Satu bangsa, berjuta linimasa

antaranews.com
8 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Bayangkan dua anak muda duduk bersebelahan di MRT yang sama. Di layar yang satu, Indonesia terlihat sedang melaju: proyek diresmikan, prestasi dirayakan, masa depan dijanjikan. Di layar sebelahnya, Indonesia tampak sedang kelelahan: pelamar kerja mengantre, keluarga menghitung biaya hidup, warga mengeluhkan gangguan asap karhutla. Mereka turun di stasiun yang sama, tetapi mungkin membawa pulang dua negeri yang berbeda.

Jika setiap hari kita menerima potongan Indonesia yang berlainan, apa yang masih membuat kita merasa sedang menjalani kehidupan bersama?

Pada 28 Oktober, kita kembali mengenang keberanian pemuda membayangkan sebuah bangsa. Tema peringatan tahun ini, “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, menyampaikan harapan yang patut dirawat. Namun, sebelum meminta mereka mencintai negeri, bertahan menghadapi kesulitan, dan peduli kepada sesama, kita perlu bertanya: Indonesia seperti apa yang kita perkenalkan kepada mereka?

Indonesia terlalu luas untuk dialami sendiri. Seorang mahasiswa di Bandung tidak mungkin menyaksikan langsung seluruh kehidupan nelayan di Maluku, buruh di Morowali, atau keluarga petani di Nusa Tenggara Timur. Ia membutuhkan perantara. Pers menjalankan sebagian pekerjaan itu: membawa kehidupan yang jauh menjadi cukup dekat untuk dipahami dan dipedulikan.

Namun, jalan menuju informasi telah berubah. Digital News Report 2026 dari Reuters Institute mencatat, 48 persen responden di Indonesia menjadikan media sosial dan jaringan video sebagai sumber utama berita, naik delapan poin persentase dari tahun sebelumnya. Angka survei daring ini menggambarkan perilaku responden yang terhubung ke internet, bukan seluruh penduduk Indonesia. Meski demikian, pergeseran pintu masuk informasi terlihat jelas.

Berita kini hadir di layar yang sama dengan iklan sepatu, video kelucuan, kemarahan politik, dan nasihat investasi. Semua berebut perhatian. Peristiwa yang menentukan hidup ribuan orang dapat terlewat karena penyajiannya kurang menarik. Sebaliknya, ucapan sepotong memenuhi percakapan berhari-hari karena mengundang pertengkaran. Nilai penting suatu perkara harus bertarung dengan daya tariknya.

Pada kelompok muda, perubahan itu lebih kentara. Dalam laporan yang sama, 52 persen responden berusia 18–24 tahun di seluruh pasar yang disurvei menyebut media sosial, jaringan video, dan chatbot AI sebagai jalur utama memperoleh berita. Ini angka lintas negara, bukan angka khusus pemuda Indonesia. Namun, temuan tersebut memperlihatkan tantangan bagi redaksi: menerbitkan berita tidak serta-merta berarti berhasil menjangkau generasi muda.

Sistem rekomendasi memilih materi berdasarkan beragam sinyal, termasuk perilaku pengguna. Pilihan kita ikut membentuk apa yang muncul berikutnya. Namun, ruang pilihan itu juga disusun perusahaan yang mempunyai kepentingan bisnis. Kita bergerak dalam hubungan timbal balik yang tidak sepenuhnya dipahami, dengan kendali yang tidak seimbang.

Tentu, perbedaan pandangan sudah ada sebelum media sosial. Orang yang hidup berkecukupan dan orang yang mencemaskan uang sewa memang mengalami Indonesia secara berbeda. Algoritma tidak menciptakan seluruh jurang tersebut. Namun, pengalaman digital dapat mempersempit kesempatan bertemu informasi yang mengganggu keyakinan sendiri, termasuk pengalaman warga yang selama ini tidak kita kenal.

Persatuan pun menghadapi persoalan yang lebih rumit daripada kekurangan slogan. Kita bisa mengucapkan ikrar yang sama sambil semakin sulit memahami alasan orang lain merasa kecewa atau marah. Keluhan dianggap kebencian. Keberhasilan dianggap propaganda. Orang berhenti memeriksa suatu pernyataan karena merasa sudah mengetahui kelompok mana yang diuntungkan olehnya.

AI kemudian hadir sebagai perantara tambahan. Pertanyaan tentang kebijakan, sejarah, atau keadaan ekonomi dijawab melalui percakapan yang terasa pribadi. Bahasanya tenang, susunannya rapi, kesimpulannya meyakinkan. Bagi orang yang kelelahan menelusuri tautan, dunia yang rumit seolah dapat diringkas menjadi beberapa paragraf.

Gejalanya sudah terukur. Reuters Institute mencatat penggunaan mingguan chatbot AI untuk berita meningkat dari 7 persen pada 2025 menjadi 10 persen pada 2026 di seluruh pasar surveinya. Pada kelompok usia 18–24 tahun, angkanya mencapai 17 persen. AI belum menjadi jalur mayoritas, tetapi sudah menjadi bagian dari kebiasaan sebagian pembaca muda.

Kemudahan itu dapat membantu orang belajar. Namun, jawaban yang lancar tetap bisa keliru, kehilangan konteks, atau bersandar pada bahan yang lemah. Ketika asal kesimpulan tidak diperiksa, keterangan yang seharusnya dipertanyakan dapat diterima sebagai pegangan. Kemampuan menggunakan AI harus disertai kecakapan menilai jawabannya.

