68 Orang Tewas dalam Tubrukan Kereta Cepat di Spanyol

republika.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA — Setidaknya 68 orang dilaporkan tewas akibat kecelakaan kereta yang terjadi di Toledo, Spanyol, Rabu (28/10/2026). Dalam kecelakaan tersebut, rangkaian kereta cepat menubruk kereta lainnya.

Tabrakan itu melibatkan kereta berkecepatan tinggi AVE yang dioperasikan perusahaan kereta api negara Spanyol, Renfe, dan kereta lain milik perusahaan swasta, Iryo. Kecelakaan terjadi saat kereta AVE dalam perjalanan dari Madrid menuju Sevilla.

Baca Juga
  • Polisi Periksa Saksi Kasus Tabrakan Kereta di Bekasi, Mulai Sopir Taksi Hingga Dinas Terkait
  • Enam Orang Meninggal Dunia dalam Tabrakan Kereta KRL dengan Argo Bromo di Bekasi Timur
  • KAI Catat 535 Kejadian Tabrakan Kereta Api Sepanjang Januari-Agustus

Kereta AVE 20280 dilaporkan membawa 397 penumpang. Sedangkan penumpang di kereta Iryo 6076 berjumlah 147 orang.

Menteri Transportasi Spanyol, Oscar Puente, mengungkapkan, sebelum kecelakaan terjadi, sistem kendali LZB mengalami gangguan sekitar pukul 08.30 pagi waktu setempat di sepanjang jalur sejauh 63 kilometer. Hal itu berdampak pada enam kereta—meskipun Puente menyatakan jumlah pastinya belum dapat dipastikan.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Sistem kendali LZB (Linienzugbeeinflussung) pada kereta cepat Spanyol adalah sistem perlindungan dan persinyalan kereta otomatis secara terus-menerus (continuous train control/ATP). Teknologi asal Jerman buatan Siemens ini memindahkan informasi rambu atau semafor jalur langsung ke layar monitor di dalam kabin masinis.

Sistem ini sangat krusial bagi kereta berkecepatan tinggi (di atas 220 km/jam) karena pada kecepatan tersebut, masinis tidak akan sempat melihat rambu fisik di pinggir rel dengan jelas.

Dalam musibah tabrakan ini, saat sistem tersebut tidak berfungsi, kendali dialihkan ke pos kendali Atocha. Di sini keputusan diambil agar kereta AVE dapat melanjutkan perjalanannya secara “normal”.

“Keputusan untuk melanjutkan lalu lintas tanpa memulihkan sistem terlebih dahulu merupakan wewenang pusat kendali,” ujar Puente, seraya menyebut situasi itu sebagai sesuatu yang “tidak dapat dijelaskan”.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sahroni: Kami Terbuka untuk Revisi UU Tipikor
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Terungkap! Ini Sederet Fakta Pembunuhan Ibu-Anak di Madiun, Pelaku Bukan Orang Sembarangan
• 12 jam lalunarasi.tv
thumb
Profil dan Jejak Karier Alvin Tedjo Wali Kota Kanada Keturunan Indonesia-China
• 20 jam laludisway.id
thumb
Kasus Penganiayaan Anak, 11 Pengasuh Daycare Little Aresha Yogya Divonis 2 hingga 3 Tahun
• 11 jam laluviva.co.id
thumb
Tak Hanya Vaksin Malaria, Prabowo Dorong Teknologi Sampah hingga Energi Limbah Sawit
• 11 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.