HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon secara terbuka menyebut Wakil Ketua Komisi V DPR RI Andi Iwan Darmawan Aras (AIA) sebagai sahabatnya saat menghadiri Konferensi Musik Indonesia (KMI) 2026 di Hotel Claro Makassar pada Selasa, 27 Oktober 2026.
Sapaan tersebut disampaikan Fadli Zon dalam sambutannya di hadapan peserta konferensi yang mempertemukan musisi, pencipta lagu, pelaku industri musik, akademisi, serta pemerintah pusat dan daerah.
“Hadir sahabat saya, Pak Andi Iwan Darmawan Aras, Wakil Ketua Komisi V DPR RI,” ujar Fadli Zon.
Pernyataan itu menjadi salah satu momen yang menonjol dalam kegiatan tersebut. AIA hadir dalam konferensi yang mengusung tema “Gerak Seirama” bersama sejumlah pejabat dan tokoh nasional untuk membahas penguatan ekosistem musik Indonesia.
Fadli juga menekankan bahwa peran Makassar dalam perjalanan sejarah musik Indonesia, terutama terkait kiprah Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang pernah mengembangkan kemampuan bermusiknya di kota tersebut.
Konferensi Musik Indonesia 2026 mempertemukan musisi, pencipta lagu, pelaku industri musik, akademisi, serta pemerintah pusat dan daerah.
Rangkaian kegiatan meliputi konferensi utama, lokakarya, kelas intensif, sesi internasional, dan Festival Musik Tradisi Indonesia di Benteng Rotterdam.
Melalui forum tersebut, penguatan kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat memperluas ruang berkarya bagi musisi sekaligus menjaga keberlanjutan musik tradisional sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia.
AIA yang juga menjabat Ketua DPD Partai Gerindra Sulsel menaruh perhatian pada pengembangan potensi seni dan budaya daerah, terutama musik tradisional Sulsel dan peluang pengembangan industri kreatif di kawasan Indonesia Timur.
AIA menilai bahwa kekayaan musik daerah perlu mendapatkan ruang lebih luas agar dapat berkembang, dikenal generasi muda, dan bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
“Konferensi Musik Indonesia ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun ekosistem musik nasional,” ucapnya.
Menurut AIA, Sulsel memiliki kekayaan seni dan budaya yang luar biasa, sehingga perlu mendapat ruang lebih luas agar musik daerah terus berkembang, dikenal generasi muda, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Ketua Kadin Sulsel ini menuturkan bahwa pengembangan musik tidak cukup berhenti pada pelestarian tradisi.
Dukungan terhadap peningkatan kapasitas musisi, perluasan akses pertunjukan, dan pembukaan peluang ekonomi juga diperlukan agar industri musik daerah tumbuh berkelanjutan.
AIA berharap rekomendasi KMI 2026 dapat diterjemahkan menjadi program nyata yang memberikan manfaat bagi musisi, pencipta lagu, komunitas seni, dan pelaku industri kreatif, terutama di Indonesia Timur.
“Saya berharap konferensi ini menghasilkan rekomendasi konkret yang dapat ditindaklanjuti bersama. Pengembangan musik harus berjalan seiring dengan pelestarian budaya, peningkatan kapasitas musisi, perluasan akses pertunjukan, dan pembukaan peluang ekonomi bagi para pelaku seni, khususnya di Indonesia Timur,” katanya. (ams)





