Eks Wamen Imipas Silmy Karim Hadapi Sidang Pembacaan Dakwaan Hari Ini

rctiplus.com
9 jam lalu
Cover Berita
Eks Wamen Imipas Silmy Karim Hadapi Sidang Pembacaan Dakwaan Hari IniNasional | sindonews | Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:25Dengarkan Berita

Mengapa Allah SWT menciptakan ada orang kaya dan miskin? Mengapa rezeki setiap manusia tidak dibagikan sama rata, padahal semua makhluk membutuhkan harta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya? Dalam Islam, perbedaan kondisi ekonomi bukan sekadar persoalan nasib, melainkan bagian dari ketetapan dan ujian Allah SWT bagi setiap hamba-Nya.

Allah SWT Maha Mengetahui keadaan dan kebutuhan setiap manusia. Ada yang diuji dengan kekayaan melimpah, ada pula yang harus berjuang di tengah keterbatasan.

Lantas, apakah kaya menjadi tanda Allah memuliakan seseorang dan miskin berarti sebaliknya? Al-Qur'an menjelaskan bahwa kelapangan dan kesempitan rezeki menyimpan hikmah yang tidak selalu dapat dipahami manusia.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ketika menjelaskan Surat Asy-Syura ayat 27, Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa Allah memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya sesuai dengan pilihan dan ketetapan-Nya yang mengandung kemaslahatan bagi mereka.

Baca juga:Ustaz Zaidul Akbar : Sedekah Bisa Jadi Obat Penyakit Fisik

Allah berfirman:

Baca Juga:Gunung Ili Lewotolok di NTT Erupsi, Kolom Abu Membubung Setinggi 500 Meter

وَلَوْ بَسَطَ اللّٰهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهٖ لَبَغَوْا فِى الْاَرْضِ وَلٰكِنْ يُّنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَآءُۗ اِنَّهٗ بِعِبَادِهٖ خَبِيْرٌۢ بَصِيْرٌ

Artinya: "Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat." (QS. Asy-Syura: 27).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah memberikan rezeki sesuai dengan ukuran yang dikehendaki-Nya. Apabila seluruh manusia diberikan kekayaan tanpa batas, sebagian di antaranya mungkin akan melampaui batas dan melakukan kerusakan.

Baca Juga:Nasib Praperadilan Mantan Wamen Imipas Silmy Karim Diputus Hari Ini

Karena itu, perbedaan kondisi ekonomi manusia mengandung hikmah yang tidak selalu dapat dipahami secara langsung. Ada orang yang diuji dengan kelapangan harta, sementara orang lain diuji melalui keterbatasan ekonomi.Meski demikian, hal ini tidak berarti orang kaya pasti lebih pantas menerima kekayaan atau orang miskin tidak layak menjadi kaya. Manusia tidak dapat memastikan hikmah khusus di balik keadaan setiap individu. Yang harus diyakini adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, sedangkan manusia diperintahkan untuk bersyukur, bersabar, dan terus berusaha.Allah SWT Adalah Satu-Satunya Pemberi RezekiSeorang Muslim perlu meyakini bahwa Allah SWT merupakan sumber segala rezeki. Rezeki tidak hanya berupa uang dan kekayaan, tetapi juga mencakup makanan, kesehatan, keluarga, ilmu, serta berbagai nikmat lain yang diberikan kepada manusia.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

Artinya: "Wahai manusia! Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi?" (QS. Fathir: 3).

Dalam ayat lainnya, Allah SWT berfirman:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ

Artinya: "Katakanlah, 'Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi?' Katakanlah, 'Allah'." (QS. Saba': 24).

Baca Juga:Sidang Putusan Praperadilan Eks Wamen Imipas Silmy Karim Digelar Sore Ini

Kedua ayat tersebut menegaskan bahwa Allah adalah pemberi rezeki yang hakiki. Manusia memang dapat menjadi perantara datangnya rezeki bagi orang lain, misalnya melalui pekerjaan, perdagangan, atau bantuan sosial. Namun, semua itu berlangsung dalam ketetapan Allah SWT.

Sebaliknya, makhluk tidak memiliki kekuasaan mutlak untuk memberikan atau menahan rezeki di luar kehendak-Nya.

Allah SWT berfirman:

وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَهُمْ رِزْقًا مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ شَيْئًا وَلَا يَسْتَطِيعُونَArtinya: "Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rezeki kepada mereka sedikit pun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit juapun)." (QS. An-Nahl: 73).

Karena itu, meminta pertolongan kepada dukun atau melakukan praktik pesugihan demi mendapatkan kekayaan bukanlah jalan yang dibenarkan dalam Islam. Seorang Muslim hendaknya menjauhi segala bentuk kesyirikan dan tetap berikhtiar melalui cara-cara yang halal.Jangan Pernah Berputus Asa dari Rahmat AllahAllah SWT memiliki kekuasaan yang mutlak atas segala sesuatu. Apabila Dia menganugerahkan rahmat kepada manusia, tidak ada seorang pun yang dapat menghalanginya. Sebaliknya, jika Allah menahan sesuatu, tidak ada yang dapat memberikannya secara mandiri tanpa izin-Nya.

Baca Juga:Qodari: KRI Sriwijaya-100 Tak Hanya untuk Pertahanan, Tetapi Juga Tangani Bencana

Allah SWT berfirman:

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَاۚ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهٗ مِنْ بَعْدِهٖۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Artinya: "Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak seorang pun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana." (QS. Fathir: 2).

