Andi Cicu: Keluarga, Keteguhan, dan Masa Depan

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

Catatan Ulang Tahun drg. Andi Rachmatrika Dewi, Ketua DPRD Sulawesi Selatan

Oleh: Johansyah Mansyur

Ada orang yang kita kenal karena jabatan yang disandangnya. Ada pula yang kita kenal jauh sebelum jabatan itu melekat pada dirinya. Bagi saya, drg. Andi Rachmatrika Dewi, yang akrab disapa Andi Cicu, termasuk kategori kedua. Saya mengenalnya melalui ikatan persahabatan yang telah terjalin puluhan tahun dengan ibundanya, Dra. Hj. Nurhayaty Siradjuddin, yang akrabnya saat ini saya sapa Puang Aty.

Karena itulah, ketika hari ini Andi Cicu berdiri sebagai Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, ada kebahagiaan tersendiri yang sulit saya pisahkan dari kenangan masa muda, persahabatan, dan perjalanan panjang sebuah keluarga.

Pada 27 Oktober tahun ini, ketika Andi Cicu memperingati hari ulang tahunnya yang ke 43, saya ingin menyampaikan ucapan selamat yang lebih dari sekadar seremoni. Ini adalah ungkapan seorang sahabat keluarga, yang menyaksikan dari dekat bagaimana nilai-nilai keluarga, ketekunan, dan lingkungan pergaulan ikut membentuk seseorang hingga menjadi figur publik.

Persahabatan yang Mendahului Jabatan

Persahabatan saya dengan Puang Aty bermula ketika kami masih duduk di bangku SMA Negeri 2 Makassar. Kami pernah sekelas, melewati masa remaja bersama, bahkan sering berboncengan ketika berangkat maupun pulang sekolah, ketika itu Aty adalah anak seorang Bupati Kepala Daerah Gowa, yaitu Seorang tokoh pejuang Bapak Arief Siradjuddin.Setelah tamat SMA, perjalanan kami berlanjut ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, meskipun mengambil jurusan berbeda. Persahabatan itu kemudian berlanjut lagi ketika kami sama-sama diterima sebagai calon pegawai negeri sipil di Departemen Penerangan Republik Indonesia.

Kalau dipikir-pikir, perjalanan hidup kami seperti beberapa kali dipertemukan oleh takdir yang sama. Dari bangku sekolah, kampus, hingga dunia pekerjaan, ada banyak simpul pengalaman yang membuat persahabatan itu bertahan sampai sekarang.

Itulah sebabnya, ketika bertemu Andi Cicu, saya tidak merasa sedang berhadapan semata-mata dengan seorang pejabat tinggi daerah. Dalam hubungan kekeluargaan, saya adalah Om Jo yang mengenal ibundanya sejak muda. Ada kedekatan yang tidak dibangun oleh jabatan, melainkan oleh sejarah persahabatan.

Saya mengenal keluarga ini bukan dari cerita orang lain. Saya mengenalnya dari perjalanan hidup yang panjang, dari perjumpaan-perjumpaan sederhana, dan dari ikatan persahabatan yang telah melewati perubahan zaman.

Didikan Keluarga dan Lingkungan Politik

Andi Cicu tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki pengalaman panjang di bidang pemerintahan dan kehidupan politik. Ayahandanya, Andi Muhammad Iqbal Arief, SH, merupakan sosok yang berkarier di lingkungan Kejaksaan Republik Indonesia. Dalam perjalanan pengabdiannya, beliau pernah menduduki sejumlah jabatan strategis, termasuk Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi dan Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara.

Saya masih mengingat ketika beberapa kawan dan saya pernah berkunjung ke Manado. Saat itu, Andi Iqbal menjalankan tugasnya di lingkungan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian dari ingatan saya tentang perjalanan keluarga ini.

