Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan terbatas pada perdagangan Kamis (29/10). BRI Danareksa Sekuritas menilai IHSG berpeluang melanjutkan technical rebound selama mampu bertahan di atas area support 5.182–5.118.
“Namun, tren masih bearish karena indeks berada di bawah MA20 (5.731) dan MA200 (6.899). MACD masih negatif, meski histogram yang menyusut mengindikasikan tekanan bearish mulai mereda,” tulis BRI Danareksa.
BRI Danareksa merekomendasikan saham PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) sebagai pilihan saham untuk dicermati investor.
Pada perdagangan Rabu (28/10), IHSG menguat 0,31% ke level 5.282,31. Indeks sempat tertekan ke area 5.170-an sebelum berbalik menguat pada sesi kedua.
Penguatan tersebut mengindikasikan terjadinya technical rebound setelah IHSG beberapa kali mendapat respons beli di area support. Di sisi lain, investor asing mulai mencatatkan pembelian bersih atau net buy sebesar Rp 257 miliar di pasar reguler.
Arus masuk ini menjadi pembelian bersih pertama setelah periode tekanan jual sebelumnya. Meski demikian, BRI Danareksa menilai pelemahan rupiah yang masih berada di atas Rp 18.100 per dolar AS menjadi salah satu risiko bagi pasar domestik.
Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menetapkan level support IHSG di 5.167 dan 5.040. Adapun level resistance berada di 5.373 dan 5.499.
Menurut Nafan, pergerakan IHSG telah mengonfirmasi pembalikan arah atau rebound setelah muncul pola bullish pin baryang bertindak sebagai wave (b). Kondisi tersebut mengindikasikan pembeli kembali masuk ke pasar.
Indikator Stochastic K-D dan Relative Strength Index (RSI) juga menunjukkan sinyal positif, meskipun volume transaksi mengalami penurunan.
Dari eksternal, keputusan The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75%–4% sesuai ekspektasi pasar turut direspons positif oleh investor. Namun, keputusan tersebut belum memberikan kepastian mengenai arah kebijakan moneter AS selanjutnya.
Nafan menilai peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember masih terbuka, terutama karena inflasi AS belum sepenuhnya kembali ke target 2%. Dua anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) juga menyatakan perbedaan pendapat dengan memilih kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Pasar juga akan mencermati data produk domestik bruto (PDB) AS kuartal III serta indikator inflasi personal consumption expenditures (PCE) untuk memperkirakan arah kebijakan The Fed berikutnya.
Selain itu, eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memengaruhi pasar global. Serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas kilang minyak di Arab Saudi memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak mentah dunia. Harga minyak mentah Brent pun naik 1,04% menjadi US$110,55 per barel.
Laporan Keuangan dan Kebijakan BEI Jadi PerhatianDari dalam negeri, laporan keuangan emiten kuartal III 2026 menjadi salah satu katalis yang dicermati investor. Nafan menyoroti kinerja emiten berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan, yang berpotensi memengaruhi arah perdagangan saham.
Bank Syariah Indonesia (BRIS) dijadwalkan merilis kinerja pada Kamis (29/10), sedangkan BBRI, BBTN, dan BDMN diperkirakan menyusul pada Jumat (30/10). Jadwal tersebut masih berupa estimasi dan dapat berubah.
Investor juga mencermati rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari penghitungan IHSG mulai 2 November 2026.
Selain itu, perkembangan komunikasi antara otoritas Indonesia dan penyedia indeks global MSCI masih menjadi perhatian. Kepastian mengenai aksesibilitas pasar, transparansi kepemilikan saham, dan implementasi reformasi pasar modal dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor asing.
Nafan juga menilai hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BEI pada Rabu (28/10) lebih berpotensi menjadi katalis positif dalam jangka menengah hingga panjang daripada mendorong kenaikan IHSG secara langsung.
RUPSLB tersebut menyetujui tiga agenda utama, yakni perubahan anggaran dasar perseroan dalam rangka demutualisasi bursa, alokasi laba ditahan sebesar Rp 2 triliun dan pembagian dividen khusus Rp1,564 triliun, serta Rencana Kerja dan An ggaran Tahunan (RKAT) tahun buku 2027.




