JAKARTA, DISWAY.ID - Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) menjadi salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Sejak mulai dijalankan pada 2025, program yang diinisiasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ini telah membangun 100 kampung nelayan di berbagai wilayah Indonesia, dengan target pengembangan hingga 5.000 lokasi pada 2029.
Program KNMP merupakan bagian dari upaya pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ekonomi masyarakat pesisir selama dua tahun kepemimpinan.
Melalui pengembangan kawasan perikanan yang terintegrasi dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), pemerintah berupaya meningkatkan produktivitas, memperluas akses pemasaran, serta mendorong kenaikan pendapatan nelayan.
Dengan mengusung semangat Transformasi Bangsa : 2 Tahun Gerak Nyata, Kampung Nelayan Merah Putih dirancang untuk mengembangkan kawasan pesisir dan sentra budidaya menjadi pusat ekonomi kelautan yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Kampung Nelayan Merah Putih adalah program pengembangan kawasan pesisir yang mengintegrasikan berbagai kegiatan ekonomi perikanan, mulai dari produksi, pengolahan, distribusi, hingga pemasaran dalam satu kawasan.
Program prioritas KKP ini digagas sebagai bagian dari Program Strategis Nasional yang tertuang dalam Asta Cita. Pelaksanaannya juga mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional.
BACA JUGA:Kemenkop dan KKP Perkuat Usaha Nelayan Lewat Sinergi KDKMP dan KNMP
Melalui konsep tersebut, pemerintah berupaya membangun ekosistem perikanan yang terintegrasi dan berbasis komunitas.
Melalui KNMP nelayan tidak hanya memperoleh dukungan untuk kegiatan penangkapan ikan, tetapi juga berpeluang meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan melalui pengolahan dan pemasaran.-dok disway-
Dengan demikian, nelayan tidak hanya memperoleh dukungan untuk kegiatan penangkapan ikan, tetapi juga berpeluang meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan melalui pengolahan dan pemasaran.
Dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI, 14 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa Kampung Nelayan Merah Putih akan dilengkapi berbagai fasilitas untuk menunjang kegiatan perikanan.
Fasilitas tersebut meliputi pelabuhan, dermaga, tempat pelelangan ikan, ruang penyimpanan dingin, bengkel, fasilitas pengolahan hasil laut, perumahan, serta sarana sosial.
Prabowo juga menyoroti besarnya potensi ekonomi sektor perikanan Indonesia yang dinilai belum sepenuhnya dinikmati di dalam negeri.
“Nilai perikanan kita setiap tahun adalah sekitar US$ 34 miliar, baru mungkin 5% yang dapat kita nikmati, sisanya diambil oleh kapal-kapal negara lain tanpa izin kita,” ujar Prabowo dalam pidato kenegaraan pada Sidang Bersama MPR, DPR, dan DPD RI di Gedung Nusantara, Jumat (14/8/2026).
BACA JUGA:KKP Bekali Pengurus KDKMP Ragam Literasi agar Efektif Kelola KNMP
Pemerintah Bangun 100 Kampung Nelayan Sejak 2025Sejak 2025, pemerintah telah membangun 100 Kampung Nelayan Merah Putih yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Dalam jangka panjang, pemerintah menargetkan pembangunan 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih hingga 2029.
Pengembangan kawasan akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi geografis, kebutuhan masyarakat, dan potensi ekonomi masing-masing wilayah pesisir.
Dari sisi pembiayaan, Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan mencatat dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pembangunan KNMP mencapai Rp1,1 triliun pada 2025.
Anggaran tersebut digunakan untuk mendukung pembangunan kawasan beserta fasilitas penunjang aktivitas nelayan.
Salah satu lokasi yang menjadi percontohan program Kampung Nelayan Merah Putih adalah KNMP Samber-Binyeri di Kabupaten Biak Numfor, Papua. Berdasarkan data KKP, pengembangan kawasan tersebut diikuti peningkatan produksi ikan, penjualan, dan pendapatan nelayan.
Produksi ikan di Samber-Binyeri meningkat 121 persen, dari 552 kilogram per bulan menjadi 1.221 kilogram per bulan.
Kenaikan produksi tersebut turut diikuti peningkatan nilai penjualan ikan sebesar 90 persen, dari Rp10,8 juta per bulan menjadi Rp20,5 juta per bulan.
Sementara itu, pendapatan nelayan meningkat 89 persen, dari Rp6,06 juta per bulan menjadi Rp11,43 juta per bulan.
Peningkatan produktivitas tersebut tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan konsumsi lokal, tetapi juga membuka peluang distribusi hasil tangkapan ke sejumlah daerah di Indonesia.
Hingga periode yang dilaporkan, hasil perikanan dari kawasan Samber-Binyeri telah dikirim sebanyak 15 kali dengan total volume 231 ton ikan senilai Rp4,36 miliar.
Distribusi tersebut menjangkau sejumlah kota, yakni Jakarta, Semarang, Bitung, dan Surabaya.
Selain itu dampak program Kampung Nelayan Merah Putih juga dirasakan masyarakat pesisir Desa Tongke-Tongke, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan yang mulai beroperasi pada Mei 2026.