Sementara itu, dari garis keluarga ibunya, Andi Cicu memiliki kedekatan dengan Dr. Ir. Ilham Arief Siradjuddin, MS, mantan Wali Kota Makassar yang dikenal luas dalam perpolitikan Sulawesi Selatan, yang saat ini pula sedang menakhkodai Partai Golkar Sulawesi Selatan. Dalam hubungan keluarga, Ilham merupakan pamannya dari pihak ibu.

Kedekatan dengan figur yang memiliki pengalaman pemerintahan dan politik tentu menyediakan ruang belajar tersendiri. Dari lingkungan seperti itu, seorang anak dapat menyaksikan bagaimana kepemimpinan dijalankan, bagaimana keputusan politik diambil, dan bagaimana hubungan dengan masyarakat dipelihara.

Namun, saya kira tidak adil apabila keberhasilan Andi Cicu semata-mata dianggap sebagai buah dari nama besar keluarga. Lingkungan memang dapat membuka pintu, tetapi seseorang tetap harus membuktikan kemampuannya untuk melangkah lebih jauh. Andi Cicu telah menempuh jalannya sendiri.

Latar belakang pendidikannya adalah kedokteran gigi, bukan ilmu politik. Sebelum sepenuhnya dikenal sebagai politisi, ia juga pernah menjalani pekerjaan sebagai penyiar radio. Dari sana, ia memasuki dunia politik, menjadi anggota DPRD Kota Makassar, kemudian berkiprah di DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, hingga dipercaya menjadi wakil ketua dan akhirnya ketua lembaga legislatif provinsi.

Perjalanan itu memperlihatkan bahwa kepemimpinan tidak selalu lahir dari satu jalur pendidikan. Ada pula proses pembelajaran yang berlangsung melalui pengalaman, interaksi sosial, organisasi, dan keberanian mengambil tanggung jawab.

Ketangguhan Menghadapi Pasang Surut Politik

Politik tidak pernah menyediakan jalan yang sepenuhnya lurus. Ada kemenangan, ada kekalahan, ada kepercayaan yang meningkat, dan ada pula keadaan yang memaksa seseorang mengevaluasi langkahnya.

Dalam perjalanan politik Andi Cicu, salah satu pengalaman penting adalah ketika ia maju sebagai pasangan Munafri Arifuddin dalam Pilkada Kota Makassar 2018. Pasangan Appi-Cicu belum berhasil memenangkan kontestasi tersebut.

Bagi seorang politisi, kekalahan dalam pemilihan kepala daerah tentu bukan pengalaman yang ringan. Apalagi ketika dukungan politik yang dibangun begitu luas dan harapan terhadap kemenangan cukup besar.

Namun, perjalanan seseorang tidak seharusnya dinilai hanya dari satu pertarungan yang tidak dimenangkannya. Justru di situlah ketangguhan seorang politisi diuji: apakah ia berhenti setelah menghadapi kegagalan, atau menjadikan pengalaman tersebut sebagai bahan pembelajaran untuk melanjutkan pengabdian melalui jalan yang berbeda.

Andi Cicu tetap berada dalam arena politik. Ia melanjutkan kiprahnya sebagai legislator, memperoleh kepercayaan masyarakat untuk kembali duduk di DPRD Sulawesi Selatan, dan kemudian dipercaya memimpin lembaga tersebut untuk periode 2024–2029. Perjalanan ini menunjukkan bahwa kegagalan dalam satu kontestasi tidak serta-merta menutup masa depan politik seseorang.

Tentu, jabatan ketua DPRD bukanlah garis akhir sebuah karier. Jabatan itu justru menghadirkan ujian yang lebih besar. Seorang ketua DPRD tidak cukup hanya memiliki kemampuan membangun komunikasi politik, tetapi juga harus mampu menjaga marwah lembaga, mengelola perbedaan pandangan, memperjuangkan kepentingan masyarakat, serta menjalankan fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan secara bertanggung jawab.

