Inovasi ini menjadi bagian dari langkah PLN Indonesia Power dalam mengoptimalkan teknologi pembangkitan sekaligus mengeksplorasi alternatif bahan bakar yang mendukung keberlanjutan sistem ketenagalistrikan nasional.
Pada pengembangan co-firing hidrogen, PLN Indonesia Power menjadikan PLTDG Pesanggaran sebagai salah satu pionir pengujian teknologi tersebut di Indonesia. Pengujian dilakukan dengan mencampurkan sejumlah gas hidrogen dengan gas alam sebagai bahan bakar mesin pembangkit, untuk menyubstitusi sebagian penggunaan gas alam.
PLN Indonesia Power telah melakukan tiga kali pengujian co-firing hidrogen di PLTDG Pesanggaran dengan rasio campuran yang terus ditingkatkan. Rasio pengujian tercatat sebesar 2 persen pada 2022, meningkat menjadi 7 persen pada 2024, dan mencapai 23 persen pada 2025.
Berdasarkan hasil pengujian yang disampaikan, penerapan co-firing hidrogen menunjukkan potensi peningkatan efisiensi mesin hingga 5 persen, pengurangan pemakaian bahan bakar fosil hingga 17 persen, serta potensi penurunan emisi karbon sebesar 9.600 ton CO₂ per tahun.
Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, menyampaikan bahwa pengembangan teknologi alternatif bahan bakar merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam menjawab tantangan transisi energi, dengan tetap memperhatikan keandalan dan efisiensi pembangkit.
“Transisi energi membutuhkan inovasi yang dapat diterapkan secara bertahap, terukur, dan tetap mengedepankan keandalan pasokan listrik. Pengujian co-firing hidrogen dan amonia menjadi langkah PLN Indonesia Power dalam mengembangkan alternatif bahan bakar yang berpotensi menekan emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi pembangkitan. Kami terus mendorong pengembangan teknologi ini melalui pengujian dan evaluasi agar manfaatnya dapat dioptimalkan secara berkelanjutan,” ujar Bernadus dalam keterangan tertulis, Rabu, 28 Oktober 2026.
Baca Juga :
Ammonia Cofiring Dicoba Sebagai Bahan Bakar PLTU, Bisa Hemat Batu Bara dan Tekan Emisi?Selain hidrogen, PLN Indonesia Power juga mengembangkan pengujian co-firing amonia di PLTU Labuan. Teknologi ini dilakukan dengan mencampurkan sejumlah amonia ke dalam bahan bakar batu bara di boiler PLTU, dengan tujuan mengurangi konsumsi batu bara.
Dalam pengujian dengan rasio campuran amonia sebesar 1 persen, teknologi ini menunjukkan potensi perbaikan efisiensi PLTU hingga 1,3 persen, penghematan konsumsi batu bara sekitar 19.700 ton per tahun, serta penurunan emisi karbon hingga 1,8 persen. Pengujian tersebut juga menunjukkan potensi penurunan emisi tahunan PLTU hingga 35.000 ton.
Untuk mendukung pengembangan co-firing amonia, amonia hijau direncanakan atau dikembangkan melalui pemanfaatan ekses hidrogen dari PLTGU Cilegon, PLTGU Priok, dan PLTGU Tambak Lorok sebagai sumber bahan baku.
Pengembangan ini membuka peluang pemanfaatan potensi hidrogen dalam ekosistem pembangkitan, sekaligus memperkuat keterkaitan inovasi teknologi antarpembangkit dalam mendukung agenda transisi energi.
PLN Indonesia Power memandang pengembangan co-firing hidrogen dan amonia sebagai bagian dari upaya diversifikasi bahan bakar dan pengurangan emisi sektor pembangkitan. Ke depan, pengembangan teknologi akan terus diarahkan melalui kajian, pengujian, dan evaluasi teknis dengan mempertimbangkan aspek keselamatan, keandalan, efisiensi, serta kelayakan implementasi.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
- URL Berhasil di Salin PLN Kembangkan Bahan Bakar Rendah Emisi, Hidrogen dan Amonia Diuji di Pembangkit Klik untuk baca: https://www.medcom.id/ekonomi/bisnis/0KvZl7GK-pln-kembangkan-bahan-bakar-rendah-emisi-hidrogen-dan-amonia-diuji-di-pembangkit
(ANN)





