Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memastikan pasokan gula rafinasi untuk kebutuhan industri makanan dan minuman dalam kondisi aman hingga Desember 2026. Kepastian ini diperoleh setelah Kemenperin berkoordinasi dengan Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI).
"Insyaallah, sampai Desember ke depan aman,” kata Menteri Perindustrian Sarmuji usai pertemuannya dengan perwakilan AGRI di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (27/10).
Sarmuji menjelaskan sebelumnya ada salah satu pabrik yang mengeluhkan kekurangan gula rafinasi hingga 15.000 ton. Jika tidak segera diatasi, kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu kegiatan produksi pabrik.
“Kalau nggak segera diatasi itu bisa menyebabkan berhenti produksi. Kalau berhenti produksi, wah, ngeri sekali itu isunya, berhenti 1–2 hari saja isunya sudah luar biasa,” ungkap Sarmuji.
Saat ini, ketersediaan gula rafinasi di pabrik tersebut telah mencapai 90 persen dari kebutuhannya. Ia berharap tidak ada lagi pabrik yang harus menghentikan produksi akibat kekurangan bahan baku hingga akhir tahun ini.
“Sekarang yang mengeluh tadi itu sudah tersedia 90 persen dari kebutuhannya sudah tersedia dan insyaallah tidak akan ada pabrik yang berhenti produksi karena kekurangan gula rafinasi," kata Sarmuji.
Menperin Minta AGRI Cegah Kebocoran Gula Rafinasi ke Sektor KonsumenSarmuji meminta AGRI memastikan gula rafinasi tidak merembes ke pasar konsumen. Pemerintah berkomitmen menjaga kecukupan gula rafinasi sebagai bahan baku industri, tetapi distribusinya harus tetap sesuai dengan peruntukan.
Sarmuji menjelaskan gula rafinasi digunakan sebagai bahan baku industri, terutama makanan dan minuman. Sementara, kebutuhan gula konsumsi masyarakat dapat dipenuhi dari produksi gula konsumsi dalam negeri yang disebutnya mencukupi.
“Kalau bocor menjadi gula konsumsi, itu seperti kita menikam saudara kita sendiri. Padahal kita bisa produksi gula konsumsi dan jumlahnya sangat cukup,” papar Sarmuji.
Sarmuji akan meningkatkan pengawasan dan berkoordinasi dengan AGRI untuk memastikan distribusi gula rafinasi tidak menyimpang dari ketentuan.
“Kita sama-sama jaga, kita berikan jaminan ketercukupan gula rafinasi sebagai bahan baku industri, tapi sebaliknya kita juga meminta, dengan sangat dan akan kita awasi dengan ketat, supaya gula rafinasi tidak bocor ke konsumen sebagai gula konsumsi,” tutur Sarmuji.
Sementara itu, Ketua Umum AGRI Supriadi menegaskan pihaknya berkomitmen menyalurkan gula rafinasi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Ia mengungkapkan impor gula rafinasi pada tahun ini mencapai sekitar 3 juta ton. Jumlah tersebut diperkirakan mencukupi kebutuhan industri hingga akhir Desember 2026, meski ketersediaan pada Januari 2027 relatif terbatas.
AGRI meminta dukungan pemerintah untuk mempercepat penerbitan rencana kebutuhan industri dan persetujuan impor gula rafinasi untuk 2027. Menurutnya langkah ini diperlukan agar pasokan dapat tersedia kembali pada Januari sehingga kebutuhan bahan baku industri tetap terpenuhi.
“Untuk tahun 2027 percepatan untuk penerbitan rencana kebutuhan industri dan persetujuan impornya, agar di bulan Januari bisa tersedia kembali gula rafinasi,” kata Supriadi.
Usulan kebutuhan impor ini telah disampaikan kepada Kemenperin. Selanjutnya, Kemenperin akan berkoordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Pangan dalam pembahasan neraca komoditas tahun depan.





