jpnn.com, JAKARTA - Bagi orang tua, menemukan bintik kecil berwarna cokelat atau kehitaman pada susu bubuk anak tentu menimbulkan rasa khawatir.
Namun, pertanyaan muncul apakah susu masih layak konsumsi? Apakah itu kotoran atau tanda produk rusak?
BACA JUGA: Susu Bubuk Wellington Segera Diluncurkan, Ini Keunggulannya
Jangan buru-buru membuangnya. Ternyata, fenomena tersebut memiliki penjelasan ilmiah dari sisi teknologi pangan dan tidak selalu berkaitan dengan kontaminasi.
Akademisi bidang teknologi pangan dari IPB University Prof. Dr.-Ing. Azis Boing Sitanggang, STP. menjelaskan bahwa bintik hitam pada susu bubuk merupakan hal yang umum terjadi dalam proses produksi dan dikenal dengan istilah scorched particles.
BACA JUGA: Kini Jualan Donat, Pinkan Mambo: Buat Beli Susu Anak
Prof. Azis menjelaskan pembuatan susu bubuk melibatkan serangkaian tahapan yang sangat terkontrol, mulai dari pencampuran bahan, pemanasan, hingga pengeringan.
Salah satu teknologi utama yang digunakan adalah spray drying atau pengeringan semprot.
BACA JUGA: Waspadai Kandungan Gula Dalam Produk Susu Anak, Dokter Spesialis Buka Faktanya
"Melalui teknologi spray drying susu cair diubah menjadi bubuk dengan memanfaatkan udara panas dalam waktu singkat. Menariknya, penguapan air membantu menjaga suhu partikel susu tetap lebih rendah dibandingkan suhu udara pengering, sehingga paparan panas terhadap komponen gizinya relatif ringan," jelas Prof. Azis, Rabu (29/10).
Namun, dalam proses tersebut, sebagian kecil partikel susu dapat menempel pada permukaan alat pengering dan terpapar panas lebih lama dibandingkan partikel lainnya.
Paparan panas yang lebih lama inilah yang menyebabkan perubahan warna menjadi kecokelatan atau kehitaman.
Fenomena itu dapat dianalogikan seperti kerak tipis di dasar panci saat memasak susu atau pinggiran roti yang berubah kecokelatan saat dipanggang.
Prof. Azis menegaskan partikel gelap tersebut berasal dari susu itu sendiri, bukan benda asing dari luar.
"Perubahan warna pada partikel susu ini berkaitan dengan reaksi Maillard, yaitu reaksi antara gula susu dan protein akibat paparan panas. Reaksi ini umum terjadi dalam proses pengolahan pangan dan dapat memengaruhi warna serta karakteristik produk, tanpa selalu menunjukkan adanya kontaminasi dari luar," ungkapnya.
Berdasarkan metode pengujian yang dirujuk oleh American Dairy Products Institute (ADPI), keberadaan scorched particles terutama berkaitan dengan aspek mutu tampilan dan tidak dengan sendirinya dianggap sebagai bahaya keamanan pangan.
Meski tergolong normal, Prof. Azis mengingatkan orang tua tetap perlu jeli memperhatikan kondisi susu secara keseluruhan sebelum memberikannya kepada anak.
"Jika ditemukan bintik yang keras atau dalam jumlah tidak wajar, perubahan aroma, maupun penggumpalan yang tidak biasa, sebaiknya produk tidak diberikan terlebih dahulu. Pastikan juga kemasan dalam kondisi baik dan susu disimpan sesuai petunjuk untuk menjaga kualitasnya," tambahnya.
Ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan:
1. Cek fisik bintik: Jika bintik terasa keras, tajam, atau bukan seperti bubuk susu, hentikan penggunaan.
2. Cek aroma dan tekstur: Waspada jika susu berbau tengik, menggumpal keras, atau berubah warna secara keseluruhan.
3. Cek kemasan: Pastikan kemasan tidak rusak, tidak menggelembung, dan belum melewati tanggal kedaluwarsa.
4. Simpan bukti: Jika ragu, simpan kemasan, catat nomor produksi atau batch number dan hubungi layanan konsumen produsen atau tenaga kesehatan. (esy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Ajak Fuji dan Fadly Bikin Konten, Aldi Taher: Buat Beli Susu Anak
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Mesyia Muhammad




