Konflik Timur Tengah Berlarut, Luhut: Investor Cari Family Office Bali

cnbcindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita
Foto: Presiden Prabowo Subianto menerima Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan beserta jajaran di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (9/6/2026). (Dok. BPMI Sekretariat Presiden/Muchlis Jr)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan, upaya pemerintah Indonesia saat ini yang tengah mendefinisikan ulang kerugian negara hingga korupsi, merupakan bagian dari upaya menciptakan kepastian hukum bagi para investor global.

Menurutnya, langkah ini perlu segera dilakukan karena banyak investor global yang selama ini bersemayam di Timur Tengah berencana angkat kaki, akibat berkepanjangannya konflik di kawasan Teluk itu.

"Orang tadi yang tidak nyaman di Timur Tengah karena perang antara satu negara dengan negara lain, dia mencari tempat di mana yang paling aman untuk taruh duitnya," kata Luhut di kantornya, Jakarta, Selasa (27/10/2026).


Baca: Prabowo Minta Kajian Lengkap Soal Usulan DEN Ubah Defisini Korupsi

Bila pemerintah Indonesia tidak mampu cepat memberikan kepastian hukum, menurutnya akan banyak investor yang justru mencari tujuan ke negara lain. Ia mencontohkan, Singapura saja sudah mendapatkan dana investor senilai US30 miliar dalam satu kuarta pada tahun ini.

"Singapura contoh itu 30 miliar dolar bisa masuk di sana. Padahal keadaan Timur Tengah sekarang ini Hormuz dari open source dan semua yang kita lihat, kita tidak melihat ada harapan untuk segera berdamai dalam 2-3 tahun ke depan," paparnya.

"Ya kita berharap lebih cepat, tapi kita membuat worst case scenario kalau itu terjadi maka harga minyak itu tetap akan tinggi dan turunannya pun akan tinggi," tegas Luhut.

Seiring dengan perbaikan kepastian hukum itu, Luhut mengatakan, pemerintah juga tengah mempercepat realisasi pembentukan Family Office di kawasan International Financial Center.

Baca: Respons Lengkap Yusril Soal Rencana Perubahan Definisi Korupsi di RI

"Presiden pun sudah mengarahkan untuk kita lakukan mungkin di Bali dalam waktu dekat ini, mungkin dalam berapa bulan ke depan. Dan di situ juga ada Family Office. Nah, Family Office ini pun sangat membutuhkan tadi kepastian hukum," paparnya.

Ia memastikan, dari banyak investor yang ia temui mayoritas ingin punya Family Office di Bali. Namun, masih mempertanyakan kepastian hukum di Indonesia.

"Yang paling saya dengar dari banyak investor-investor besar itu, mereka suka Bali. Saya tanya juga, "Kenapa Bali?" "Ya kita senang di Bali," gitu. Nanti tergantung Presiden, Pak Presiden mau arahkan di mana. Tapi yang paling penting kepastian hukum harus jelas juga," ungkap Luhut.


(arj/arj)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Potensi Ekonomi AI Indonesia Capai Rp7.202 Triliun Pada 2030

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Shin Tae-yong Puji Etos Kerja Pemain Persija Saat Kalahkan Persik di JIS
• 13 jam lalurepublika.co.id
thumb
Pengangguran di Indonesia Turun Jadi 4,65 Persen, Pemerintah Klaim Terendah dalam Tiga Dekade
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Carrick Masih Dipercaya Tangani MU, tapi tak Tahu Sampai Kapan
• 6 jam lalurepublika.co.id
thumb
Harga Produk Peternak Ayam Belum Pulih, Jagung Pakan Masih Mahal
• 23 jam lalukompas.id
thumb
Pemilu Digelar, 7,3 Juta Warga Israel Akan Tentukan Nasib Netanyahu
• 8 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.