Opsi jemaah umrah untuk tidak menggunakan maskapai transit Singapura dan Malaysia berpotensi membuat biaya perjalanan membengkak hingga Rp 4 juta. Hal itu karena penerbangan langsung ke Arab Saudi lebih mahal, salah satunya akibat tingginya harga avtur di Indonesia.
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak sebelumnya mengimbau jemaah umrah Indonesia untuk memilih penerbangan langsung ke Arab Saudi tanpa transit di Singapura dan Malaysia. Kebijakan ini mencuat di tengah hubungan yang memanas antara Indonesia dengan negara tetangga yang memprotes kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Singapura.
Ketua Umum Serikat Penyelenggara Umrah dan Haji Indonesia atau Sapuhi, Syam Resfiadi mengatakan, penerbangan langsung ke Arab Saudi membuat biaya umrah berpotensi lebih mahal Rp 2 juta hingga Rp 4 juta.
Salah satu penyebabnya adalah harga avtur di Indonesia yang mencapai sekitar Rp 23.000 per liter, sehingga meningkatkan biaya operasional maskapai.
Namun, Syam justru menyebut selisih biaya itu tetap dapat memberikan kontribusi ekonomi bagi Indonesia, baik melalui penerimaan pajak maupun aktivitas ekosistem usaha yang terkait dengan penyelenggaraan umrah.
“Yang paling penting masih bisa terbang karena ada rute-rute yang memang bisa dilewati oleh airline ini tanpa harus terganggu dengan adanya perang baik maupun dari Teluk Hormuz,” kata Syam ketika dihubungi Katadata, Rabu (28/10).
Selain itu, Syam mengatakan harga direct bisa menjadi lebih mahal hingga Rp 1 saham 3 juta. Ia meminta masyarakat memaklumi efek dari imbauan pemerintah. Ia menyebut positifnya jemaah tidak ada tertunda akibat dari peristiwa yang terjadi di negara Teluk.
Ia mengatakan perbedaan harga nantinya bisa disesuaikan travel dan juga nantinya akan ada penyesuaaian untuk menjual harga paket umrohnya. Ia justru menyebut hal ini bisa menjadi peluang penambahan pendapatan untuk negara melalui pajak dan ekosistem lainnya.
“Sehingga seperti amanat pak presiden bahwa ekosistem umroh haji harus bisa terserap di negara sendiri lebih banyak dibandingkan untuk kepentingan negara lain,” kata dia.
Sebelumnya Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak mengimbau seluruh jemaah umrah asal Indonesia agar menggunakan penerbangan langsung (direct flight). Imbauan ini menyasar sekitar 70 ribu jemaah yang masih memilih rute transit melalui Malaysia dan Singapura.
Pemerintah menilai rute langsung mampu menjaga keamanan perjalanan jemaah secara maksimal. Kebijakan ini juga bertujuan memperkuat kedaulatan ekonomi nasional melalui penggunaan maskapai domestik yakni Garuda dan Lion.
“Jemaah yang transit di Malaysia dan Singapura cukup besar, yaitu 70 ribuan. Jika itu diarahkan ke penerbangan nasional, langkah ini membantu ekonomi nasional kita,” ujar Dahnil dalam keterangan resminya, Selasa (27/10).
Dahnil menegaskan, penguatan kedaulatan ekonomi sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto harus diterapkan dalam penyelenggaraan haji dan umrah. Karena itu, Kemenhaj telah mengumpulkan asosiasi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) untuk menyosialisasikan aturan tersebut.
“Kami kumpulkan asosiasi PPIU agar menjadi perhatian bagi pelaku bisnis travel. Kami minta kepada asosiasi agar jangan dulu memilih penerbangan transit seperti ke Malaysia atau Singapura,” kata Dahnil.
Untuk mendukung kebijakan ini, pemerintah menggandeng Garuda Indonesia dan Lion Air agar mampu memperkuat pasar domestik serta meningkatkan daya saing global.
Wamenhaj meminta kedua maskapai tersebut meningkatkan layanan dengan harga yang kompetitif. Kemenhaj juga memanggil direktur utama Garuda Indonesia, Lion Air, dan Angkasa Pura untuk membahas perbaikan fasilitas penerbangan. Pemerintah, turut memprioritaskan peningkatan kenyamanan dan ketertiban layanan di Terminal 2 yang digunakan untuk jemaah haji dan umrah.
Selain aspek transportasi, Kemenhaj memberikan asistensi untuk menyelesaikan kendala operasional PPIU, khususnya masalah pengembalian dana (refund) bagi jemaah yang sempat terhambat.
Sementara itu, Wamenhaj memastikan situasi di Arab Saudi hingga Senin (26/10) masih aman dan kondusif untuk penyelenggaraan ibadah umrah. Kemenhaj terus berkoordinasi secara intensif dengan Kementerian Luar Negeri untuk memantau perkembangan eskalasi di Timur Tengah.
“Terkait kondisi eskalasi Timur Tengah, Saudi baik-baik saja dalam konteks peribadatan umrah. Kemenlu juga memantau hal serupa. Sampai detik ini kegiatan umrah berjalan sebagaimana mestinya,” ujar Dahnil.




