Oleh: Yadi Mulyadi
Musim kemarau tahun ini kembali menghadirkan ancaman klasik yang berulang bagi Sulawesi Selatan: kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membakar kawasan karst rentan di bentang alam Maros-Pangkep. Wilayah penyangga dan area di sekitar Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul) turut terseret dalam pusaran bencana ini. Berdasarkan data yang dihimpun Harian Fajar (15/10/2026), eskalasi bencana tersebut bergerak begitu cepat—dari luas lahan terbakar seluas 34,74 hektare pada Senin (12/10), melonjak drastis menjadi 93,43 hektare hanya dalam waktu tiga hari. Perhatian publik umumnya tertuju pada hilangnya vegetasi, gangguan kesehatan akibat asap, serta kerusakan habitat satwa liar. Namun terdapat satu ancaman lain yang luput dari perhatian, yaitu risiko terhadap lukisan gua prasejarah yang menjadikan kawasan Maros-Pangkep dikenal dunia.
Upaya pemadaman yang dilakukan di lapangan oleh tim terpadu yang terdiri dari terlibat personel Manggala Agni, petugas Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Polisi Kehutanan, Juru Pelihara dan Polisi Khusus Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan, Polsek Minasatene, Koramil Minasatene, petugas pemadam kebakaran, serta warga sekitar, perlu kita apresiasi. Semoga mereka diberikan kesehatan dan karhutla bisa segera dipadamkan.
Jejak Peradaban di Karst Maros Pangkep
Bentang karst Maros-Pangkep bukan sekadar kawasan pegunungan batu kapur. Di dalam gua-guanya tersimpan jejak perjalanan panjang manusia yang telah bertahan puluhan ribu tahun. Lukisan hewan, cap tangan, dan berbagai bentuk representasi simbolik yang ditemukan di kawasan ini merupakan warisan budaya yang memiliki nilai universal bagi sejarah umat manusia. Inilah alasan utama mengapa kawasan ini diusulkan menjadi Warisan Budaya Dunia UNESCO.
Sejak tahun 2009, kawasan ini telah masuk dalam daftar Tentative List UNESCO dengan nama “The Prehistoric Cave Sites in Maros-Pangkep”. Nama ini menekankan nilai arkeologis dan budaya dari situs-situs gua prasejarah di kawasan tersebut. Kemudian April 2025, pengusulan ini diperbarui dengan nama baru: “The Prehistoric Caves Area in the Karst Landscape of Maros-Pangkep” (https://whc.unesco.org/en/tentativelists/5467/). Perubahan nama ini mencerminkan pendekatan yang lebih holistik, tidak hanya menyoroti situs gua sebagai entitas terpisah, tetapi juga menekankan pentingnya konteks bentang alam karst sebagai bagian integral dari nilai budaya dan geologis kawasan tersebut.
Ancaman Asap pada Kelestarian Lukisan Gua
Selama ini ancaman terhadap lukisan gua lebih banyak dikaitkan dengan vandalisme, aktivitas wisata yang tidak terkendali, atau perubahan iklim global. Namun peristiwa karhutla menunjukkan adanya faktor lain yang tidak kalah berbahaya, yakni asap kebakaran. Asap sebagai ancaman pada kelestarian lukisan gua, menjadi topik penelitian yang diangkat oleh Asmunandar dalam tugas akhirnya untuk mendapatkan gelar Sarjana Arkeologi dari Universitas Hasanuddin pada tahun 2001. Skripsinya tersebut berjudul “Pengaruh Polusi Asap terhadap Gua-gua Prasejarah di Desa Biringere Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep “.
Banyak orang beranggapan bahwa lukisan gua hanya akan rusak jika api mencapai lokasi situs. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Dalam ilmu konservasi, asap dapat menjadi ancaman serius meskipun kobaran api tidak pernah menyentuh dinding gua. Asap membawa jutaan partikel halus hasil pembakaran biomassa yang dapat masuk ke dalam sistem gua dan mengendap pada permukaan batuan.
