Ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan kembali meningkat setelah Pyongyang mengirimkan surat kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyusul insiden ledakan ranjau pada September lalu.
Kedua Korea telah saling melontarkan kecaman dan memperkuat posisi militer mereka di sepanjang Zona Demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan kedua negara. Korea Selatan menuntut permintaan maaf dari Korea Utara, sementara Pyongyang menuduh Seoul merekayasa insiden tersebut.
Kantor berita Yonhap melaporkan pada Minggu (25/10), sejumlah artileri howitzer kaliber 122 milimeter milik Korut terlihat di perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan.
Kemunculan artileri tersebut dinilai tidak biasa karena persenjataan itu jarang diperlihatkan secara terbuka di kawasan tersebut.
Para analis mengidentifikasi senjata tersebut sebagai howitzer swagerak 122 mm tipe M-1981, sebuah sistem artileri Korea Utara yang lebih tua dan diyakini mulai digunakan pada akhir tahun 1970-an.
Sementara menurut Yang Uk, seorang pakar militer di Asan Institute for Policy Studies di Seoul, senjata ini memiliki jangkauan maksimum sekitar 24 km (15 mil), yang berarti wilayah seperti kota Gimpo di Korea Selatan, tempat observatorium tersebut berada, masih dalam jangkauannya, meskipun kekuatannya lebih rendah dibandingkan sistem artileri yang lebih baru.





