Investasi Rp 400 Triliun, Kapan Gas Masela Mulai Mengalir?

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS —  Proyek gas Abadi Masela senilai 22 miliar dolar AS memasuki tahap penentu setelah perancangan teknis selesai tiga bulan lebih cepat dari jadwal. Keputusan investasi akhir yang ditargetkan paling lambat Januari 2027 akan membuka jalan bagi produksi gas yang diharapkan mulai mengalir pada 2029–2030.

Rampungnya tahap perancangan teknis dan analisis proyek (front end engineering design/FEED) ini ditandai dengan FEED Completion Ceremony Inpex di Jakarta, Selasa (27/10/2026). Selanjutnya adalah pengerjaan evaluasi akhir investasi (Final Investment Decision).

Hadir dalam acara itu Senior Vice President INPEX Asia Projects Akihiro Watanabe,  President Director INPEX Masela Ltd Kenji Hasegawa, Executive Project Director INPEX Masela Ltd Jarrad Blinco, dan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto.

Penyelesaian FEED melibatkan sejumlah perusahaan rekayasa dan mitra teknis. Di antaranya Saipem, Tripatra, McDermott, Technip, JGC, TEN, KBR Indonesia, PT Adhi Karya, Samsung E&A, dan Worley.

Unsur akademisi juga terlibat dalam penelaahan dokumen FEED. Disebutkan, sekitar 200 akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Pattimura (UNPATTI) ikut menelaah dokumen FEED Lapangan Abadi Masela ini.


President Director INPEX Masela Ltd, Kenji Hasegawa, menjelaskan, tahapan FEED terdiri dari umbilikal bawah laut, sistem pipa bawah laut, pipa penyalur ekspor gas, produksi terapung, kapal penyimpanan dan pembongkaran, dan kilang LNG darat.

”Semua komponen ini membentuk fondasi teknologi untuk pembangunan proyek LNG Abadi yang terintegrasi,” katanya.

Selain berterima kasih kepada semua pemangku kepentingan, Kenji memastikan INPEX akan terus bekerja bersama pemerintah, mitra joint venture, kontraktor, dan semua pemangku kepentingan untuk membangun proyek secara aman dan bertanggung jawab.

”FEED lebih cepat tiga bulan, Oktober sudah selesai. Mudah-mudahan FID (final investment decision) segera, atau paling telat kalau bisa akhir januari 2027,” kata Djoko dalam seremoni FEED Completion.


Dia optimistis proyek Abadi Masela bisa langsung berlanjut ke tahap berikutnya karena setelah ini Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) diteken. Dia juga berharap produksi gas Masela sudah bisa berlangsung paling lambat tahun 2030.

"PJBG selain FID adalah syarat utama konsorsium Inpex menyetujui FID. Ada satu lagi pengadaan barang dan jasa. Mudah mudah-mudahan bisa ikut cepat. Produksi gas mulai secepatnya kalau bisa 2029, bagus 2030 paling telat akhir tahun 2030," tuturnya.

Proyek LNG Abadi Masela menjadi proyek terbesar di Indonesia dengan nilai investasi sekitar 22 miliar dolar AS atau hampir Rp 400 triliun. Target produksi mencapai 1.380 Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD) atau juta kaki kubik standar per hari.

Baca JugaTertunda 28 Tahun, Pembangunan Proyek Gas Blok Masela Dimulai

Produksi LNG diperkirakan mencapai 9,5 juta ton per tahun, 100 MMSCFD untuk gas pipa domestik, serta sebanyak 35.000 barel kondensat per hari.
Menurut Djoko, Senin (26/10/2026) dan Minggu (25/10/2026), Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sudah menandatangani persetujuan alokasi gas domestik baik itu berupa gas pipa untuk Pupuk Indonesia, LNG untuk PLN, dan LNG untuk PGN.

"Dan kemarin Bapak Menteri juga mendadatangani untuk ekspor LNG-nya ke BP Singapura dan juga Shell Singapur. Meskipun kita mengurangkan sedikit (ekspor gas) tapi kita ekspor tetap konsisten banyak ke Singapura," katanya.


Pemerintah Indonesia mengurangi ekspor gas pipa ke Singapura. Pengurangan dilakukan dari Natuna sebesar 15 MMBTU dan dari Sumatera 16 MMBTU. Pasokan ini dialihkan ke PLN Batam.

Secara keseluruhan, menurut Bahlil dalam keterangan kepada wartawan di kantor Kementerian ESDM Jakarta Senin (26/10/2026), ekspor gas pipa Indonesia ke Singapura 409,55 MMBTU. Pengurangan sebesar 7,5 persen tersebut tidak melampaui batas minimum pemenuhan kontrak.

Pemerintah Indonesia juga akan mengimpor 30 juta barel minyak mentah dari Uni Emirat Arab.  Hal ini, menurut Djoko, tanpa biaya. Tawaran ini disampaikan Duta Besar UEA Abdulla Salem Al Dhaheri saat diterima Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Selasa (27/10/2026).

Dalam pengiriman ini, tidak ada biaya kapal maupun premi asuransi yang perlu dibayarkan. Oleh karena itu, impor akan dilakukan secepatnya.
Dalam pertemuan itu, Djoko melanjutkan, juga hadir petinggi Mubadala Energy yang melaporkan evaluasi akhir investasi (Final Investment Decision) dari pengerjaan wilayah kerja Southwest Andaman, Aceh.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menperin Apresiasi Toyota Indonesia Produksi Mobil Berbahan Bakar Etanol
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Foto: Lebih dari 11 Ribu Warga Palangka Raya Dirawat Akibat Infeksi Pernapasan
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Mobil Acura NSX Roadster Milik Iron Man di Film The Avengers Dilelang, Harganya Fantastis
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Jelang Libur Nataru, Mendagri Wanti-wanti Lonjakan Harga Pangan
• 23 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Ubah Perspektif Masyarakat Tak Maklumi Kekerasan, PR Terberat Kementerian PPPA
• 13 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.