Partikel karbon atau jelaga merupakan komponen yang paling mudah dikenali. Dalam jumlah kecil saja, partikel ini dapat menempel pada permukaan lukisan dan perlahan menutupi detail gambar. Bagi masyarakat awam, perubahan tersebut mungkin tidak langsung terlihat. Akan tetapi dalam jangka panjang, lapisan jelaga dapat mengubah tampilan visual lukisan sehingga warna asli pigmen makin sulit diamati.
Ancaman berikutnya berasal dari partikulat halus berukuran PM2,5 dan PM10.
Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel-partikel tersebut terbawa hingga ke bagian dalam gua. Ketika terendapkan pada permukaan batu, partikulat dapat berinteraksi dengan kelembapan dan komponen kimia lain yang pada akhirnya mempercepat proses pelapukan.
Selain itu terdapat senyawa hasil pembakaran yang dikenal sebagai Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs). Senyawa ini lazim ditemukan dalam asap kebakaran vegetasi dan menjadi indikator penting untuk menilai intensitas paparan asap. Meskipun dampaknya terhadap lukisan gua di Indonesia masih memerlukan penelitian lebih lanjut, berbagai studi konservasi menunjukkan bahwa deposisi material hasil pembakaran berpotensi memengaruhi stabilitas permukaan batuan dalam jangka panjang
Yang perlu dipahami, kerusakan lukisan gua bukan semata persoalan visual. Lukisan cadas merupakan sumber data ilmiah yang tidak tergantikan. Ketika sebagian pigmen hilang atau tertutup, informasi mengenai teknik melukis, kronologi, simbolisme, dan perkembangan budaya manusia masa lalu ikut terancam hilang. Kerusakan tersebut hampir mustahil dipulihkan sepenuhnya.
Langkah Penanganan
Karena itu penanganan karhutla di kawasan karst harus ditempatkan bukan hanya sebagai urusan lingkungan hidup, tetapi juga sebagai agenda pelestarian warisan budaya. Pendekatan konservasi yang selama ini diterapkan perlu diperluas dengan memasukkan aspek mitigasi bencana kebakaran.
Langkah pertama adalah membangun sistem pemantauan kualitas udara pada situs-situs gua prioritas. Selama ini pemantauan lebih banyak berfokus pada suhu dan kelembapan. Ke depan, pengukuran partikulat, black carbon, dan senyawa hasil pembakaran perlu menjadi bagian dari program konservasi rutin.
Langkah kedua adalah menetapkan zona perlindungan kebakaran di sekitar kelompok gua yang menyimpan lukisan prasejarah. Pengelolaan vegetasi dan deteksi dini hotspot harus menjadi bagian dari strategi konservasi situs.
Langkah ketiga adalah memperkuat kolaborasi antara pengelola kawasan konservasi, pemerintah daerah, peneliti, komunitas lokal, dan lembaga pelestarian budaya. Karhutla tidak mengenal batas administrasi maupun sektor kelembagaan. Karena itu respons yang diberikan juga harus lintas sektor.
Maros-Pangkep telah memberikan sumbangan besar bagi pemahaman dunia mengenai asal-usul dan perkembangan budaya manusia. Lukisan gua yang bertahan puluhan ribu tahun berhasil melewati perubahan iklim, pergantian zaman, dan dinamika bentang alam. Akan menjadi ironi jika warisan tersebut justru terancam oleh kebakaran yang terjadi pada masa kita.
Karhutla mungkin hanya berlangsung beberapa hari atau beberapa minggu. Namun dampaknya terhadap warisan budaya dapat bertahan jauh lebih lama. Ketika asap menutupi dinding gua, yang sesungguhnya sedang terancam bukan hanya gambar-gambar kuno di atas batu, melainkan juga memori kolektif umat manusia yang tersimpan di dalamnya. (*)