Keyakinan tersebut seharusnya membuat seorang Muslim tidak mudah berputus asa ketika menghadapi kesulitan hidup. Keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk meninggalkan ibadah atau mencari kekayaan melalui jalan yang dilarang.

Dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan kandungan hadis tentang luasnya karunia Allah dan dorongan bagi manusia untuk memohon segala kebutuhannya kepada-Nya.

Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan dari Abu Dzar Al-Ghifari, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa Allah berfirman:

Baca Juga:Oknum Polisi Tersangka Pencurian Sapi di Sumba Timur Dipatsus, Bakal Disidang Etik

"Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta semua jin dan manusia berdiri di atas satu bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuhi permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan." (HR. Muslim).

Hadis tersebut menggambarkan betapa luasnya kekuasaan dan karunia Allah SWT. Sebanyak apa pun makhluk meminta kepada-Nya, hal itu tidak mengurangi kekayaan dan kekuasaan-Nya sedikit pun.

Oleh sebab itu, seorang Muslim hendaknya membiasakan diri berdoa kepada Allah, menyampaikan kebutuhan kepada-Nya, dan tidak menggantungkan harapan secara berlebihan kepada sesama makhluk.Kaya dan Miskin Bukan Ukuran KemuliaanKekayaan tidak selalu menjadi tanda bahwa seseorang lebih mulia di hadapan Allah. Demikian pula, kemiskinan bukan bukti bahwa seseorang lebih hina atau tidak dicintai oleh-Nya.Allah SWT memberikan rezeki kepada berbagai golongan manusia. Karena itu, banyaknya harta tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran kesalehan, sebagaimana keterbatasan ekonomi tidak dapat dijadikan alasan untuk merendahkan seseorang.

Allah SWT berfirman:

اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

Artinya: "Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Yang Maha Kuat, Maha Perkasa." (QS. Asy-Syura: 19).

Ayat ini mengingatkan manusia bahwa Allah memiliki kelembutan dan kebijaksanaan dalam mengatur kehidupan hamba-hamba-Nya.

Pada hakikatnya, kekayaan dan kemiskinan merupakan bagian dari ujian kehidupan. Allah SWT berfirman:

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Artinya: "Dan Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." (QS. Al-Anbiya': 35).

Orang kaya diuji melalui hartanya: apakah ia bersyukur, menunaikan zakat, bersedekah, dan membantu sesama atau justru menjadi sombong serta lalai beribadah.

Sementara itu, orang yang hidup dalam keterbatasan diuji melalui kesabaran, keteguhan iman, dan kesungguhannya mencari jalan keluar yang halal. Namun, kesabaran bukan berarti harus pasrah tanpa usaha. Islam justru mendorong umatnya untuk bekerja dan memperbaiki keadaan.Islam Mengajarkan Umatnya Berusaha Mencari RezekiIslam tidak mengajarkan umatnya untuk bermalas-malasan atau hanya mengandalkan doa tanpa ikhtiar. Bekerja, mencari nafkah, dan berusaha mengatasi kemiskinan merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim.

Di samping berusaha, umat Islam juga dianjurkan memohon petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri, dan kecukupan kepada Allah SWT.Rasulullah SAW mengajarkan doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri, dan kecukupan." (HR. Muslim).

Doa ini mengajarkan bahwa kecukupan yang patut dimohonkan bukan semata-mata banyaknya harta. Seorang Muslim juga membutuhkan petunjuk, ketakwaan, dan kemampuan menjaga diri dari perkara yang dilarang.

Selain itu, Rasulullah SAW menjelaskan salah satu amalan yang menjadi sebab dilapangkannya rezeki dan dipanjangkannya umur, yakni menyambung tali silaturahmi.

Beliau bersabda:

"Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menunjukkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan keluarga dan kerabat. Silaturahmi bukan hanya mempererat persaudaraan, tetapi juga merupakan amalan yang dijanjikan memiliki keutamaan besar.

Pada akhirnya, seorang Muslim perlu meyakini bahwa Allah SWT adalah pemberi rezeki sekaligus pengatur kehidupan. Ketika memperoleh kelapangan, hendaknya ia bersyukur dan berbagi. Ketika menghadapi kesulitan, hendaknya ia bersabar, terus berusaha, memperbanyak doa, dan menghindari jalan yang bertentangan dengan syariat.

Sebab, ukuran keberhasilan seorang hamba bukan sekadar seberapa banyak harta yang dikumpulkan, melainkan bagaimana ia memperoleh, menggunakan, dan mempertanggungjawabkan rezeki yang Allah SWT titipkan kepadanya.

Baca juga:Tak Punya Penghasilan, Ini 13 Cara Ibu Rumah Tangga Meraih Pahala Sedekah

#nasional

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menjaga Keamanan Papua, Pendekatan Kemanusiaan dan Kolaborasi Jadi Perhatian
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
5 Cara Mengenali Orang yang Bisa Menghargai Diri Sendiri Dilihat dari Kebiasaannya
• 6 jam lalubeautynesia.id
thumb
Jalan-Jalan ke Malang dan Batu Naik Trans Jatim, Ini Halte Pemberhentiannya
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kemendikdasmen lepas 3.030 lulusan SMK dan LKP ke luar negeri
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
Momen-momen Dwi Bagus saat Rekonstruksi Kasus Mutilasi: Terinspirasi Film, Bersimpuh dan Minta Maaf
• 15 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.