Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahannya makin dalam pada perdagangan sesi pagi Jumat (30/10/2026). Hingga pukul 09.42 WIB, IHSG berada di level 4.992,03, turun 106,03 poin atau 2,08%.
IHSG telah dibuka melemah sejak awal pembukaan. Indeks dibuka di level 5.066,94, sudah lebih rendah dari penutupan hari sebelumnya. Pada awal sesi, IHSG sempat bergerak naik dan menyentuh level tertinggi harian di 5.116,01. Penguatan itu tidak bertahan lama, karena tekanan jual segera mendominasi pasar.
Menjelang pukul 09.42 WIB, indeks turun hampir tanpa jeda. Beberapa kali IHSG sempat memantul tipis, tetapi setiap pantulan tertahan dan indeks kembali menuruni level 5.100, 5.050, hingga akhirnya menembus batas psikologis 5.000. Level terendah harian tercatat di 4.979,34, sedikit di bawah posisi terakhir.
Dari sisi aktivitas perdagangan, hingga pukul 09.42 WIB volume transaksi tercatat 156,85 juta lot dengan nilai transaksi sekitar Rp3,37 triliun.
Akhir pekan ini, pasar keuangan Indonesia dibayangi sejumlah kabar, rilis data hingga agenda yang sangat padat.
Jatuhnya Wall Street, data ekonomi AS yang kencang hingga kenaikan inflasi PCE AS bisa menjadi katalis buruk bagi bursa saham Indonesia hingga rupiah.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melandai ke 7,643% pada perdagangan Kamis kemarin, dari 7,706% pada Rabu.
Imbal hasil yang melandai menandai harga SBN yang tengah naik karena kembali dilirik investor.
Kendati melandai, imbal hasil masih berada di kisaran tertinggi dalam enam tahun terakhir.
Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:
1. BI Tak Otomatis Ikuti The Fed, Destry Siapkan Jurus Jaga Rupiah
Bank Indonesia (BI) menegaskan keputusan suku bunga acuan BI Rate pada November 2026 akan bergantung pada perkembangan ekonomi domestik dan global, bukan otomatis mengikuti langkah bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed).
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, bank sentral memiliki beragam instrumen untuk merespons tekanan ekonomi, termasuk pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp18.100/US$.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memastikan, desain suku bunga acuan BI Rate akan terus konsisten sesuai dengan perkembangan data-data perekonomian tanah air dan perkembangan global.
2. BEI Coret 5 Saham dari Daftar Short Selling, Ada BBCA-BUMI
Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan lima saham dari daftar efek short selling untuk November 2026. Daftar tersebut mencakup saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), PT Astra International Tbk. (ASII), PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF).
3. Inflasi PCE AS Menanjak
Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) Amerika Serikat (AS) naik 0,5% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada September 2026. Kenaikan ini menjadi yang tertinggi dalam enam bulan terakhir, setelah naik 0,3% pada Agustus, sekaligus sesuai dengan ekspektasi pasar.
Kenaikan harga barang mencapai 0,8%, meningkat dari 0,3% pada bulan sebelumnya. Pendorong utamanya adalah harga barang tidak tahan lama yang melonjak 1,1%, terutama akibat kenaikan harga bensin dan produk energi lainnya sebesar 9,2%.
Adapun indeks harga PCE inti, yang tidak mencakup komponen pangan dan energi, naik 0,3% secara bulanan. Angka tersebut menjadi kenaikan tertinggi dalam empat bulan terakhir dan sesuai dengan perkiraan pasar.
Indeks PCE merupakan indikator inflasi utama yang menjadi acuan Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan kebijakan moneter. Inflasi berdasarkan indikator ini telah bertahan di atas target bank sentral sebesar 2% sejak 2021.
4. Bank Sentral Eropa Tahan Suku Bunga
Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan Oktober 2026, sesuai dengan ekspektasi pasar.
ECB menahan suku bunga operasi pembiayaan utama (main refinancing rate) di level 2,65% dan suku bunga fasilitas simpanan (deposit facility rate) sebesar 2,50%.
5. Ekonomi AS Melesat
Ekonomi Amerika Serikat (AS) tumbuh pada laju tahunan sebesar 3,4% pada kuartal III-2026, menjadi pertumbuhan tertinggi dalam setahun terakhir. Angka ini meningkat dibandingkan pertumbuhan 2,2% pada kuartal II-2026 sekaligus melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,2%.
Kontributor terbesar pertumbuhan berasal dari investasi domestik swasta yang melonjak 19,4%, jauh di atas pertumbuhan 4,6% pada kuartal sebelumnya. Lonjakan ini didorong oleh kuatnya investasi di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
6. Keputusan Suku Bunga BOJ Oktober 2026
Hari ini, bank sentral Jepang (BOJ) dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga.
Konsensus memperkirakan BOJ mempertahankan suku bunga di 1,25%, setelah kenaikan dari 1,00% pada September.
Selain keputusan suku bunga, pasar akan mencermati laporan prospek ekonomi dan harga, termasuk perubahan proyeksi pertumbuhan, inflasi, serta penilaian terhadap perkembangan upah dan konsumsi.
7. Pertumbuhan Ekonomi Zona Euro Kuartal III-2026 dan Tingkat Pengangguran
Estimasi awal PDB zona euro dirilis hari ini, Jumat (30/10) pukul 17.00 WIB.
Ekonomi diperkirakan tumbuh 0,2% secara kuartalan, melambat dari 0,6% pada kuartal sebelumnya.
Secara tahunan, pertumbuhan diproyeksikan mencapai 1,1%, turun dari 1,2%. Perlambatan yang lebih tajam dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap ekonomi kawasan dan menjadi pertimbangan penting bagi arah kebijakan ECB.
Tingkat pengangguran zona euro juga akan dirilis Jumat (30/10) pukul 17.00 WIB dan diperkirakan bertahan di 6,4%.
Stabilitas tenaga kerja dapat menopang pendapatan dan konsumsi di tengah perlambatan ekonomi. Sebaliknya, kenaikan pengangguran bersamaan dengan melemahnya PDB dapat memperbesar kekhawatiran terhadap prospek ekonomi kawasan.
(rob/rob)




