HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Keterbatasan lahan di wilayah kepulauan bukan menjadi penghalang untuk mewujudkan kemandirian pangan. Melalui program Green Policing, Polres Pelabuhan Makassar terus mendorong pemanfaatan lahan sempit menjadi kebun produktif, salah satunya di Pulau Barrang Lompo, Kecamatan Kepulauan Sangkarrang, Kota Makassar.
Program yang memadukan kepedulian terhadap lingkungan dan ketahanan pangan tersebut dijalankan melalui peran aktif Bhabinkamtibmas Pulau Barrang Lompo, Aiptu Firdaus, dengan melakukan pemantauan serta perawatan tanaman pangan yang dibudidayakan menggunakan media polybag.
Meski berada di kawasan pulau dengan ketersediaan lahan terbatas, berbagai tanaman seperti cabai, tomat, dan sayuran hijau terlihat tumbuh subur. Tanaman tersebut dibudidayakan di sejumlah area, termasuk lingkungan sekitar markas dan lahan-lahan kecil yang dapat dimanfaatkan secara produktif.
Pemanfaatan polybag menjadi solusi sederhana sekaligus ekonomis dalam mengembangkan pertanian skala rumah tangga. Metode ini memungkinkan masyarakat menanam berbagai kebutuhan dapur tanpa harus memiliki lahan pertanian yang luas.
Tak sekadar melakukan pemantauan, kehadiran Bhabinkamtibmas di tengah aktivitas penghijauan tersebut juga menjadi bagian dari upaya kepolisian memberikan contoh nyata kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan sekaligus membangun kemandirian pangan.
Polisi Hadir, Lingkungan Hijau, Ketahanan Pangan Terjaga
Kasubsipenmas Polres Pelabuhan Makassar, Aipda Adil, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi Green Policing, yakni pendekatan kepolisian yang tidak hanya berorientasi pada pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
“Melalui Green Policing, Polres Pelabuhan Makassar ingin menunjukkan bahwa kehadiran polisi di tengah masyarakat tidak hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga memberikan manfaat nyata. Salah satunya dengan mendorong pemanfaatan lahan terbatas menjadi sumber pangan yang produktif,” ujar Aipda Adil.
Menurutnya, kondisi geografis wilayah kepulauan menjadi tantangan tersendiri dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Karena itu, inovasi sederhana seperti budidaya tanaman menggunakan polybag dinilai dapat menjadi alternatif yang mudah diterapkan masyarakat.
“Pulau Barrang Lompo memiliki keterbatasan lahan, tetapi bukan berarti masyarakat tidak bisa bercocok tanam. Dengan memanfaatkan polybag, halaman rumah maupun ruang kosong dapat ditanami cabai, tomat, dan sayuran untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.
Dari Lahan Sempit, Tumbuh Harapan Kemandirian Pangan
Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi masyarakat pesisir dan kepulauan untuk mulai memanfaatkan ruang-ruang kosong di sekitar tempat tinggal sebagai kebun pangan keluarga.
Selain membantu menyediakan kebutuhan sayuran rumah tangga, kegiatan bercocok tanam juga menjadi sarana edukasi tentang pentingnya penghijauan, pemanfaatan ruang secara produktif, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Program tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa upaya menjaga ketahanan pangan tidak selalu membutuhkan lahan luas ataupun teknologi pertanian yang rumit.
Dengan media tanam sederhana, perawatan rutin, dan semangat kebersamaan, masyarakat kepulauan dapat mengembangkan sumber pangan dari lingkungan tempat tinggalnya sendiri.
“Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti pada pemanfaatan lahan di lingkungan kepolisian saja, tetapi dapat menjadi contoh bagi masyarakat. Jika setiap rumah memanfaatkan sedikit ruang untuk menanam kebutuhan dapur, tentu akan memberikan manfaat bagi keluarga sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih hijau,” tambah Aipda Adil.
Melalui program Green Policing, Polres Pelabuhan Makassar terus memperkuat pendekatan humanis dan kemitraan dengan masyarakat, termasuk di wilayah kepulauan.
Semangat “Polisi Bersama Masyarakat” pun diwujudkan melalui langkah sederhana yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan kehidupan sehari-hari.
Dari polybag di Pulau Barrang Lompo, tumbuh pesan bahwa menjaga lingkungan dan membangun ketahanan pangan dapat dimulai dari lahan sekecil apa pun. (*)





