Terkuak Profesi Pembunuh Istri dan Anak di Madiun, Gajinya Capai 150 Dolar hingga Punya Izin Kerja di Eropa

grid.id
57 menit lalu
Cover Berita

Grid.ID - Profesi pembunuh istri dan Anak di Madiun kini ikut jadi sorotan setelah kasusnya viral. Tak disangka, pelaku ternyata punya pekerjaan mentereng dengan IQ di atas rata-rata.

Belakangan publik dihebohkan dengan terkuaknya kasus pembunuhan istri dan anak di Madiun. Setelah ditelusuri, pelaku pembunuhan sadis ini ternyata adalah suami siri korban.

Pria bernama Dwi Bagus Martono (40) itu telah menghilangkan nyawa istri sirinya, Dini Hardiyanti (30), dan anaknya, AGF (4). Dini dan anaknya sempat dilaporkan hilang kontak sejak 20 September 2026.

Keluarga kemudian melaporkan kehilangan kedua korban ke Polres Madiun Kota pada 5 Oktober 2026. Dari hasil penyelidikan terungkap korban dibunuh di sebuah kamar hotel di Kota Madiun pada 20 September 2026.

Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Arbaridi Jumhur, menjelaskan bahwa tersangka diduga terlebih dahulu membunuh DH di dalam kamar hotel dengan cara mencekik lehernya hingga meninggal dunia. Setelah itu, jasad korban dibawa keluar dari hotel.

Selanjutnya, tersangka membawa jenazah DH ke rumahnya yang berada di kawasan Jalan Doho, Kota Madiun. Sesampainya di teras depan rumah, tersangka kemudian diduga membunuh anak berusia empat tahun berinisial AGF dengan cara mencekik lehernya.

"Jadi dilakukan oleh suami sirinya karena pertengkaran di sebuah hotel di wilayah Madiun Kota. Terus dibunuh dengan cara mencekik, dibawa keluar hotel dan anaknya sendiri pun diperlakukan yang sama tapi beda tempat, di dalam mobil," kata Jumhur di Lobby Gedung Ditreskrimum Mapolda Jatim seperti dikutip dari Kompas.com, Rabu (28/10/2026).

Setelah membunuh kedua korban, pelaku berupaya menghilangkan jejak kejahatannya dengan cara memotong bagian tubuh korban dan membakarnya di sebuah tunggu di sekitar rumah.

Profesi Pembunuh Istri dan Anak di Madiun

Aksi sadis Dwi Bagus ini langsung jadi perhatian publik hingga membuat latar belakangnya ikut disorot. Informasi mengenai latar belakang pekerjaan Bagus pun diungkap oleh kuasa hukum korban, Ikbal Sermaf, setelah pihaknya melakukan penelusuran profil terhadap terduga pelaku.

Ikbal mengatakan, Bagus bukan pekerja kapal biasa, melainkan tenaga profesional yang disebut memiliki keahlian dan dibutuhkan perusahaan asing.

 

"Latar belakang dari pelaku ini memang dia salah satu pekerja yang cukup dikenal di kalangan teman-temannya di bidang perkapalan," ujar Ikbal dikutip dari Surya Malang.

"Dia sebenarnya bukan ABK biasa, melainkan tenaga kerja yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan asing di luar negeri," lanjut Ikbal.

Dari hasil analisis profiling dan wawancara langsung dengan pelaku, Ikbal mengatakan, Dwi Bagus disinyalir berprofesi sebagai konsultan perkapalan.

"Mungkin semacam konsultan untuk perkapalan-perkapalan, seperti itu yang saya dalami dan saya profiling dari hasil pertanyaan saya kepada pelaku," jelasnya.

Informasi ini diperkuat oleh keterangan narasumber internal yang menyebutkan pelaku memiliki keahlian khusus di bidang pengeboran minyak lepas pantai (offshore) serta kemampuan las di bawah air (underwater welding). Artinya, pelaku memiliki keterampilan khusus sehingga bisa melakukan pengelasan sembari menyelam di bawah air laut.

Bukan cuma itu, pelaku juga disebut memiliki izin kerja mencakup wilayah Eropa dengan gaji yang fantastis mencapai sekitar 100 hingga 150 ribu USD setiap kali kontrak.

"Pelaku ini ahli di pengeboran minyak lepas pantai dengan kisaran gaji 100 sampai 150 ribu Dolar AS setiap kali kontrak. Statusnya saat ini masih aktif bekerja dan izin kerjanya tembus sampai Eropa," ujar seorang narasumber internal dikutip dari Surya Malang.

Pelaku Punya IQ Tinggi

Menurut Tribun Jatim, Dwi Bagus juga diketahui memiliki IQ di atas rata-rata. Direktur Ditreskrimum Polda Jatim, Kombes Pol Roy Hutton Marulamrata mengatakan, hal tersebut terungkap berdasarkan hasil tes kejiwaan yang dijalani pelaku.

Selain itu, Bagus memiliki kecenderungan psikologis untuk memposisikan diri sebagai individu yang superior.

"Terhadap pelaku juga kita sudah lakukan tes psikologis ya. Memang kasus tes psikologi-nya sudah keluar dan sudah disampaikan kemarin. Memang ada kecenderungan tersangka ini bersifat superior," ujarnya di Selasa (27/10/2026).

 

Dengan kecerdasan yang dimiliki, pelaku secara keji mengeksekusi pembunuhan hingga berupaya menghilangkan jejak aksinya selama dua hari.

"Dia mempunyai kelebihan dari sisi IQ, juga pintar. Kemudian juga dia juga memiliki kepintaran yang tinggi. Waktu yang dibutuhkan, yaitu 2 hari."

"Mulai dari dia melakukan peristiwa pembunuhan sampai dia mengamankan seluruh perbuatan yang dia lakukan," jelasnya. (*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
MSIG Life Kurangi Porsi Investasi Saham Jadi Rp 1,3 Triliun saat IHSG Bergejolak
• 16 jam lalukatadata.co.id
thumb
Respons Singapura usai RI Pangkas Ekspor Gas, Diversifikasi Sumber Impor dan Bauran Energi
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
BPK Ungkap Tiga Cara Hitung Kerugian Negara Kasus Kuota Haji
• 17 jam laluliputan6.com
thumb
Harga Tiket Museum Sumpah Pemuda, Wisata Sejarah untuk Peringati 28 Oktober
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Menteri LH Sebut Perdagangan Karbon dan Biodiversitas Buka Peluang Ekonomi Hijau
• 14 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.