Jakarta: PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyetujui pembagian dividen tunai khusus senilai Rp1,564 triliun kepada pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Menurut manajemen, pembagian dividen khusus tersebut menjadi yang pertama dalam sejarah perseroan.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, pemegang saham juga menyetujui penggunaan saldo laba ditahan sebesar Rp2 triliun untuk dana cadangan operasional dan pengembangan perseroan.
"Secara aklamasi, pemegang saham menyetujui penggunaan saldo laba ditahan perseroan untuk digunakan sebagai dana cadangan operasional dan pengembangan perseroan sebesar Rp2 triliun, serta pembagian dividen tunai khusus dengan total nilai sebesar Rp1,564 triliun," ujar Jeffrey dalam konferensi pers seusai RUPSLB di Main Hall BEI, Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 28 Oktober 2026.
Jeffrey menjelaskan, pembagian dividen khusus diberikan kepada pemegang saham yang berhak sesuai Daftar Pemegang Saham perseroan pada 27 Oktober 2026.
Keputusan tersebut merupakan bagian dari agenda kedua RUPSLB. Pemegang saham menyetujui penggunaan saldo laba ditahan untuk mendukung cadangan operasional dan pengembangan perseroan sesuai ketentuan Pasal 26 ayat (2) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 13 Tahun 2026.
Dalam agenda pertama, pemegang saham menyetujui perubahan anggaran dasar perseroan dalam rangka demutualisasi BEI. Perubahan tersebut mengacu pada POJK Nomor 13 Tahun 2026 tentang Pemegang Saham Bursa Efek.
Jeffrey mengatakan, perubahan anggaran dasar akan berlaku efektif setelah memperoleh persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta persetujuan atau penerimaan pemberitahuan perubahan anggaran dasar dari Menteri Hukum Republik Indonesia.
Sementara itu, agenda ketiga RUPSLB membahas persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) BEI untuk tahun buku 2027. Dalam RKAT tersebut, BEI menetapkan 51 rencana kerja dengan total anggaran Rp596,4 miliar. Anggaran dialokasikan untuk penguatan bisnis serta pengembangan infrastruktur dan kapabilitas pendukung.
Baca Juga :
BEI Perluas Komite HSC Libatkan Investor Asing dan Akademisi(Ilustrasi perdagangan saham di BEI. Foto: dok MI/Usman Iskandar)
BEI bidik nilai transaksi harian Rp21 triliunBEI menargetkan rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp21 triliun pada 2027. Target tersebut meningkat 16,7 persen dibandingkan target revisi 2026 sebesar Rp18 triliun.
Bursa juga menargetkan 905 pencatatan efek baru pada 2027. Target tersebut terdiri atas 25 pencatatan saham baru, 175 emisi obligasi dan sukuk, serta 705 efek lainnya.
Dari sisi aktivitas investor, BEI membidik rata-rata 1,3 juta investor aktif per bulan pada 2027. Angka tersebut meningkat 44,4 persen dibandingkan target revisi 2026 sebanyak 900 ribu investor.
Dalam rencana strategis jangka panjang melalui Master Plan BEI 2026–2030, bursa menetapkan sejumlah target pengembangan pasar modal Indonesia.
Pada 2030, BEI menargetkan kapitalisasi pasar mencapai Rp30 ribu triliun, rata-rata nilai transaksi harian Rp31 triliun, jumlah perusahaan tercatat sebanyak 1.100, serta total investor pasar modal mencapai 35 juta.
Target tersebut menjadi bagian dari arah pengembangan pasar modal dalam lima tahun mendatang, mencakup peningkatan aktivitas perdagangan, pertumbuhan jumlah perusahaan tercatat, dan perluasan basis investor.




