Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono ingin program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sarana edukasi gizi bagi siswa. Namun, ia menegaskan kegiatan tersebut harus diatur agar tidak mengganggu jam pelajaran di sekolah.
Menurut Sudaryono, anak-anak tidak cukup hanya menerima makanan bergizi. Mereka juga perlu memahami fungsi zat gizi yang dikonsumsi, mulai dari karbohidrat, protein hewani, hingga sayuran.
Ia mengusulkan agar edukasi gizi dilakukan bersamaan dengan waktu makan MBG. Dengan begitu, siswa dapat memahami manfaat makanan yang dikonsumsi tanpa mengorbankan waktu belajar untuk mata pelajaran lain.
Hal itu disampaikan Sudaryono saat menjawab pertanyaan dalam agenda Refleksi 100 Hari Kepemimpinan Kepala BGN di Jakarta, Kamis (29/10).
Sudaryono mengatakan, pelaksanaan edukasi perlu menyesuaikan jadwal sekolah dan waktu pembagian makanan.
“Dikasih waktu khusus di dalam, jadi tidak mengganggu jam pelajaran. Tidak salah, keputusannya adalah untuk anak di kelas 1 kelas 2 yang pulang pagi, itu sebelum pulang sekolah jam 10.00 dia makan. Untuk yang pulang siang, itu diberikan waktu jam 12.00 sampai dengan jam 13.00, 1 jam itu makan MBG sambil diberi pencerahan terkait kenapa kok harus makan karbo, kenapa kok harus makan protein hewani, apa fungsi protein hewani, kenapa harus makan protein hewani, kenapa harus makan sayur,” kata Sudaryono.
Menurutnya, pengaturan tersebut penting agar edukasi gizi tidak mengganggu proses pembelajaran. Waktu makan dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan manfaat makanan bergizi secara langsung. Dengan demikian, siswa tidak hanya memperoleh makanan, tetapi juga memahami alasan tubuh membutuhkan karbohidrat, protein hewani, dan sayuran.
Sudaryono menilai MBG tidak hanya berfungsi menyediakan makanan bagi penerima manfaat, tetapi juga mendorong pemahaman tentang pentingnya pemenuhan gizi.
Ia menjelaskan, penerima program MBG mencakup ibu hamil, ibu menyusui, balita yang belum bersekolah, serta anak-anak dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP, hingga SMA.
Sudaryono mengaku melihat langsung kondisi masyarakat di daerah terpencil yang menghadapi persoalan kekurangan gizi dan keterbatasan pemenuhan kebutuhan pangan.
Karena itu, menurutnya, penyediaan makanan perlu diiringi pemahaman mengenai pentingnya asupan gizi bagi pertumbuhan dan kesehatan.
Penerapan edukasi gizi melalui waktu makan perlu disesuaikan dengan jadwal dan kondisi setiap sekolah. BGN perlu memastikan kegiatan makan dan penjelasan mengenai gizi tidak mengurangi waktu pembelajaran utama.
Sudaryono menilai pendekatan tersebut dapat membantu anak mengenali makanan yang mereka konsumsi dan memahami manfaatnya.
“Tidak banyak di antara anak-anak dan kita semua yang hadir di sini itu kemudian memahami itu dulu. Sekarang karena jadi orang kota, paham. Tapi di daerah-daerah ini orang enggak tahu kenapa makan kangkung bedanya sama makan bayam tuh apa, enggak ada yang tahu. Tahu-tahunya pokoknya kangkung ditumis pakai ikan asin enak, gitu,” jelasnya.
Melalui pendekatan tersebut, MBG diharapkan tidak berhenti pada pemberian makanan, tetapi juga membantu membangun pemahaman anak mengenai makanan yang mereka konsumsi.