Di sinilah keberhasilan politik harus dibuktikan secara berkelanjutan, bukan hanya melalui perolehan suara atau posisi yang berhasil diraih.

Hormat kepada Orang Tua, Kekuatan dalam Pergaulan

Di antara berbagai hal yang saya kenal dari Andi Cicu, ada satu sisi yang secara pribadi sangat berkesan: hubungannya dengan keluarga, terutama penghormatannya kepada kedua orang tuanya.

Dalam lingkungan keluarga, ia menyapa dan memanggil kedua orang tuanya dengan sebutan mamah, dan saat ini ketika sudah ada beberapa cucu maka sapaan kepada mamah berubah menjadi bunda. Demikian pula kepada bapaknya dia sapa dengan panggilan sayang dan hormat ayah. Dari yang saya ketahui, ia sangat menyayangi keluarganya serta menempatkan penghormatan kepada orang tua sebagai bagian penting dalam kehidupannya. Bagi saya, sikap seperti ini memiliki makna tersendiri.

Di tengah dunia politik yang sering kali dipenuhi persaingan, kepentingan, dan perebutan pengaruh, seseorang tetap membutuhkan pegangan moral yang membuatnya tidak kehilangan arah. Jabatan bisa berubah. Kekuasaan dapat berpindah. Dukungan politik bisa datang dan pergi. Namun, nilai penghormatan kepada orang tua dan kepedulian terhadap keluarga merupakan bagian dari karakter yang semestinya tetap dipelihara.

Saya juga mengenal Andi Cicu sebagai pribadi yang ramah dalam pergaulan. Baginya, hubungan antarmanusia tidak semestinya dibatasi oleh kedudukan dan jabatan. Keramahan, penghargaan terhadap orang yang lebih tua, serta kesediaan menjaga silaturahmi merupakan modal sosial yang sangat berharga.

Tentu, penilaian pribadi seperti ini tidak serta-merta menggambarkan seluruh sisi seseorang. Namun, sebagai orang yang mengenal keluarganya sejak lama, saya merasa penting menyampaikan bahwa di balik figur publik bernama Andi Cicu, ada sisi kekeluargaan yang patut dihargai.

Bagi saya, keberhasilan seseorang bukan hanya soal seberapa tinggi ia menduduki jabatan, melainkan juga bagaimana ia memperlakukan orang-orang di sekitarnya ketika jabatan itu telah berada dalam genggamannya.

Menjembatani Generasi dalam Politik

Ada satu alasan lain mengapa saya memandang Andi Cicu memiliki prospek yang baik dalam perjalanan politik ke depan. Ia berada pada posisi yang memungkinkan dirinya membangun komunikasi antara generasi yang lebih tua dengan generasi muda, termasuk generasi milenial dan Generasi Z.

Generasi senior memiliki pengalaman, pengetahuan sejarah, dan kebijaksanaan yang terbentuk melalui perjalanan panjang. Sementara generasi muda membawa gagasan baru, penguasaan teknologi, keberanian mempertanyakan kebiasaan lama, serta harapan terhadap tata kelola pemerintahan yang lebih terbuka. Keduanya tidak seharusnya dipertentangkan. Justru kepemimpinan yang baik harus mampu mempertemukan pengalaman dengan pembaruan.

Andi Cicu memiliki pengalaman politik lintas periode dan tumbuh dalam lingkungan yang mengenal tradisi pemerintahan serta politik. Pada saat yang sama, ia berasal dari generasi yang relatif lebih dekat dengan perubahan sosial dan perkembangan komunikasi modern.

Perpaduan tersebut merupakan modal yang menjanjikan, apabila terus dikembangkan melalui keterbukaan terhadap kritik, kesediaan mendengar aspirasi masyarakat, dan kemampuan memahami kebutuhan generasi yang berbeda.

