Vietnam tengah menggenjot sektor pariwisata kelas atas dengan menambah kapasitas hotel mewah di Hanoi. Pemerintah kota menargetkan penambahan setidaknya 10.000 kamar hotel bintang empat dan lima di seluruh wilayah Hanoi hingga 2030. Dikutip dari Bloomberg, target tersebut muncul di tengah semakin banyaknya hotel mewah generasi baru yang masuk ke ibu kota Vietnam. Dalam beberapa bulan terakhir, Fairmont, The Theodore, dan Shilla Monogram telah resmi beroperasi di Hanoi. Sementara Waldorf Astoria dan The Leah Hanoi dijadwalkan segera menyusul. Ekspansi tersebut membuat Sofitel Legend Metropole Hanoi, hotel berusia 125 tahun yang selama ini menjadi ikon kemewahan di ibu kota Vietnam, tidak lagi berdiri sendirian di segmen tersebut. “Vietnam telah menjadi salah satu pasar paling potensial saat ini, bersanding dengan Jepang,” ujar CEO Sofitel Legend, Sofitel, MGallery & Emblems, Maud Bailly dikutip dari Bloomberg, Rabu (28/10). Bailly mengatakan, setelah pandemi COVID-19, tren pariwisata di Asia semakin bergerak secara intra-regional. Menurut dia, wisatawan dari kawasan Asia kembali melakukan perjalanan dan Vietnam menjadi salah satu pasar yang memiliki potensi besar. “Pasca-COVID-19, kami melihat tren pariwisata di Asia bergerak semakin intra-regional. Awalnya kami ragu apakah wisatawan asal China akan kembali, tetapi nyatanya kawasan ini sangat tangguh dan justru melonjak pesat dengan sendirinya,” katanya. Sofitel Legend, Sofitel, MGallery, dan Emblems merupakan empat lini brand mewah di bawah grup perhotelan Prancis, Accor SA. Grup tersebut saat ini mengoperasikan 45 hotel di Vietnam, dengan tujuh di antaranya berada di bawah divisi yang dipimpin Bailly.
Vietnam pun menjadi pasar terbesar kedua Accor di Asia setelah Thailand. Bailly mengungkapkan, pihaknya masih memiliki rencana pengembangan 12 hotel baru lainnya di Vietnam. Sementara itu, Chief Executive Officer Savills Vietnam Neil MacGregor menilai persaingan di sektor perhotelan Hanoi akan semakin ketat seiring masuknya hotel-hotel baru ke pasar.
“Persaingan bakal makin ketat seiring masuknya hotel-hotel baru ke pasar,” kata MacGregor.
Menurut dia, tantangan utama bagi pengelola hotel bukan hanya mengantisipasi potensi kelebihan pasokan, tetapi juga memastikan produk yang ditawarkan memiliki pembeda dibandingkan kompetitor. Ekspansi hotel mewah tersebut berlangsung bersamaan dengan proyek perombakan infrastruktur besar-besaran di Hanoi. Proyek senilai USD 2,5 triliun itu dirancang untuk mentransformasi sebagian besar wilayah kota, meski untuk sementara turut mengubah sejumlah kawasan menjadi lokasi konstruksi dan memicu keresahan warga. Vietnam juga tengah mengejar peningkatan pendapatan dari sektor pariwisata. Hanoi menargetkan pendapatan pariwisata mencapai 340 triliun dong atau sekitar USD 13,2 miliar pada 2030. Target tersebut menjadi bagian dari strategi Vietnam untuk merebut pangsa belanja wisatawan dari Thailand. Data pemerintah menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Vietnam mencapai 17,7 juta pada sembilan bulan pertama 2026, naik 14,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Wisatawan asal China dan Korea Selatan masih menjadi penyumbang terbesar. Di tengah pertumbuhan tersebut, Vietnam juga menghadapi tantangan untuk menjaga daya tarik alam dan budaya yang menjadi modal utama pariwisatanya. Pembangunan resor secara masif dan lonjakan jumlah wisatawan mulai memberikan tekanan terhadap kelestarian sejumlah kawasan pantai. “Menjaga identitas dan kebudayaan Vietnam juga menjadi prioritas utama,” ujar Perwakilan UNESCO untuk Vietnam, Jonathan Baker. Sementara itu, persaingan hotel mewah belum membuat Bailly khawatir terhadap posisi Sofitel Legend Metropole Hanoi. Hotel yang pertama kali dibuka pada 1901 dengan tarif kamar sekitar USD 7 tersebut kini mematok harga menginap mulai sekitar USD 400 hingga USD 6.300 per malam untuk kelas suite. Hotel yang dikenal dengan bangunan bergaya kolonial dan sejarahnya pada masa perang tersebut pernah menjadi tempat menginap sejumlah tokoh ternama, termasuk Charlie Chaplin dan Jane Fonda. Salah satu lorongnya kini dihiasi foto hitam-putih dan memorabilia yang merekam perjalanan sejarah hotel tersebut. Menurut Bailly, semakin banyak hotel mewah hadir di Hanoi justru dapat memperkuat posisi kota tersebut sebagai destinasi wisata kelas atas. “Semakin banyak properti mewah yang menginspirasi, tentu semakin baik. Saya tidak terlalu khawatir dengan persaingan yang ada,” tuturnya.





