Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa pasar saham Indonesia tetap menjadi salah satu tujuan investasi paling menarik bagi pemodal asing di tengah meningkatnya risiko pasar saham Amerika Serikat (AS) dan tingginya rasio utang negara-negara Eropa.
Destry menceritakan, preferensi investor global ini ia ketahui langsung dari diskusi bersama pimpinan bank internasional saat menghadiri Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis, (29/10).
Menurut Destry, investor memandang pasar saham AS menyimpan risiko tinggi karena kapitalisasinya telah mencapai 2,4 kali Produk Domestik Bruto (PDB) serta terlampau didominasi oleh saham sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Sementara di Eropa, kekhawatiran dipicu oleh tingginya rasio utang serta pelebaran defisit anggaran.
"Bagi investor global, kawasan Asia dinilai lebih aman, dan Indonesia menjadi pilihan utama," ujar Destry.
Menanggapi isu penyesuaian indeks MSCI, Destry menegaskan bahwa BI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bergerak cepat untuk menenangkan serta menjaga kepercayaan investor global.
Upaya ini ditopang oleh fundamental ekonomi nasional yang solid. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat mencapai 5,45 persen pada semester I 2026, defisit anggaran tetap terjaga di bawah 3 persen, dan rasio utang terkendali di level 41 persen dari PDB.
"Langkah cepat OJK dan koordinasi di KSSK dilakukan untuk menunjukkan kepada investor global bahwa secara fundamental ekonomi kita sangat oke," tutur Destry.