Tetapi terlalu mudah jika seluruh tanggung jawab dilemparkan kepada pemuda. Kita menyuruh mereka memeriksa fakta, sementara media mengejar kecepatan. Kita meminta mereka membaca secara utuh, sementara judul sengaja dibuat menyesatkan. Kita menasihati mereka agar menghindari polarisasi, sementara pertengkaran terus diproduksi sebagai tontonan. Nasihat kehilangan wibawa ketika pemberinya hidup dari kebiasaan yang ia kecam.

Kepercayaan pun tidak bisa dianggap tersedia selamanya. Dalam survei Reuters Institute, tingkat kepercayaan terhadap berita secara umum di Indonesia turun dari 36 persen pada 2025 menjadi 32 persen pada 2026. Namun, kepercayaan terhadap sebagian besar merek media yang diukur tidak ikut turun. Perbedaan ini mengingatkan bahwa penilaian atas lingkungan informasi secara keseluruhan tidak selalu sama dengan penilaian terhadap sebuah redaksi.

Angka tersebut seharusnya mendorong pemeriksaan diri. Berapa sering pemuda hadir dalam berita sebagai manusia dengan pengalaman dan pikiran, bukan sekadar angka pengangguran atau peserta acara? Berapa banyak laporan mendengarkan kecemasan mereka tanpa buru-buru menyebutnya kurang tangguh? Apakah kita mengenal generasi yang setiap Oktober dipuji sebagai penerus bangsa?

Pertanyaan serupa berlaku bagi peliputan daerah. Indonesia tidak menjadi lebih dikenal hanya karena semua provinsi pernah disebut dalam berita. Sebuah wilayah bisa ramai diberitakan karena kunjungan pejabat, sementara persoalan air bersih masyarakatnya bertahun-tahun tidak memperoleh perhatian sepadan. Kehadiran nama daerah belum menjamin keterwakilan kehidupan warganya.

Bagi lembaga pemberitaan yang membawa tanggung jawab nasional, keluasan jangkauan semestinya berarti keluasan pendengaran. Jaringan peliputan harus menghadirkan pengalaman yang luput dari perhatian pusat. Ukuran keberhasilannya ialah apakah masyarakat memperoleh gambaran lebih lengkap tentang negaranya, termasuk ketika gambaran itu tidak nyaman bagi pemegang kekuasaan.

Kepentingan nasional terlalu besar untuk dipersempit menjadi kebutuhan menjaga citra. Bangsa membutuhkan informasi tentang keberhasilan agar dapat belajar, serta kegagalan agar dapat memperbaikinya. Menutupi kesulitan warga atas nama optimisme justru menjauhkan percakapan kebangsaan dari pengalaman orang-orang yang diharapkan mempercayainya.

Patriotisme yang dewasa memerlukan kejujuran tersebut. Pemuda tidak otomatis kurang mencintai Indonesia karena mempertanyakan biaya pendidikan atau mutu pekerjaan. Kritik dapat tumbuh dari keinginan membangun kehidupan yang lebih layak di negeri sendiri. Mendengarkannya merupakan bagian dari merawat hubungan antara warga dan negaranya.

Kegigihan juga membutuhkan kesempatan. Kisah anak muda yang menembus keterbatasan memang memberi semangat. Namun, jika pers hanya menyoroti mereka yang berhasil, kita kehilangan cerita tentang rintangan yang membuat banyak orang tertahan. Keberhasilan seseorang tidak menghapus kewajiban memperbaiki keadaan yang menyulitkan orang lain.

Sementara itu, empati membutuhkan perjumpaan dengan kehidupan berbeda. Jurnalisme mempunyai pekerjaan penting: memberikan konteks dan wajah manusia kepada persoalan publik. Warga yang kehilangan pekerjaan pantas hadir dengan riwayat hidup, tanggungan, dan usaha yang telah ditempuhnya. Ia layak dipahami lebih jauh daripada sebagai angka atau bahan perdebatan.

Kita tidak membutuhkan satu linimasa untuk semua orang. Keseragaman informasi dapat menjadi pembungkaman. Yang dibutuhkan ialah dasar faktual untuk membicarakan perbedaan secara masuk akal: sumber yang jelas, data yang dapat diperiksa, kekeliruan yang dikoreksi, dan kesediaan mendengarkan orang yang menanggung akibat sebuah keputusan.

Dua anak muda di MRT tadi tidak harus pulang dengan pendapat yang sama. Namun, mereka berhak memperoleh informasi yang cukup untuk memahami mengapa tetangganya melihat Indonesia secara berbeda. Sebelum meminta mereka bersumpah untuk negeri ini, kita perlu memeriksa pekerjaan sendiri: sudahkah kita membantu mereka saling mengenal?



*) Wicaksono, angggota dewan pengawas LKBN Antara dan pemerhati isu AI


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Puan: Prestasi RI dalam Asian Para Games 2026 inspirasi generasi muda
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
Kapolri Suyudi Ario Seto Jamin Pengamanan Demo Hari Ini Lebih Humanis
• 1 jam lalucumicumi.com
thumb
Citra Positif dari Bus Klasik
• 9 jam lalukompas.id
thumb
522 Rumah Rusak Diterjang Puting Beliung dan Longsor di Bandung Barat
• 19 jam lalurctiplus.com
thumb
Polisi Bongkar Penimbunan BBM Subsidi di Bengkulu, 3,3 Ton Biosolar Diamankan
• 13 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.