Jakarta (ANTARA) - Perum Bulog menyebut cadangan beras Pemerintah Indonesia unggul jauh dibandingkan sejumlah negara Asia Tenggara dengan stok sekitar 4,5 juta ton sebagai modal memperkuat ketahanan pangan dan menjaga stabilitas pasokan nasional.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan besarnya stok beras yang dikelola pemerintah menjadi modal strategis untuk menjaga ketersediaan pangan masyarakat, terutama menghadapi peningkatan kebutuhan menjelang akhir tahun.
"Indonesia semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu negara dengan cadangan beras pemerintah yang kuat di kawasan Asia Tenggara," kata Rizal di Jakarta, Selasa.
Melalui Perum Bulog, pemerintah saat ini menguasai Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sekitar 4,5 juta ton, jumlah yang jauh melampaui angka cadangan penyangga pemerintah yang dilaporkan sejumlah negara tetangga.
Besarnya stok tersebut menjadi cerminan semakin kuatnya kapasitas Indonesia dalam menjaga ketersediaan pangan, mengantisipasi gejolak pasokan dan harga, sekaligus memperkokoh ketahanan pangan nasional di tengah berbagai tantangan global.
Berdasarkan kompilasi data pangan negara-negara Asia Tenggara, cadangan beras pemerintah Indonesia menunjukkan keunggulan yang sangat signifikan.
Bulog mencatat Malaysia memiliki stok penyangga beras nasional sebesar 200.000 ton pada Agustus 2026, sementara cadangan beras yang tersimpan di fasilitas National Food Authority (NFA) Filipina diperkirakan sekitar 286.500 ton per 1 September 2026.
Dengan stok mencapai 4,5 juta ton, cadangan yang dikelola Bulog secara nominal sekitar 22,5 kali lipat dibandingkan stok penyangga Malaysia dan 15,7 kali lipat dibandingkan estimasi stok NFA Filipina.
Perbandingan itu memperlihatkan besarnya kapasitas cadangan pemerintah Indonesia, meskipun cakupan dan periode pencatatan antarnegara memiliki perbedaan.
Baca juga: Dirut Bulog: Lelang 380 ribu ton beras turun mutu prioritaskan UMKM
Baca juga: Dirut Bulog: Stok beras 4,5 juta ton siap hadapi Natal dan Tahun Baru
Sementara itu, Vietnam melaporkan pengadaan cadangan pangan nasional sebesar 500.000 ton sepanjang 2025, yang merupakan pencapaian tertinggi dalam sejarah pengadaan cadangan negara tersebut.
Angka tersebut merupakan realisasi pengadaan selama satu tahun, bukan posisi stok terkini yang dapat dibandingkan langsung dengan CBP Indonesia. Adapun Thailand dan Myanmar belum memiliki data stok cadangan pemerintah yang cukup terkonfirmasi untuk perbandingan setara.
Meski demikian, besarnya cadangan yang dikuasai Indonesia tetap memperlihatkan posisi yang sangat menonjol di kawasan, sekaligus menunjukkan kesiapan negara dalam menghadapi ketidakpastian iklim, dinamika perdagangan global, dan potensi gangguan rantai pasok pangan.
Kekuatan cadangan beras Indonesia tersebut tidak terlepas dari keberhasilan pemerintah memperkuat produksi dalam negeri dan mengoptimalkan penyerapan gabah serta beras petani melalui Perum Bulog.
Hingga 27 Oktober 2026, realisasi pengadaan gabah dan beras dalam negeri telah mencapai 4.238.543 ton setara beras atau 105,96 persen dari target pemerintah sebesar 4 juta ton.
Capaian itu menjadi rekor pengadaan tertinggi sepanjang sejarah Bulog, sekaligus menunjukkan keberhasilan penguatan peran negara dalam menyerap hasil panen petani, membangun cadangan pangan yang kokoh, dan menjaga keseimbangan pasokan dari tingkat produsen hingga konsumen.
“Masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan beras menjelang Natal dan Tahun Baru. Stok beras yang dikelola Bulog saat ini sangat memadai, mencapai sekitar 4,5 juta ton,” tegas Rizal.
Lebih lanjut, Rizal menekankan kekuatan cadangan beras nasional harus diikuti dengan pengelolaan dan penyaluran yang optimal agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Cadangan yang besar bukan sekadar menunjukkan kemampuan negara dalam menyimpan pangan, tetapi juga menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas harga, memperluas akses pangan, serta memberikan perlindungan bagi masyarakat ketika menghadapi tekanan pasar.
"Arahan pemerintah sangat jelas, stok yang melimpah harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, Bulog tidak hanya memastikan beras tersedia di gudang, tetapi juga mempercepat penyalurannya melalui SPHP dan bantuan pangan,” ujarnya.
Untuk memastikan besarnya cadangan tersebut memberikan dampak langsung kepada masyarakat, Bulog terus mengoptimalkan penyaluran beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta bantuan pangan beras.
Pemerintah telah menyiapkan tambahan alokasi SPHP beras sebesar 1 juta ton guna memperkuat pasokan pasar dan menjaga keterjangkauan harga.
Di sisi lain, bantuan pangan beras periode Oktober–Desember 2026 kembali menyasar sekitar 33,2 juta penerima bantuan pangan (PBP), masing-masing memperoleh 10 kilogram beras per bulan.
Dengan dukungan jaringan pergudangan dan distribusi Bulog yang tersebar di seluruh Indonesia, besarnya cadangan beras nasional terus dioptimalkan untuk memperkuat stabilitas pangan dari Sabang sampai Merauke.
