Saat Demonstrasi Mahasiswa Menjaga Marwah Mulia Sumpah Pemuda

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

Beberapa orang berdatangan menuju sekitar kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Rabu (28/10/2026) siang menuju sore. Gelombang pergerakan massa ini berdatangan dari berbagai penjuru arah mendekat ke kawasan ini. Hingga akhirnya ribuan massa aksi gabungan kembali turun ke jalan di Jakarta yang bertepatan dalam peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober.

Aksi ini diikuti berbagai elemen masyarakat, seperti mahasiswa, pekerja, aktivis, akademisi, seniman, serta berbagai masyarakat sipil lainnya. Bukan hanya dari Jakarta, beberapa peserta aksi juga datang dari berbagai daerah di Indonesia, seperti mahasiswa dari perguruan tinggi di Bandung dan Surabaya serta beberapa elemen masyarakat lain yang datang dari Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, hingga Papua. Usia mereka rata-rata masih muda. Tetapi tak sedikit pula masyarakat paruh baya yang bergabung dalam aksi ini.

Gelombang pergerakan massa aksi lagi-lagi harus berhadapan dengan hadangan polisi. Persimpangan Sarinah, kawasan Dukuh Atas, dan sekitar Halte Tosari menjadi lokasi penghadangan massa aksi oleh polisi yang hendak menuju Bundaran HI. Bahkan beberapa unsur TNi terlihat dilibatkan dalam upaya penyekatan, meski dalam jumlah yang lebih sedikit.

Tetapi alasan penyekatan ini menjadi tanda tanya bagi massa aksi karena mereka bertujuan aksi damai. Selaian itu, sebelumnya juga ada kegiatan yang bisa menggelar aksi di Bundaran HI. Upaya penyekatan ini justru menimbulkan beberapa gejolak seperti upaya mendobrak penghadangan hingga pembakaran barang-barang menjelang aksi berakhir yang tepat bersamaan turunnya hujan.

Aksi ini menjadi bentuk berbeda masyarakat Indonesia dalam memperingati Sumpah Pemuda. Aksi kali ini banyak diikuti peserta dari berbagai elemen masyarakat, perguruan tinggi, hingga organisasi masyarakat lainnya.

Masifnya aksi tidak lepas dari penilian masyarakat akan situasi bangsa yang tidak baik-baik saja. Dalam membuat dan melaksanakan kebijakan, pemeirntah dinilai tidak berpihak kepada masyarakat bahkan cenderung meresahkan. Mereka menilai pemerintahan gagal menyehahterakan dan melindungi rakyat Indonesia.

Baca JugaMenagih Sikap Ksatria Penguasa atas Situasi Bangsa

Pemerintahan Prabowo-Gibran telah berjalan dua tahun pada Oktober 2026 ini. Namun selama dua tahun memerintah, mereka dinilai belum bisa membawa kesejahteraan dan kedamaian. Banyak kebijakan yang diambil jauh dari harapan masyarakat, seperti soal kestabilan ekonomi dan kebebasan berpendapat.

Sejumlah kebijakan pemerintah mulai program makan bergizi gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang menyedot anggaran besar dan banyak menimbulkan masalah menjadi salah satu yang banyak disoroti. Situasi keterpurukan ekonomi yang tak teratasi dan berdampak pada sektor pekerjaan hingga keterpurukan daya beli masyarakat juga disuarakan.

Baca JugaAksi Kamisan Evaluasi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Hal besar lainnya yang menjadi evaluasi dan menimbulkan kejengahan bersama mereka adalah buruknya tata kelola lingkungan hidup yang berdampak pada bencana ekologi yang menjadikan rakyat sebagai korban. Bencana ekologi banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera tahun lalu yang tidak kunjung tuntas. Pemulihannya dinilai lambat tidak ada tindakan tegas terhadap pihak yang diduga berkonstribusi terhadap bencana tersebut. Selain bencana di Sumatera yang belum tuntas, muncuk masalah baru yaitu kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla.

Karhutla di sejumlah wilayah Indonesia akibat pembakaran menambah derita rakyat Indonesia dalam menghadapi bencana. Beberapa hutan di Sumatera, Kalimantan, dan Papua hingga kini masih membara akibat karhutla.

Aksi pemuda di Jakarta dan daerah lain dalam Perigatan Sumpah Pemuda kali ini merupakan warisan semangat yang sama saat tercetusnya sumpah para pemuda Indonesia di tahun 1928. Ekspresi kejengahan, penderitaan, semangat perlawanan, hingga kesadaran untuk bersatu mengubah nasib menuju sejahtera tergambarkan dalam pesan-pesan mereka.

Semangat perjuangan melawan ketidakadilan, keterpurukan, dan penindasan seperti yang dirasakan menjadi pesan bahwa marwah Sumpah Pemuda masih terjaga. Meski di era yang berbeda, semangat perjuangan Sumpah Pemuda ini masih tetap menyala.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mangaka "Ashita no Joe", Tetsuya Chiba, Meninggal Dunia di Usia 87 Tahun
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Banjir Rendam 21 Desa di Subulussalam Aceh
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Dasco Ungkap 4 RUU Prioritas DPR pada Masa Sidang II 2026–2027
• 10 jam laludisway.id
thumb
Tak Perlu Lagi Ribet Urus Izin, Bahlil Siapkan Terobosan Besar untuk Industri Migas RI
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Kemenimipas Rombak Jajaran Pejabat, Agus Andrianto Tekankan Integritas dan Profesionalisme
• 2 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.