadi bukanlah kepastian, dan keterampilan prakiraan pada skala musiman lebih rendah daripada prakiraan cuaca jangka pendek. Karena itu, pembaruan informasi dan pemantauan kondisi aktual tetap diperlukan.
Bagi Indonesia, artinya bukan menunggu kepastian El Niño akan mencapai tingkat tertentu untuk mulai bertindak. Prakiraan BMKG mengenai mundurnya awal musim hujan di sebagian besar wilayah sudah cukup menjadi dasar untuk mempercepat persiapan di daerah rawan kekeringan dan kebakaran, sekaligus memperkuat pemantauan banjir ketika hujan mulai datang.
Pemerintah pusat dan daerah perlu menyepakati pemicu tindakan yang jelas: kondisi apa yang mengharuskan distribusi air bersih dimulai, kapan pembasahan gambut ditingkatkan, kapan kalender tanam disesuaikan, dan kapan perlindungan kesehatan masyarakat diberlakukan. Tindakan tersebut harus memiliki penanggung jawab, anggaran, dan mekanisme evaluasi yang dapat diperiksa publik.
Indonesia tidak dapat mengendalikan suhu Pasifik. Yang dapat dilakukan adalah mengurangi faktor-faktor yang membuat masyarakat semakin rentan terhadap dampaknya.
Saulo mengingatkan bahwa kesempatan untuk bersiap masih terbuka, tetapi tidak akan berlangsung selamanya. Peringatan itu seharusnya dibaca sebagai tantangan bagi pemerintah untuk membuktikan bahwa ilmu pengetahuan benar-benar digunakan dalam pengambilan keputusan.
El Niño merupakan fenomena alam. Namun, skala bencana yang ditimbulkannya sangat dipengaruhi oleh pilihan tentang bagaimana lahan dikelola, air didistribusikan, sistem pangan dibangun, dan kelompok rentan dilindungi.
Indonesia tidak dapat mengendalikan suhu Pasifik. Yang dapat dilakukan adalah mengurangi faktor-faktor yang membuat masyarakat semakin rentan terhadap dampaknya. Jika prakiraan hanya berakhir sebagai laporan, kesempatan untuk mencegah bencana akan terbuang. Jika diterjemahkan menjadi tindakan sekarang, peringatan iklim dapat menjadi alat untuk menyelamatkan kehidupan dan mata pencaharian.