Saya membayangkan Andi Cicu dapat tumbuh menjadi salah satu politisi perempuan yang semakin diperhitungkan di Sulawesi Selatan, bahkan pada tingkat nasional. Namun, harapan itu tentu harus dibuktikan melalui kinerja, integritas, konsistensi, dan keberanian mengambil keputusan yang berpihak pada kepentingan publik.

Sebagai Ketua DPRD Sulawesi Selatan, ia memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan bukan sekadar simbol keterwakilan. Kepemimpinan perempuan harus hadir melalui gagasan, kualitas keputusan, keberanian melakukan pengawasan, dan kemampuan memperjuangkan kebutuhan masyarakat.

Publik tentu akan menilai bukan hanya bagaimana seseorang memperoleh jabatan, tetapi juga apa yang berhasil dilakukannya selama menjabat.

Selamat Ulang Tahun, Andi Cicu

Pada akhirnya, tulisan ini bukanlah pujian tanpa catatan. Saya percaya, setiap orang yang memasuki dunia politik akan menghadapi tantangan, kritik, dan penilaian masyarakat. Semakin tinggi jabatan yang diemban, semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya.

Bagi Andi Cicu, usia yang terus bertambah semestinya menjadi kesempatan untuk memperluas kebijaksanaan, memperdalam pengabdian, dan memperkuat keberpihakan kepada masyarakat.

Kepada Andi Cicu, saya menyampaikan selamat ulang tahun. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, umur yang berkah, kekuatan, dan kebijaksanaan dalam menjalankan amanah sebagai Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan.

Teruslah menjadi pribadi yang menyayangi keluarga, menghormati kedua orang tua, menjaga silaturahmi, dan membuka diri terhadap nasihat maupun kritik.

Jangan pernah merasa cukup dengan pencapaian hari ini. Sebab, dalam politik, jabatan bukanlah tujuan akhir. Jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada partai dan konstituen, tetapi juga kepada masyarakat luas dan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagai Om Jo yang mengenal ibundamu sejak masa SMA, saya tentu ikut berbahagia melihat perjalananmu hingga hari ini. Kebahagiaan itu bukan semata-mata karena engkau telah menduduki jabatan tinggi, melainkan karena saya melihat seorang anak dari sahabat lama, keluarga, yang kini memperoleh kesempatan untuk memberikan pengabdian lebih luas.

Semoga perjalananmu ke depan semakin matang. Semoga pengalaman mengajarkan kebijaksanaan, keberhasilan melahirkan kerendahan hati, dan setiap tantangan memperkuat keberanian untuk berbuat lebih baik.

Selamat ulang tahun, Andi Cicu. Teruslah melangkah dengan keteguhan, menjaga keluarga sebagai akar nilai kehidupan, dan menjadikan pengabdian kepada masyarakat sebagai arah perjalanan politikmu.

Sebab, pada akhirnya, yang membuat seseorang dikenang bukanlah semata-mata jabatan yang pernah didudukinya, melainkan manfaat yang ditinggalkannya bagi sesama.

Penulis adalah Pengamat Politik dan Kebijakan Publik, mengabdi sebagai Dosen Praktisi UNM Makassar


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bunker Rahasia Iran Terungkap! Drone Baru "Arash" Bawa Hulu Ledak 100 Kg | KOMPAS PETANG
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Tak Bisa Lewat Jalan Darat, 2.356 Paket MBG Diantar Pakai Kapal ke Desa Terluar
• 19 jam laluviva.co.id
thumb
Yang Tersisa Dari Pelantikan Golkar Sulsel; Menenun Keharmonisan dan Dialog Filosofis Tentang Seni Memimpin
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Kronologi Driver Taksi Online Dibunuh di Asahan, Dua Pelaku Ditangkap Kurang dari 24 Jam
• 5 jam lalugrid.id
thumb
Warga Syok Dwi Bagus Bunuh Istri Siri dan Anak: Kemarin Habis Haji
• 6 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.