Dalam empat bulan operasional, rata-rata pendapatan nelayan di Tongke-Tongke meningkat dari Rp4 juta menjadi Rp7 juta per bulan.
Kegiatan operasional kawasan tersebut juga menyerap 39 tenaga kerja lokal dan menarik 80 anggota koperasi.
Pengembangan KNMP Tongke-Tongke tidak hanya berfokus pada penjualan ikan segar. Kawasan ini juga mengolah tuna segar menjadi produk tuna loin yang memiliki nilai tambah.
BACA JUGA:Ketentuan Penalti Rp100 Juta Dicabut, Peserta Seleksi KDKMP-KNMP Bisa Konfirmasi Ulang
Melalui mitra koperasi, pengiriman tuna loin telah mencapai 65 ton dengan nilai Rp2,54 miliar.
Pada 27 September 2026, KNMP Tongke-Tongke kembali mengirimkan 12 ton tuna loin ke Jakarta untuk memenuhi kebutuhan bahan baku unit pengolahan ikan.
Ketua Satuan Tugas Operasionalisasi KNMP, Irjen Pol Victor Gustaaf Manoppo, menjelaskan bahwa konsistensi pengiriman produk perikanan dari kawasan tersebut menunjukkan perkembangan ekosistem bisnis perikanan di daerah.
“Ini tentu membawa dampak ekonomi yang lebih baik kepada para nelayan sekitar,” ujar Victor.
Pada wilayah lainnya, Bupati Sinjai Ratnawati Arif menilai kehadiran Kampung Nelayan Merah Putih membuka peluang untuk memperkuat perekonomian masyarakat pesisir.
Menurut Ratnawati, fasilitas penyimpanan dingin, pengolahan hasil tangkapan, dan jaringan pemasaran dapat membantu menjaga kualitas produk perikanan sekaligus memperluas pilihan usaha masyarakat.
Ia menilai potensi peningkatan produksi dan pendapatan nelayan akan semakin besar apabila fasilitas yang tersedia dikelola secara optimal.
“Program ini (KNMP) diproyeksikan mampu meningkatkan produksi perikanan rata-rata hingga kurang lebih 800 ton per tahun per lokasi dan mampu menaikkan pendapatan nelayan hingga 75 persen,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan KNMP tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada pengelolaan fasilitas, aktivitas koperasi, dan keberlanjutan jaringan pemasaran hasil perikanan.
Dampak pembangunan KNMP juga telah dirasakan langsung oleh nelayan di kawasan pesisir Plengsengan Ancol, Kelurahan Lateng, Kecamatan Banyuwangi yang membawa perubahan positif.
Sunarti (46) selaku Ketua Kelompok Pengelola dan Pemasar Hasil Laut (Poklasar) menjelaskan jika KNMP membantu dalam penyediaan fasilitas yang memadai.
“Dengan kehadiran fasilitas yang memadai nelayan dapat lebih sejahtera, serta ekonomi lebih meningkat," papar Sunarti.
Adapun fasilitas yang langsung dirasakan oleh para nelayan adalah infrastruktur yang modern seperti cold storage, pabrik es, serta kios perbaikan nelayan.
Bahkan KNMP juga semakin lengkap dengan adanya puluhan kios, kantor koperasi, dan kios perbekalan nelayan.
Hal senada juga disampaikan oleh Saifulrahman (49) yang berprofesi sebagai nelayan lebih dari 30 tahun.
Saifulrahman berharap dengan hadirnya program pembangunan KNMP ini bisa membawa perubahan positif bagi para nelayan di Banyuwangi.
"Tentu kami berterima kasih disediakan bangunan yang kokoh, yang bagus dan memadai. Selain itu dalam kunjungan menteri kali ini usulan kami terkait bantuan kapal juga diusahakan," ucapnya.
BACA JUGA:Presiden Prabowo Sambangi KNMP Leato Selatan, Dorong Nelayan Gorontalo Naik Kelas
Target 5.000 Kampung Nelayan hingga 2029Pemerintah berencana melanjutkan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih secara bertahap hingga mencapai target 5.000 lokasi pada 2029.
Perluasan program ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sektor perikanan, memperkuat kemandirian pangan nasional, membuka lapangan kerja, serta mendorong tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru di kawasan pesisir.
Pengalaman Samber-Binyeri di Kabupaten Biak Numfor, Papua, dan Tongke-Tongke di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, memperlihatkan bagaimana fasilitas perikanan, pengolahan hasil tangkapan, dan akses pemasaran dapat mendukung peningkatan pendapatan nelayan.
Ke depan, pencapaian target tersebut akan bergantung pada kesesuaian pembangunan dengan potensi wilayah, pemanfaatan fasilitas secara optimal, serta keberlanjutan kegiatan usaha masyarakat pesisir.
Dengan pendekatan yang terintegrasi, Kampung Nelayan Merah Putih diarahkan bukan sekadar menjadi kawasan dengan infrastruktur perikanan yang lebih lengkap, melainkan juga menjadi penggerak ekonomi lokal yang memberikan nilai tambah bagi nelayan dan masyarakat sekitarnya.





