JAKARTA — Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo meminta investor ritel menghitung valuasi saham sebelum mengambil keputusan investasi. Investor diminta tidak sekadar mengikuti sentimen pasar, tetapi juga memeriksa rasio valuasi dan kinerja keuangan perusahaan.
Dradjad mengatakan investor dapat menilai kewajaran harga saham dengan melihat rasio price to book value (PBV), price to earnings ratio (PER), serta kinerja emiten berdasarkan laporan keuangan yang tersedia.
“Jadi saya hanya sampaikan pesan, lihat saja PBV-nya, lihat PER-nya, lihat kinerjanya, kemudian lihat laporan per bulan Agustus, karena laporan kuartal ketiga kan belum keluar ya, laporan bulan Agustus, mungkin September sudah ada, lihat cek sendiri, jadi hitung sendiri karena ini uang teman-teman sendiri,” kata Dradjad dalam Diskusi Awal Pekan Forum Guru Besar dan Doktor INSAN CITA bertajuk “Tekanan MSCI dan Respons Prabowo: Apa Dampaknya Bagi Masyarakat?”, Senin (26/10/2026) malam.
Menurut Dradjad, investor perlu mengandalkan data dan perhitungan sendiri dalam mengambil keputusan investasi. Dia mengatakan tidak etis bagi pejabat negara untuk merekomendasikan saham tertentu kepada masyarakat.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Tentu sebagai pejabat negara saya nggak etis kalau menyebutkan saham A, saham B yang harus dibeli,” ujarnya.
Dradjad juga menyoroti saham-saham yang menurutnya memiliki valuasi rendah meskipun kinerja keuangannya menunjukkan perbaikan. Dia mencontohkan emiten yang mencatatkan peningkatan laba dan pendapatan, tetapi memiliki PBV di bawah satu.
“Masuk akal tidak ketika emiten itu menunjukkan peningkatan laba, menunjukkan peningkatan penerimaan, itu PBV-nya di bawah 1. Jelas nggak masuk akal kan?” kata dia.
Dradjad menilai kondisi tersebut perlu dicermati investor dengan mempertimbangkan kinerja keuangan perusahaan. Namun, penilaian valuasi tetap perlu dilakukan dengan melihat kondisi masing-masing emiten dan tidak hanya bertumpu pada satu rasio.
Dradjad juga menyebut rasio PER pasar modal Indonesia berada di sekitar sembilan kali, sedangkan Singapura sekitar 18 kali. Menurut dia, perbedaan tersebut menunjukkan masih terdapat ruang bagi kenaikan harga saham Indonesia.
“Yang diperlukan adalah confidence,” ujarnya.
Dradjad menambahkan, belakangan ini dirinya menemui sejumlah investor ritel untuk menyampaikan data dan mengajak mereka menilai kondisi pasar secara rasional. Dia menilai edukasi berbasis data penting agar investor tidak mudah terpengaruh sentimen negatif.
Dia juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai prediksi ekstrem mengenai pelemahan rupiah tanpa memeriksa dasar analisisnya. Menurut Dradjad, pernyataan mengenai kondisi ekonomi perlu disampaikan secara objektif, tidak berlebihan dalam menggambarkan risiko maupun mengabaikan tantangan yang ada. Dradjad berharap investor dapat mengambil keputusan berdasarkan perhitungan yang matang sehingga kepercayaan terhadap pasar modal tetap terjaga.