Anak Muda Perlu Paham Risiko Finansial, Bukan Sekadar Bisa Bertransaksi

wartaekonomi.co.id
1 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia berusia 15–17 tahun baru mencapai 51,70%, jauh di bawah rata-rata nasional sebesar 65,43%. Kesenjangan antara pemahaman keuangan dan akses terhadap layanan finansial tersebut mendorong perlunya edukasi keuangan sejak dini, terutama di tengah perkembangan layanan digital.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2024, tingkat inklusi keuangan kelompok usia 15–17 tahun mencapai 85,10%. Angka ini menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan pada kelompok tersebut lebih tinggi dibandingkan tingkat pemahaman mereka mengenai produk dan layanan finansial.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pengembangan sumber daya manusia, khususnya generasi muda, agar mampu memahami manfaat, risiko, dan penggunaan produk keuangan secara bertanggung jawab.

Pengamat BUMN Toto Pranoto menilai dunia usaha, termasuk perusahaan jasa keuangan nonbank, dapat mengambil peran dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan keuangan dan risiko finansial.

“Perusahaan yang bergerak di sektor jasa keuangan nonbank memiliki peluang untuk berkontribusi dalam meningkatkan literasi keuangan publik. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai layanan keuangan, termasuk manfaat dan risiko yang menyertainya,” ungkap Toto.

Menurutnya, penguatan literasi keuangan perlu menyesuaikan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Edukasi sejak dini diharapkan dapat membentuk kebiasaan pengelolaan keuangan yang sehat sekaligus meningkatkan kemampuan generasi muda dalam mengenali risiko finansial di era digital.

Salah satu upaya edukasi dilakukan Indonesia Financial Group (IFG), BUMN holding asuransi, penjaminan, dan investasi, melalui program IFG Goes to School. Program ini berkolaborasi dengan Sekolah Alam Bogor dan Jaringan Sekolah Alam Nusantara untuk memperkenalkan pengelolaan keuangan kepada peserta didik.

Melalui pendekatan game-based learning atau pembelajaran berbasis permainan, peserta mendapatkan materi mengenai pengelolaan keuangan, risiko finansial di era digital, serta pentingnya proteksi dan manajemen risiko.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan konsep keuangan melalui kegiatan pembelajaran yang interaktif. Dengan pemahaman yang dibangun sejak sekolah, generasi muda diharapkan dapat mempertimbangkan risiko sebelum menggunakan produk atau layanan keuangan.

Selain menyasar pelajar, IFG memperluas edukasi melalui kegiatan publik. Perusahaan turut menyelenggarakan kegiatan tahunan untuk memperingati Hari Asuransi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perlindungan risiko dan perencanaan keuangan.

IFG juga berpartisipasi dalam Jogja Financial Festival 2026 untuk memperluas edukasi mengenai pengelolaan keuangan dan pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang.

Sekretaris Perusahaan IFG Denny S. Adji mengatakan peningkatan literasi keuangan berperan dalam membangun ketahanan ekonomi masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan industri jasa keuangan nasional.

“IFG bersama anggota holding terus memperkuat komitmen dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat, khususnya pada sektor asuransi, penjaminan, dan investasi. Kami meyakini bahwa pemahaman yang baik mengenai pengelolaan keuangan dan perlindungan risiko dapat membantu masyarakat mengambil keputusan keuangan secara lebih bijak sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi,” ujar Denny.

Baca Juga: Literasi Asuransi RI Anjlok ke 42,84%, Masyarakat Makin Paham atau Sekadar Beli?

Baca Juga: Dorong Literasi Keuangan, LPS Tak Ingin Gen Z Terperangkap Judi Online

Penguatan literasi keuangan juga berkaitan dengan kemampuan masyarakat memahami fungsi perlindungan risiko, termasuk asuransi, serta mempertimbangkan produk keuangan sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial.

Ke depan, kolaborasi pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan industri jasa keuangan diharapkan memperluas jangkauan edukasi. Langkah ini menjadi penting agar peningkatan akses terhadap layanan keuangan berjalan seiring dengan pemahaman yang memadai mengenai manfaat, risiko, dan tanggung jawab penggunaannya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Moeldoko Sebut Salah Satu Manfaat Punya EV: Biaya BPJS Berkurang
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
KPK Buka Penyidikan Baru di Pemkot Bengkulu, Kasus Apa?
• 9 jam laluviva.co.id
thumb
Anindya Bakrie Kutip Data IMF: Indonesia Justru Jadi 'Bright Spot' di Tengah Ketidakpastian Global
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Petaka Baru Muncul di China, Peneliti Kasih Peringatan Bahaya
• 6 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Beasiswa BAZNAS Timur Tengah 2026 Dibuka: Syarat, Benefit, dan Cara Daftar
• 20 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.