HARIAN.FAJAR.CO.ID, TORAJA — Duka mendalam menyelimuti keluarga Padayya Mangampang, pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Saddang 2, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Almarhum meninggalkan seorang istri dan seorang anak yang masih duduk di bangku kelas VI sekolah dasar (SD).
Rumah duka di wilayah Rante Karassik, Rantepao, Toraja Utara, dipenuhi isak tangis keluarga dan kerabat pada Kamis (29/10/2026). Rekan-rekan kerja almarhum juga tampak hadir memberikan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan.
Di tengah suasana duka, sejumlah petugas yang selama ini berjuang memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Toraja Utara tetap menjalankan tugas. Mereka bahkan turut membantu menyiapkan tenda di rumah duka, meski sebagian masih diliputi kelelahan setelah berjibaku di sejumlah titik kebakaran.
Padayya diketahui bekerja bersama rekan-rekannya dalam upaya penanganan karhutla. Meski bukan berstatus sebagai polisi kehutanan (Polhut), almarhum tetap ikut berjuang bersama petugas lainnya di lapangan.
Selama penanganan kebakaran, personel KPH Saddang 2, Satpol PP dan Pemadam Kebakaran (Damkar), serta Manggala Agni silih berganti berupaya memadamkan api. Dalam sejumlah kejadian, petugas bahkan harus kembali ke titik kebakaran untuk melakukan penanganan lanjutan.
Di balik perjuangan tersebut, keterbatasan peralatan pelindung diri (APD), kendaraan operasional, armada pemadam, dan logistik menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Keterbatasan personel, terutama Polhut, juga menjadi tantangan dalam pengawasan kawasan hutan di wilayah Toraja.
Kepala KPH Sampaikan DukaKepala KPH Saddang 2, Kornelia Pairunan, S.Hut., M.Hut., menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum. Ia mengaku turut merasakan kesedihan mendalam atas kepergian salah satu rekan yang selama ini berjuang bersama petugas di lapangan.
Saat ditemui di rumah duka, Kornelia mengatakan dirinya belum sempat beristirahat setelah menjalani aktivitas penanganan kebakaran. Ia juga berada di lokasi ketika peristiwa yang menimpa Padayya terjadi.
“Ini saya belum istirahat satu hari, dan saat kejadian juga saya ada di lokasi. Kami membantu dan menguatkan keluarga agar supaya tetap kuat,” ucapnya.
Kornelia menceritakan, dirinya bersama petugas lainnya berada di lokasi saat kejadian. Setelah Padayya dibawa ke RS Elim Rantepao, mereka kemudian menerima kabar bahwa nyawa almarhum tidak tertolong.
Kabar tersebut membuat para petugas terpukul. Mereka yang selama ini bekerja bersama dalam penanganan karhutla tak kuasa menahan tangis.
“Saat kejadian saya dan petugas lainnya di lokasi. Setelah almarhum dibawa ke RS Elim Rantepao, dan dapat kabar bahwa nyawa beliau tidak tertolong, semua petugas menangis. Dan saya bilang harus tetap kuat dan bekerja sesuai tupoksi,” tuturnya.
Meski berada dalam suasana duka, Kornelia mengingatkan para petugas agar tetap kuat dan menjalankan tanggung jawab sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing.
Dua Polhut di Toraja UtaraDi luar peristiwa yang menimpa Padayya, keterbatasan personel pengamanan dan pengawasan hutan di Toraja menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius.
Berdasarkan pemantauan Harian Fajar, KPH Saddang 1 yang menangani wilayah Tana Toraja dan KPH Saddang 2 di Toraja Utara masih menghadapi keterbatasan peralatan serta jumlah personel. Kondisi serupa juga menjadi tantangan bagi personel Satpol PP dan Damkar di kedua wilayah tersebut.
Khusus KPH Saddang 2 di Toraja Utara, jumlah polisi kehutanan yang bertugas disebut hanya dua orang. Sementara itu, jumlah personel Polhut di KPH Saddang 1, Tana Toraja, juga masih terbatas.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri mengingat luas kawasan hutan yang harus diawasi tidak sebanding dengan jumlah petugas yang tersedia.
Dalam ketentuan yang menjadi acuan kebutuhan personel, seorang Polhut idealnya menangani pengawasan sekitar 5.000 hektare kawasan hutan. Dengan cakupan wilayah yang luas, kebutuhan personel di Toraja Utara dinilai jauh lebih besar dibandingkan jumlah petugas yang ada saat ini.
Puluhan Ribu Hektare Kawasan HutanLuas kawasan hutan di Toraja Utara, berdasarkan data yang dihimpun, mencapai sekitar 50.910 hektare jika dihitung dari berbagai status kawasan. Sementara itu, luas kawasan hutan di Tana Toraja mencapai sekitar 49.000 hektare.
Besarnya kawasan yang harus diawasi tersebut membutuhkan dukungan personel dan sarana operasional yang memadai. Terlebih, penanganan karhutla membutuhkan respons cepat, kesiapan petugas, perlengkapan keselamatan, serta dukungan kendaraan dan logistik.
Keterbatasan jumlah Polhut bukan hanya berdampak pada pengawasan kawasan, tetapi juga menjadi tantangan dalam mendukung upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, pemenuhan kebutuhan personel, APD, kendaraan operasional, armada pemadam, dan logistik menjadi hal yang perlu dievaluasi oleh pihak terkait. Dukungan tersebut dibutuhkan agar petugas dapat menjalankan tugas dengan lebih optimal sekaligus memperhatikan keselamatan mereka saat bertugas di lapangan.
Gubernur Sulsel Dijadwalkan MelayatDi tengah suasana duka, Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, dijadwalkan mengunjungi rumah duka Padayya Mangampang di Toraja Utara.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, gubernur bersama rombongan sedang dalam perjalanan dari wilayah Luwu Raya menuju Toraja.
Kehadiran keluarga, rekan kerja, dan sejumlah pihak di rumah duka menjadi bentuk penghormatan terakhir bagi almarhum. Kepergian Padayya juga menyisakan duka bagi rekan-rekannya yang selama ini bekerja bersama dalam penanganan karhutla.
Di balik kehilangan tersebut, kondisi petugas kehutanan di Toraja menjadi pengingat pentingnya dukungan sarana, prasarana, dan personel yang memadai. Dengan kawasan hutan yang membentang puluhan ribu hektare, kesiapan petugas di lapangan perlu menjadi perhatian agar tugas perlindungan hutan dapat berjalan optimal dan keselamatan personel tetap terjaga. (edy)





