JAKARTA, DISWAY.ID-- GOTO melanjutkan tren laba pada kuartal III-2026 dengan membukukan keuntungan bersih Rp441 miliar. Perusahaan yang membawahi Gojek dan GoPay ini sudah mencetak laba selama tiga kuartal berturut-turut, setelah pada kuartal III-2025 masih merugi Rp255 miliar.
Pertumbuhan transaksi ikut menopang pencapaian tersebut. GTV inti melesat 89% secara tahunan (YoY) menjadi Rp194 triliun, sementara pendapatan bersih naik 17% menjadi Rp5,6 triliun. Jumlah pengguna bertransaksi tahunan juga bertambah 16% menjadi 72,5 juta.
BACA JUGA:Wamendagri Akhmad Wiyagus Tekankan Penguatan Tata Kelola dan Pencegahan Korupsi di Daerah
GOTO mencatat laba usaha Rp351 miliar dan EBITDA Grup yang disesuaikan Rp950 miliar, meningkat 84% YoY. Hasil ini sudah memperhitungkan dampak penerapan komisi 8% pada layanan transportasi roda dua selama satu kuartal penuh.
“Hasil ini dicapai di tengah berbagai tantangan dalam beberapa bulan terakhir. Ini adalah kuartal penuh pertama sejak komisi 8% mulai diterapkan di layanan GoRide, dan dampaknya cukup signifikan,” kata Hans Patuwo Direktur Utama GOTO.
Penguatan kinerja juga terlihat pada arus kas bebas Grup yang disesuaikan, yang melonjak 389% YoY menjadi Rp1.209 miliar. Pada periode yang sama, GOTO mengantongi imbalan jasa e-commerce dari Tokopedia sebesar Rp235 miliar.
BACA JUGA:Kemenimipas Salurkan Bantuan bagi Masyarakat Terdampak Karhutla dan Kekeringan di Sejumlah Wilayah
Dengan hasil tersebut, GOTO menaikkan target EBITDA Grup yang disesuaikan untuk 2026 menjadi Rp3,5–3,7 triliun dari Rp3,2–3,4 triliun. Pendorongnya adalah bisnis fintech yang terus melampaui ekspektasi, sehingga target EBITDA yang disesuaikan untuk segmen ini naik menjadi Rp1,9–2,0 triliun dari Rp1,7–1,8 triliun.
Bisnis On-Demand Services (ODS) juga mulai tumbuh. Rentang target EBITDA yang disesuaikan diperlebar menjadi Rp1,4–1,6 triliun dari Rp1,4–1,5 triliun, dengan mempertimbangkan potensi regulasi mendatang, termasuk aturan pelaksana layanan pengantaran dari Kementerian Komunikasi dan Digital.
Selain memperbaiki kinerja bisnis, GOTO menyiapkan pembatalan 32 miliar saham treasuri, setara sekitar 2,7% dari total saham beredar. Langkah yang disetujui dalam RUPSLB pada 14 Oktober 2026 ini diperkirakan efektif dalam dua hingga tiga bulan setelah seluruh proses regulasi selesai, sehingga persentase kepemilikan pemegang saham yang ada meningkat secara nominal.
BACA JUGA:Jaga Citra Bisnis Tetap Profesional Saat Harus Kunjungan ke Luar Kota dengan Rental Mobil TRAC
Pembelian kembali saham juga terus berjalan. Sejak BEI menghapus batas harga minimum saham Rp50 pada 28 September 2026 hingga 29 Oktober 2026, GOTO telah menggunakan Rp985 miliar untuk membeli kembali 36 miliar saham, setara hampir 3% dari total saham perusahaan. Masih tersedia dana buyback Rp2,5 triliun berdasarkan persetujuan yang berlaku hingga Juni 2027.
Hans menegaskan GOTO akan terus menjaga disiplin operasional dan alokasi modal. “Kami akan terus menjaga fundamental bisnis tetap sehat. Dengan bisnis yang sehat, kami dapat terus tumbuh dan mendukung seluruh pihak dalam ekosistem kami, termasuk jutaan mitra driver.”





