Jakarta, CNBC Indonesia - Ekspor cip Korea Selatan (Korsel) terancam anjlok hingga US$100 miliar atau sekitar Rp1.810 triliun. Risiko ini muncul jika perusahaan teknologi raksasa Amerika Serikat (AS) mengerem belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) pada 2027.
Melansir Reuters, Selasa (27/10/2026), Bank of Korea (BOK) memperingatkan perlambatan investasi AI dapat mengguncang ekonomi negara yang sangat bergantung pada industri semikonduktor tersebut. Dalam tanggapan tertulis kepada anggota parlemen Ahn Do-geol, BOK memaparkan skenario pesimistis jika perusahaan teknologi AS memangkas pengeluaran modal mereka.
Dalam skenario tersebut, nilai ekspor semikonduktor Korsel berpotensi turun US$50 miliar (Rp905 triliun) hingga US$100 miliar (Rp1.810 triliun), dibandingkan proyeksi sebelumnya. BOK memperkirakan penurunan ekspor tersebut dapat memangkas pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Korsel pada 2027 hingga 0,4 poin persentase.
Dampaknya juga berpotensi membuat surplus neraca berjalan jauh di bawah proyeksi awal bank sentral yang mencapai US$430 miliar (Rp7.783 triliun) pada tahun tersebut. Skenario itu didasarkan pada asumsi harga satuan semikonduktor Korsel turun 10%.
- Mantan Gubernur Bank Sentral Ditahan Kejaksaan, Diduga Korupsi Rp14 T
- Ratu Thailand Nyetir Boeing 737-800 Sendiri, Tokyo-Bangkok 8 Jam
- Breaking: Houthi Yaman Deklarasi Perang ke Mesir
- Petaka Segera Hantam India, Ribuan Warga Dievakuasi
BOK menyoroti tingginya ketergantungan ekonomi negara tersebut terhadap industri cip, yang menyumbang sekitar separuh dari total ekspor nasional. Kekhawatiran itu muncul ketika belanja modal perusahaan teknologi AS terus meningkat untuk membangun infrastruktur AI.
Total belanja modal Amazon, Google, Microsoft, Meta, dan Oracle dilaporkan naik dari US$40 miliar (Rp724 triliun) pada tahun lalu menjadi sekitar US$80 miliar (Rp1.448 triliun) tahun ini, dan diproyeksikan mencapai US$110 miliar (Rp1.991 triliun) pada 2027.
Meski demikian, BOK mengingatkan arah permintaan AI dan siklus bisnis cip memori masih diliputi ketidakpastian. Jika investasi AI melambat, permintaan semikonduktor yang selama ini menopang ekspor Korsel dapat ikut melemah.
Peringatan tersebut menegaskan risiko yang dihadapi Korsel jika lonjakan investasi AI tidak berlanjut. Dengan porsi semikonduktor yang besar dalam ekspor nasional, perubahan belanja perusahaan teknologi AS dapat berdampak langsung terhadap kinerja perdagangan dan pertumbuhan ekonomi negara itu.
(tfa/sef)




