PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 6,6% secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Rp16,1 triliun hingga September 2026. Kinerja tersebut ditopang peningkatan pendapatan bunga bersih dan pendapatan berbasis komisi di tengah tekanan margin industri perbankan.
Berdasarkan paparan kinerja perseroan, BNI membukukan laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) sebesar Rp27,5 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026.
Angka tersebut meningkat 11,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sekaligus menjadi pencapaian PPOP tertinggi perseroan untuk periode sembilan bulan pertama.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, pertumbuhan kinerja tersebut mencerminkan strategi perseroan dalam menjaga ekspansi bisnis dengan tetap memperhatikan kualitas aset dan pengelolaan risiko.
"Di tengah dinamika pasar yang menantang, BNI tetap menjaga momentum pertumbuhan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam pengelolaan risiko. Fokus kami adalah memperkuat fundamental dan produktivitas untuk menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan," ujar Putrama dalam keterangannya, Selasa (27/10/2026).
Dari sisi pendapatan, BNI mencatatkan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar Rp33,2 triliun hingga akhir September 2026.
Perolehan tersebut tumbuh 13,6% secara tahunan, sejalan dengan ekspansi penyaluran kredit yang dilakukan perseroan.
Sementara itu, pendapatan berbasis komisi atau fee-based income meningkat 8,3% menjadi Rp13,9 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan kedua sumber pendapatan tersebut menjadi penopang peningkatan profitabilitas BNI sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini.
Dari sisi intermediasi, total kredit BNI mencapai Rp992,5 triliun per September 2026, melonjak 22,2% secara tahunan.
Ekspansi kredit tersebut dilakukan pada berbagai segmen bisnis dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam proses penyaluran pembiayaan.
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menjelaskan, pertumbuhan kredit dilakukan secara selektif melalui penerapan standar analisis kelayakan kredit atau underwriting yang disiplin.
Strategi tersebut turut mendorong peningkatan pangsa pasar kredit BNI sebesar 113 basis poin menjadi 10,6%.
"Pertumbuhan kredit yang selektif dan penguatan dana murah menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan profitabilitas. Kami terus mengoptimalkan struktur pendanaan agar pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan," tutur Paolo.
Sejalan dengan ekspansi kredit, BNI juga mencatatkan pertumbuhan dana murah atau current account savings account (CASA) sebesar 19,6% secara tahunan menjadi Rp733,7 triliun.
Peningkatan CASA menjadi salah satu strategi perseroan untuk menjaga efisiensi biaya pendanaan di tengah tekanan margin bunga perbankan.
Hingga September 2026, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) BNI tercatat sebesar 3,5%, turun 30 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan NIM tersebut terutama dipengaruhi penyesuaian imbal hasil kredit atau loan yield dari 7,3% menjadi 6,9%.
Meski demikian, BNI berhasil menekan biaya dana atau cost of fund (CoF) dari 2,83% menjadi 2,77% berkat penguatan dana murah.
Dari sisi penghimpunan dana, giro BNI tumbuh 25,9% secara tahunan hingga September 2026, melampaui pertumbuhan giro industri sebesar 9,8% berdasarkan data Agustus 2026.
Pangsa pasar giro BNI pun meningkat 120 basis poin menjadi 13,2%.
Sementara itu, tabungan BNI mencatatkan pertumbuhan sebesar 11,6% secara tahunan, sehingga pangsa pasar tabungan perseroan meningkat 10 basis poin menjadi 9,2%.
Selain pertumbuhan kredit dan pendanaan, BNI juga melaporkan perbaikan sejumlah indikator kualitas aset.
Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross turun menjadi 1,9%, dibandingkan 2% pada periode pembanding.
Rasio kredit berisiko atau loan at risk (LaR) juga menyusut dari 10,4% menjadi 7,8%.
Direktur Risk Management BNI David Pirzada menjelaskan, perseroan terus memperkuat manajemen risiko melalui penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, pemantauan kredit setelah pencairan, serta penerapan sistem peringatan dini.
BNI juga mempertahankan rasio total pencadangan terhadap kredit sebesar 3,8%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri sebesar 3,5%.
Adapun rasio cakupan pencadangan terhadap kredit bermasalah atau NPL coverage ratio tercatat sebesar 193,3%.
Di luar bisnis kredit, transformasi digital turut menjadi salah satu penopang aktivitas transaksi nasabah BNI.
Hingga September 2026, jumlah pengguna aplikasi wondr by BNI mencapai 16,6 juta, meningkat 58% secara tahunan.
Nilai transaksi melalui aplikasi tersebut mencapai Rp1.774 triliun, tumbuh 25% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, platform perbankan digital korporasi BNIdirect membukukan nilai transaksi sebesar Rp9.324 triliun, meningkat 16% secara tahunan.
Jumlah pengguna BNIdirect juga bertambah 19% menjadi sekitar 293.000 pengguna.
Putrama mengatakan, pengembangan layanan digital dilakukan bersamaan dengan optimalisasi jaringan kantor cabang untuk memperluas layanan dan meningkatkan aktivitas transaksi nasabah.
"Integrasi layanan digital dan jaringan cabang memungkinkan BNI memperluas jangkauan layanan, meningkatkan transaksi, sekaligus memperkuat hubungan dengan nasabah di berbagai segmen," tambahnya.
Baca Juga: Bukalapak Balik Rugi Rp881 Miliar, Investasi Jadi Biang Kerok!
Baca Juga: BUMN Kumpulkan Laba Bersih Rp214,9 Triliun hingga Agustus 2026
Baca Juga: Laba Bank Mandiri Melonjak 20,7%, Tembus Rp45,5 Triliun per September 2026
Strategi tersebut turut didukung inisiatif BRAVE atau Branch, Region & Area Value Empowerment yang diarahkan untuk meningkatkan produktivitas cabang, aktivitas transaksi, dan penghimpunan dana murah.
Dari sisi likuiditas, rasio kredit terhadap dana pihak ketiga atau loan to deposit ratio (LDR) BNI tercatat sebesar 87,9%.
Sementara itu, liquidity coverage ratio (LCR) berada pada level 143,4% dan net stable funding ratio (NSFR) mencapai 128,4%.
Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) perseroan tercatat sebesar 19,2% hingga akhir September 2026.
Memasuki kuartal IV/2026, BNI akan melanjutkan strategi pertumbuhan kredit secara selektif, penguatan dana murah berbasis transaksi, serta pengelolaan risiko untuk mempertahankan kualitas aset.
Perseroan juga akan meneruskan transformasi layanan digital dan jaringan cabang guna mendukung peningkatan produktivitas serta pembiayaan sektor produktif di Indonesia.





