Surabaya (beritajatim.com) – Collective Studios, Galleri5, dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari berkolaborasi mengembangkan cerita orisinal Indonesia menjadi film dan serial yang berpotensi menembus pasar global. Kerja sama Indonesia–India ini memadukan kekayaan budaya Nusantara, talenta kreatif lokal, serta teknologi kecerdasan artifisial (AI) untuk memperluas jangkauan industri kreatif nasional.
Kolaborasi tersebut diumumkan dalam forum Indonesia–India Creative-Tech Corridor di Jakarta, bertepatan dengan Hari Ekonomi Kreatif Nasional 2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Dewan Nasional KEK, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa pemanfaatan AI harus memperkuat peran kreator, bukan menggantikannya.
“Kecerdasan artifisial harus memberdayakan kreator, bukan menggantikan mereka,” tegas Airlangga dalam keterangan tertulisnya, Rabu (28/10/2026).
Airlangga juga menekankan pentingnya memastikan kemitraan tersebut melibatkan talenta dan cerita Indonesia. Perlindungan serta peningkatan nilai tambah kekayaan intelektual (IP) nasional menjadi bagian penting dalam pengembangan industri kreatif berbasis teknologi.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengatakan kolaborasi ini mempertemukan kekuatan cerita Indonesia dengan kemampuan teknologi dan produksi audiovisual India. Kemitraan tersebut juga membuka peluang pengembangan talenta, perlindungan IP, dan perluasan akses pasar internasional.
“Melalui berbagai diskusi, kami melihat peluang untuk menghubungkan kekayaan cerita budaya dan talenta kreatif Indonesia dengan kemampuan India yang maju dalam bidang teknologi dan produksi audiovisual. Visi bersama inilah yang melahirkan Indonesia–India Creative-Tech Corridor, sekaligus pengembangan Creative-Tech Sandbox yang akan membuka peluang kolaborasi bagi kreator dan mitra industri,” ujar Teuku Riefky.
Salah satu gagasan awal yang tengah dibahas adalah *Echoes of Nusantara*, proyek petualangan dan mitologi yang terinspirasi dari cerita Nusantara. Proyek ini masih berada pada tahap pembahasan konsep, dengan Collective Studios melalui Historyverse memimpin pengembangan kreatif dan penyiapan IP bersama talenta Indonesia.
Founder dan Group CEO Collective Artists Network, Vijay Subramaniam, menilai kekayaan cerita Indonesia memiliki peluang besar untuk menjangkau penonton internasional. Melalui Historyverse, pihaknya ingin bekerja bersama kreator lokal untuk mengembangkan film, serial, dan karya hiburan orisinal.
“Waralaba hiburan global berikutnya tidak semuanya akan lahir dari Hollywood. Setiap negara memiliki cerita yang layak menjangkau audiens lebih luas, dan Indonesia memiliki kekayaan cerita yang luar biasa,” ujar Vijay.
Sementara itu, Galleri5 menghadirkan teknologi produksi berbasis AI melalui G5 AI Studio. Platform tersebut mengintegrasikan lebih dari 200 model AI untuk mendukung proses produksi, mulai dari *storyboarding*, desain karakter, animasi, efek visual, hingga video sinematik.
Direktur Utama KEK Singhasari, David Santoso, mengatakan kerja sama ini menjadi peluang memperkuat daya saing Indonesia di bidang teknologi baru dan konten digital. KEK Singhasari akan menghubungkan mitra India dengan kreator, studio, investor, distributor, dan institusi ekonomi kreatif di Indonesia.
“Tujuan kita adalah membangun daya saing baru Indonesia di subsektor Teknologi Baru dan Konten Digital, dengan talenta dan kekayaan intelektual Indonesia sebagai intinya,” ujar David.
Kemitraan ini diharapkan berlanjut menjadi proyek konkret, dengan hasil awal ditargetkan untuk ditampilkan pada World Audio Visual & Entertainment Summit (WAVES) 2027 di Mumbai, India. Kolaborasi tersebut diharapkan membuka peluang lahirnya karya audiovisual Indonesia yang memiliki nilai ekonomi berkelanjutan dan mampu bersaing di pasar global. (asg/kun)




