jpnn.com, CILACAP - Guru Besar Unsoed atau Universitas Jenderal Soedirman Prof. Icuk Rangga Bawono, menilai kunjungan kerja Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke Cilacap, Jawa Tengah bisa menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk memperluas kerja sama dengan badan usaha milik negara (BUMN).
Menurut Icuk, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cilacap perlu memanfaatkan momentum tersebut untuk menjajaki program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) BUMN, khususnya dalam pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta potensi ekonomi daerah.
BACA JUGA: Hadirkan Air Bersih di Batam, Pegadaian jadi Koordinator dalam Kolaborasi 23 BUMN bersama Unsoed
"Kunjungan Wapres ini sebenarnya menjadi pintu masuk bagi Pemkab untuk melihat CSR atau TJSL yang bisa dilakukan," ujar Icuk, Selasa (27/10).
Dia mengatakan, program TJSL yang dimiliki BUMN dapat dimanfaatkan untuk mendukung berbagai kegiatan ekonomi produktif masyarakat.
BACA JUGA: Garuda Institute Dukung Pembenahan BUMN, Efisiensi Harus Berpihak Kepentingan Publik
Bentuk dukungannya antara lain pendampingan UMKM, penyusunan rencana bisnis, perluasan akses pasar, hingga pengembangan potensi ekonomi lokal.
Namun, menurut dia, pemerintah daerah harus aktif mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dan mencari peluang kerja sama yang sesuai.
BACA JUGA: Guru Besar Unsoed Nilai Kejaksaan Lebih Dipercaya karena Kerja Cepat
"Peluang tersebut dasarnya adalah dari kajian atau masukan-masukan dari masyarakat dan perguruan tinggi untuk mengoptimalkan hal tersebut. Ini harus dilakukan," kata Icuk.
Selain penguatan UMKM, Icuk juga menyoroti potensi pengembangan energi ramah lingkungan di Cilacap.
Dalam kunjungan kerjanya pada Senin (26/10), Wapres Gibran meninjau pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbahan baku minyak jelantah di fasilitas Pertamina.
Pengembangan bahan bakar tersebut melibatkan masyarakat, termasuk kelompok pengelola bank sampah yang berperan mengumpulkan minyak jelantah sebagai bahan baku.
Icuk menilai inovasi itu berpotensi memberikan manfaat ganda, yakni membantu mengatasi persoalan lingkungan sekaligus membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Meski demikian, ia mengingatkan agar pengembangan teknologi tersebut tidak berhenti pada tahap percontohan.
"Apa yang kemudian dibuat ini jangan sampai berhenti hanya di sini saja, tetapi harus menyentuh permasalahan, menyentuh masyarakat, dan segera bisa diimplementasikan. Itu yang terpenting buat kami," ujar Icuk.
Menurut dia, keberhasilan inovasi tidak hanya diukur dari kemampuan menghasilkan teknologi baru, tetapi juga dari sejauh mana teknologi tersebut dapat diterapkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Lebih lanjut, Icuk menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, BUMN, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam mengembangkan potensi ekonomi Cilacap.
Ia mengatakan perguruan tinggi memiliki berbagai hasil penelitian dan inovasi yang dapat dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan dunia usaha.
Sebaliknya, BUMN memiliki kapasitas industri, jaringan usaha, serta program pemberdayaan yang dapat mendukung penerapan hasil penelitian tersebut.
"Perguruan tinggi punya temuan, Perikanan Indonesia punya permasalahan," katanya.
Menurut dia, pendekatan kolaboratif tersebut dapat diterapkan pada sejumlah sektor unggulan Cilacap, mulai dari perikanan, pemberdayaan UMKM, hingga pengembangan energi terbarukan.
Karena itu, dirinya meminta Pemkab Cilacap tidak hanya menunggu bantuan maupun program dari pemerintah pusat.
Pemerintah daerah, kata dia, perlu mengambil inisiatif dengan menyusun prioritas pembangunan, memetakan kebutuhan masyarakat, dan menjajaki kerja sama dengan berbagai pihak.
Ia berharap kunjungan Wapres Gibran tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui kerja sama konkret yang berdampak pada perekonomian masyarakat.
Dengan sinergi antara pemerintah, BUMN, perguruan tinggi, dan pelaku usaha, Icuk optimistis berbagai potensi ekonomi Cilacap dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang memberikan nilai tambah bagi daerah. (esy/jpnn)
Redaktur : Djainab Natalia Saroh
Reporter : Mesyia Muhammad




