Meski dianggap menyegarkan, mengonsumsi minum dan makanan manis seperti, es teh, kopi kekinian, boba dan minuman isotonik bisa sangat berbahaya bagi kesehatan liver karena bisa meningkatkan risiko fatty liver atau perlemakan hati.
Fatty liver (perlemakan hati atau steatosis hepatis) adalah kondisi ketika terjadi penumpukan lemak berlebihan di dalam sel-sel hati, yang kadarnya melebihi 5% hingga 10i berat total organ hati. Kondisi ini membuat organ hati bekerja lebih berat dan dapat merusak sel-selnya jika dibiarkan terus-menerus.
Jenis-Jenis Fatty LiverFatty liver secara umum dibagi menjadi dua kategori utama:
- NAFLD (Non-Alcoholic Fatty Liver Disease): Perlemakan hati yang tidak dipicu oleh konsumsi alkohol, melainkan sangat erat kaitannya dengan obesitas, diabetes tipe 2, resistensi insulin, serta kolesterol tinggi.
- AFLD (Alcoholic Fatty Liver Disease): Perlemakan hati yang disebabkan oleh kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan dalam jangka panjang.
Gejala Fatty LiverPada tahap awal (silent disease), fatty liver sering kali tidak menimbulkan gejala sama sekali. Seiring perburukan kondisi atau jika terjadi peradangan, beberapa gejala yang dapat muncul meliputi:
-
Rasa lelah atau lemah yang terus-menerus
-
Nyeri atau rasa tidak nyaman di perut bagian kanan atas
-
Perut kembung atau pembengkakan perut (asites)
-
Perubahan warna kulit dan bagian putih mata menjadi kuning (penyakit kuning/jaundice)
Konsultan Gastroenterohepatologi Eka Hospital MT Haryono Dr. dr. Irsan Hasan, Sp.PD-KGEH,FINASIM, FACG, menjelaskan bahwa perlemakan hati berkaitan erat dengan gangguan metabolisme tubuh. Hati yang sehat memang mengandung sedikit lemak. Namun, ketika kandungan lemaknya melebihi 5 persen dari berat organ tersebut, kondisi ini dapat dikategorikan sebagai perlemakan hati.
"Dalam istilah medis, salah satu bentuk perlemakan hati yang berkaitan dengan gangguan metabolisme dikenal sebagai Metabolic dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD). Peningkatan kasus MASLD berkaitan dengan perubahan gaya hidup, termasuk pola makan tinggi kalori, konsumsi makanan ultra-proses, dan kurangnya aktivitas fisik," kata Irsan dalam keterangannya.
Minuman manis picu fatty liverKonsumsi minuman manis secara berlebihan menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko perlemakan hati, terutama karena kandungan gula seperti fruktosa.
Berbeda dengan glukosa yang dapat digunakan sebagai sumber energi oleh berbagai sel tubuh, fruktosa terutama diproses di hati. Ketika asupan fruktosa berlebihan, hati dapat mengubah kelebihan gula tersebut menjadi lemak melalui proses yang disebut lipogenesis de novo.
Lemak yang terbentuk kemudian dapat menumpuk di dalam sel-sel hati. Jika kebiasaan mengonsumsi gula berlebihan terus berlangsung, penumpukan lemak berpotensi semakin parah. Kebiasaan mengonsumsi minuman tinggi gula perlu diperhatikan, terutama jika disertai pola makan tinggi kalori dan kurang bergerak.
Mudah lelah dapat menjadi salah satu keluhan pada orang dengan perlemakan hati. Namun, gejala ini tidak spesifik dan bisa disebabkan oleh berbagai kondisi lain.
Hati memiliki beragam fungsi penting, mulai dari menyimpan energi, memproduksi protein, hingga membantu memproses zat yang masuk ke dalam tubuh. Ketika perlemakan hati berkembang dan disertai peradangan, kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan secara keseluruhan.
Meski begitu, seseorang tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa rasa lelah yang dialaminya disebabkan oleh fatty liver. Menurut dokter Irsan, perlemakan hati kerap disebut sebagai silent disease atau penyakit yang tidak menunjukkan gejala jelas. Pada tahap awal, seseorang bahkan bisa mengalami kondisi ini tanpa keluhan apa pun.
Sehingga pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebab kelelahan, terutama jika keluhan berlangsung terus-menerus atau disertai faktor risiko metabolik.
Siapa yang berisiko mengalami fatty liver?Perlemakan hati berkaitan erat dengan gangguan metabolisme. Sejumlah kondisi dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami MASLD, antara lain:
- Obesitas: Terutama jika disertai penumpukan lemak di area perut.
- Diabetes tipe 2 dan pradiabetes: Resistensi insulin dapat berperan dalam penumpukan lemak di hati.
- Kolesterol atau trigliserida tinggi: Gangguan profil lemak darah berkaitan dengan risiko perlemakan hati.
- Hipertensi: Tekanan darah tinggi kerap ditemukan bersama gangguan metabolisme lainnya.
- Konsumsi minuman manis berlebihan: Kebiasaan mengonsumsi minuman tinggi gula dapat menambah asupan kalori dan meningkatkan risiko gangguan metabolisme.
"Orang dengan berat badan normal pun tetap dapat mengalami perlemakan hati. Kondisi ini dikenal sebagai lean MASLD dan dapat berkaitan dengan faktor genetik, resistensi insulin, maupun penumpukan lemak di sekitar organ perut," katanya.
"Semakin dini kondisi terdeteksi, semakin cepat langkah penanganan yang sesuai dapat dilakukan," tutup dokter Irsan.