Baca juga: Mentan: Pengadaan Bulog perkuat cadangan beras pemerintah
Baca juga: Bulog catat stok beras Jabar aman sampai panen raya tahun 2027
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan besarnya stok beras yang dikelola pemerintah menjadi modal strategis untuk menjaga ketersediaan pangan masyarakat, terutama menghadapi peningkatan kebutuhan menjelang akhir tahun.
"Indonesia semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu negara dengan cadangan beras pemerintah yang kuat di kawasan Asia Tenggara," kata Rizal di Jakarta, Selasa.
Melalui Perum Bulog, pemerintah saat ini menguasai Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sekitar 4,5 juta ton, jumlah yang jauh melampaui angka cadangan penyangga pemerintah yang dilaporkan sejumlah negara tetangga.
Besarnya stok tersebut menjadi cerminan semakin kuatnya kapasitas Indonesia dalam menjaga ketersediaan pangan, mengantisipasi gejolak pasokan dan harga, sekaligus memperkokoh ketahanan pangan nasional di tengah berbagai tantangan global.
Berdasarkan kompilasi data pangan negara-negara Asia Tenggara, cadangan beras pemerintah Indonesia menunjukkan keunggulan yang sangat signifikan.
Bulog mencatat Malaysia memiliki stok penyangga beras nasional sebesar 200.000 ton pada Agustus 2026, sementara cadangan beras yang tersimpan di fasilitas National Food Authority (NFA) Filipina diperkirakan sekitar 286.500 ton per 1 September 2026.
Dengan stok mencapai 4,5 juta ton, cadangan yang dikelola Bulog secara nominal sekitar 22,5 kali lipat dibandingkan stok penyangga Malaysia dan 15,7 kali lipat dibandingkan estimasi stok NFA Filipina.
Perbandingan itu memperlihatkan besarnya kapasitas cadangan pemerintah Indonesia, meskipun cakupan dan periode pencatatan antarnegara memiliki perbedaan.
Baca juga: Dirut Bulog: Lelang 380 ribu ton beras turun mutu prioritaskan UMKM
Baca juga: Dirut Bulog: Stok beras 4,5 juta ton siap hadapi Natal dan Tahun Baru
Sementara itu, Vietnam melaporkan pengadaan cadangan pangan nasional sebesar 500.000 ton sepanjang 2025, yang merupakan pencapaian tertinggi dalam sejarah pengadaan cadangan negara tersebut.
Angka tersebut merupakan realisasi pengadaan selama satu tahun, bukan posisi stok terkini yang dapat dibandingkan langsung dengan CBP Indonesia. Adapun Thailand dan Myanmar belum memiliki data stok cadangan pemerintah yang cukup terkonfirmasi untuk perbandingan setara.
Meski demikian, besarnya cadangan yang dikuasai Indonesia tetap memperlihatkan posisi yang sangat menonjol di kawasan, sekaligus menunjukkan kesiapan negara dalam menghadapi ketidakpastian iklim, dinamika perdagangan global, dan potensi gangguan rantai pasok pangan.
Kekuatan cadangan beras Indonesia tersebut tidak terlepas dari keberhasilan pemerintah memperkuat produksi dalam negeri dan mengoptimalkan penyerapan gabah serta beras petani melalui Perum Bulog.
Hingga 27 Oktober 2026, realisasi pengadaan gabah dan beras dalam negeri telah mencapai 4.238.543 ton setara beras atau 105,96 persen dari target pemerintah sebesar 4 juta ton.
Capaian itu menjadi rekor pengadaan tertinggi sepanjang sejarah Bulog, sekaligus menunjukkan keberhasilan penguatan peran negara dalam menyerap hasil panen petani, membangun cadangan pangan yang kokoh, dan menjaga keseimbangan pasokan dari tingkat produsen hingga konsumen.
“Masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan beras menjelang Natal dan Tahun Baru. Stok beras yang dikelola Bulog saat ini sangat memadai, mencapai sekitar 4,5 juta ton,” tegas Rizal.
Lebih lanjut, Rizal menekankan kekuatan cadangan beras nasional harus diikuti dengan pengelolaan dan penyaluran yang optimal agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Cadangan yang besar bukan sekadar menunjukkan kemampuan negara dalam menyimpan pangan, tetapi juga menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas harga, memperluas akses pangan, serta memberikan perlindungan bagi masyarakat ketika menghadapi tekanan pasar.
"Arahan pemerintah sangat jelas, stok yang melimpah harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, Bulog tidak hanya memastikan beras tersedia di gudang, tetapi juga mempercepat penyalurannya melalui SPHP dan bantuan pangan,” ujarnya.
Untuk memastikan besarnya cadangan tersebut memberikan dampak langsung kepada masyarakat, Bulog terus mengoptimalkan penyaluran beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta bantuan pangan beras.
Pemerintah telah menyiapkan tambahan alokasi SPHP beras sebesar 1 juta ton guna memperkuat pasokan pasar dan menjaga keterjangkauan harga.
Di sisi lain, bantuan pangan beras periode Oktober–Desember 2026 kembali menyasar sekitar 33,2 juta penerima bantuan pangan (PBP), masing-masing memperoleh 10 kilogram beras per bulan.
Dengan dukungan jaringan pergudangan dan distribusi Bulog yang tersebar di seluruh Indonesia, besarnya cadangan beras nasional terus dioptimalkan untuk memperkuat stabilitas pangan dari Sabang sampai Merauke.
Baca juga: Mentan: Pengadaan Bulog perkuat cadangan beras pemerintah
Baca juga: Bulog catat stok beras Jabar aman sampai panen raya tahun 2027





