Denpasar, CNBC Indonesia - PT Pertamina (Persero) menyebutkan investor khususnya sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) berpotensi tertarik masuk ke Indonesia. Hal itu terjadi apabila terdapat penyesuaian regulasi fiskal serta penyediaan insentif (sweetener) dari pemerintah Indonesia.
Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza menyebutkan bahwa para investor internasional sejatinya memiliki minat tinggi untuk masuk ke Indonesia. Menurutnya, pemerintah perlu memberikan kepastian skema fiskal agar imbal hasil (return) investasi di dalam negeri mampu bersaing secara global.
"Jadi bagaimana kita meningkatkan appetite untuk berinvestasi di kawasan region kita. Itu adalah dengan tentunya yang pertama-tama melakukan advokasi ke pemerintah untuk memberikan fiskal yang tepat. Karena dalam bisnis apapun yang paling penting dari sebuah investasi adalah return-nya. Jadi semua investor di seluruh dunia itu berlomba-lomba untuk mendapatkan return terbaik," ujar Oki di sela acara 51st ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE), di The Meru Sanur, Bali, Selasa (27/10/2026).
Selain kepastian kebijakan fiskal dan jaminan imbal hasil, ketersediaan insentif dari pemerintah juga dinilai menjadi faktor pendukung yang dibutuhkan investor. Insentif tersebut diperlukan mulai dari tahap eksplorasi awal seperti survei seismik dan pengeboran temuan baru, pengembangan lapangan agar masuk skala keekonomian, hingga tahap komersialisasi hidrokarbon.
"Terus yang kedua tentu kita memberikan sweetener agar mereka invest di kita. Mulai dari exploration, jadi mereka harus melakukan seismik, kemudian mereka harus mengejar discovery ya, melakukan pengeboran initial pengeboran di mana titik-titik yang ditunjukkan oleh seismik tersebut. Kemudian kita juga perlu men-develop lapangannya agar scale-nya itu masuk secara keekonomian. Dan akhirnya tentu kita harus menjual hidrokarbon tadi," paparnya.
Penyesuaian iklim investasi hulu tersebut dinilai penting untuk mengejar target produksi minyak mentah dalam negeri sebesar 1 juta barel per hari (boh) pada 2030. Untuk mendukung target tersebut, Pertamina mengalokasikan modal kerja (capital expenditure/Capex) sebesar 75% khusus untuk kegiatan eksplorasi dan pengembangan di sektor hulu migas.
"Pertama-tama kita Pertamina mengalokasikan Capex terbesar kita di hulu. Karena apa? Karena memang salah satu mandat yang diberikan oleh pemerintah adalah kita meningkatkan produksi hulu. Mungkin rekan-rekan sering mendengar juga target 1 juta barel di 2030. Jadi kita mengalokasikan sekitar 75% dari Capex kita ke hulu," terangnya.
Penyerapan dana modal kerja tersebut salah satunya difokuskan pada pengembangan proyek minyak dan gas non-konvensional di Rokan dengan potensi 11 miliar barel, serta percepatan temuan sumur Padang Pancuran, Jambi Merang sebesar 1 miliar barel.
Pihaknya turut membuka ruang kolaborasi bagi mitra global dari kawasan ASEAN hingga negara mitra ASEAN+3 untuk berinvestasi bersama di Indonesia.
"Jadi fiskal menjadi sangat penting agar memang Indonesia itu atraktif bagi investor dunia. Dan itu yang kami lakukan di Pertamina Group, kita tentunya melakukan advokasi ke pemerintah dan juga kita mengundang beberapa partners yang ada di dunia ini baik itu di ASEAN, di ASEAN Plus Three tadi, dan juga di kawasan dunia yang lain untuk bersama-sama berinvestasi di Indonesia," tandasnya.
(pgr/pgr)




