jpnn.com, JAKARTA - Kapolresta Pangkalpinang Kombes Pol. Indra Wijatmiko, S.I.K., M.M., menyampaikan momentum Sumpah Pemuda dapat menjadi pengingat bahwa perlindungan generasi muda perlu dimulai jauh sebelum sebuah persoalan berujung pada pelanggaran hukum.
Hal itu diungkapkan Kombes. Pol Indra pada peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Rabu (28/10).
BACA JUGA: Melli Darsa: Demokrasi Bukan Cek Kosong Kekuasaan
Dia menuturkan di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, tantangan generasi muda tidak lagi selalu terlihat di jalanan.
Sebagian hadir melalui layar telepon genggam, masuk melalui pergaulan, tumbuh dalam tekanan sosial, atau berawal dari persoalan yang tidak pernah mereka ceritakan kepada orang lain.
BACA JUGA: 28 Jam Pemuda Bicara Deklarasikan Sumpah Promptmuda di Malang
Narkoba, judi daring, penipuan digital, hingga perundungan menjadi sejumlah persoalan yang membutuhkan perhatian bersama.
Namun, di balik setiap persoalan itu, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian, seorang pemuda yang mungkin sedang membutuhkan pertolongan, tetapi belum tahu harus berbicara kepada siapa.
BACA JUGA: Prabowo Baca Sumpah Pemuda Bersama Anak-Anak, Ada Mbak Titiek
“Jangan menunggu seorang pemuda bermasalah untuk mulai mendekatinya. Mereka membutuhkan seseorang yang bersedia mendengar sebelum keadaan menjadi lebih sulit. Di situlah kehadiran polisi harus dirasakan,” ungkap Indra.
Menurut Indra, pendekatan tersebut menempatkan pemuda sebagai bagian penting dalam membangun keamanan lingkungan.
“Pemuda memiliki pengalaman, keresahan, dan pandangan yang perlu mendapat ruang dalam percakapan mengenai masa depan kota,” kata dia.
Sebab, tidak semua persoalan anak muda dapat diselesaikan dengan peringatan. Ada yang membutuhkan pendampingan, ada yang perlu mendapatkan perlindungan, dan ada pula yang harus ditangani melalui penegakan hukum secara profesional.
Memahami perbedaan situasi itu menjadi bagian penting dari upaya mencegah persoalan berkembang lebih jauh.
“Ada banyak cara untuk menilai masa depan sebuah kota. Salah satunya dengan melihat bagaimana kota itu memperlakukan pemuda, apakah mereka diberi ruang tumbuh, didengarkan, dan dilindungi,” beber Indra.
Mendengar Sebelum Menghakimi
Indra menuturkan dalam kehidupan sehari-hari, seorang anak muda bisa saja terlihat baik-baik saja di hadapan keluarga dan teman-temannya, sementara menyimpan persoalan yang tidak mudah diungkapkan.
Tekanan pergaulan, ancaman di ruang digital, atau ajakan yang menjerumuskannya ke dalam tindakan berisiko tidak selalu diketahui orang-orang terdekat.
“Situasi semacam ini membutuhkan lingkungan yang membuat mereka berani berbicara tanpa merasa langsung dicap buruk,” ungkap Indra.
Karena itu, pendekatan humanis dalam pelayanan kepolisian memiliki arti yang lebih luas daripada keramahan ketika bertugas.
Pendekatan tersebut juga menyangkut kesediaan mendengar, memahami persoalan secara proporsional, menjaga martabat setiap orang, serta mengambil tindakan yang tepat sesuai hukum.
“Bagi kepolisian, mendengar bukan berarti membenarkan setiap tindakan,” ucap Indra.
Namun, mendengar adalah upaya memahami persoalan secara utuh agar perlindungan, pencegahan, dan penegakan hukum dapat berjalan pada tempatnya.
“Ketegasan tetap diperlukan. Tetapi sebelum sampai pada keadaan itu, kita harus berusaha memahami persoalannya, mencegah risikonya, dan memastikan mereka yang membutuhkan perlindungan tidak merasa sendirian,” ujar dia.
Dia menegaskan semangat tersebut sejalan dengan arah pelayanan Polri melalui tagline “Polisi Bersama Masyarakat”, yang menekankan pentingnya kehadiran, kesediaan mendengar, pelayanan, perlindungan, dan kerja bersama dalam menjaga keamanan serta ketertiban.
Dalam konteks generasi muda, semangat itu dapat diwujudkan melalui komunikasi yang terbuka dengan pelajar, mahasiswa, komunitas, keluarga, dan berbagai unsur masyarakat.
Aspirasi yang muncul perlu ditindaklanjuti sesuai kewenangan, sementara persoalan yang memerlukan penanganan lebih lanjut harus diarahkan kepada pihak yang tepat.
Dengan demikian, hubungan polisi dan pemuda tidak hanya terbangun ketika ada kegiatan resmi, tetapi juga melalui kepercayaan yang tumbuh dari pengalaman sehari-hari.(era/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Rayakan Sumpah Pemuda, Xplore Indonesia Luncurkan Antologi Pemikiran Tokoh Nasional
Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul




