Pantau - Seniman asal Gorontalo, Putri Diah, mengangkat kehidupan dan persoalan kesejahteraan pengrajin karawo melalui pameran lukisan digital di Riden Baruadi Gallery, Gorontalo, yang berlangsung pada 27 Oktober hingga 2 November 2026.
Perempuan yang akrab disapa Puput itu menghadirkan karya seni yang menyoroti kehidupan para pekerja di balik produksi kain tradisional khas Gorontalo, khususnya pengrajin perempuan.
Melalui lukisan digital, Puput ingin mengajak masyarakat melihat karawo bukan sekadar produk budaya yang dikenal melalui motif, merek, dan harga jualnya, melainkan juga sebagai hasil keterampilan manusia.
Karya-karya tersebut menggambarkan persoalan pengakuan terhadap pekerja yang selama ini berperan dalam menjaga keberlangsungan industri karawo.
Putri Diah Angkat Kisah Pengrajin Karawo dalam Pameran Seni DigitalPameran yang digelar di Riden Baruadi Gallery menjadi ruang bagi Puput untuk memperkenalkan kehidupan pengrajin karawo kepada masyarakat.
Karawo merupakan kain tradisional Gorontalo yang dibuat melalui teknik melubangi dan mengiris kain mengikuti pola motif tertentu.
Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian, keterampilan tangan, dan waktu pengerjaan yang tidak singkat.
Menurut Puput, perhatian masyarakat terhadap karawo sering kali lebih tertuju pada produk yang telah selesai dibuat dibandingkan kehidupan orang-orang yang mengerjakannya.
Kondisi tersebut mendorongnya menghadirkan cerita para pengrajin melalui medium lukisan digital atau digital painting.
Melalui karya tersebut, Puput berupaya memperlihatkan hubungan antara proses produksi, keterampilan pekerja, dan nilai budaya yang terkandung dalam kain karawo.
Pengalaman di Industri Karawo Menginspirasi Karya Putri DiahKetertarikan Puput terhadap kehidupan pengrajin berawal dari kedekatannya dengan industri karawo di Gorontalo.
Ia tumbuh di lingkungan yang memiliki hubungan dengan kerajinan tradisional tersebut dan pernah menerima pekerjaan membuat desain motif karawo.
Pengalaman itu memberinya kesempatan mengenal proses produksi sekaligus memahami peran berbagai pihak dalam industri kerajinan tersebut.
Puput kemudian melihat adanya perbedaan antara perhatian terhadap produk karawo dan pengakuan terhadap orang-orang yang membuatnya.
Ketika kain dipasarkan, konsumen umumnya mengenali produk melalui motif, merek, atau identitas usaha yang menjualnya.
Sementara itu, keterampilan pengrajin yang terlibat dalam proses pembuatannya tidak selalu mendapatkan perhatian yang sama.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu dasar bagi Puput untuk mengangkat persoalan pengrajin melalui karya seni.
Kesejahteraan Pengrajin Perempuan Jadi SorotanSelain memperkenalkan proses pembuatan karawo, Puput juga menyoroti persoalan kesejahteraan pekerja dalam rantai produksi.
Menurut pandangannya, pengrajin memiliki peran penting karena mencurahkan waktu dan keterampilan untuk menghasilkan kain yang kemudian dipasarkan kepada konsumen.
Namun, pengakuan terhadap pekerjaan mereka belum tentu sebanding dengan kontribusi yang diberikan.
Industri karawo melibatkan berbagai pihak, mulai dari pengrajin, perancang motif, pemilik usaha, hingga pemilik merek.
Setiap pihak memiliki tanggung jawab berbeda dalam proses produksi dan pemasaran.
Puput menaruh perhatian khusus kepada pekerja perempuan yang keterampilannya menjadi bagian penting dari keberlangsungan kerajinan karawo.
Melalui lukisan digital, ia berupaya menghadirkan kehidupan para pekerja tersebut sebagai bagian dari cerita yang melekat pada kain tradisional Gorontalo.
Lukisan Digital Jadi Media Memperkenalkan Sisi Lain KarawoPuput menggunakan seni digital untuk menyampaikan persoalan yang ditemukannya selama mengenal industri karawo.
Ia ingin masyarakat memahami perjalanan sebuah kain dari proses pengerjaan hingga menjadi produk yang dipasarkan.
Perhatian terhadap proses tersebut mencakup hubungan antara pengrajin dan pelaku industri serta pengakuan atas keterampilan pekerja.
Bagi Puput, pemahaman terhadap karawo tidak cukup hanya melalui pengenalan motif dan teknik pembuatannya.
Kehidupan orang-orang yang menghasilkan kain tersebut juga menjadi bagian penting dari identitas kerajinan tradisional Gorontalo.
Pameran karya Putri Diah di Riden Baruadi Gallery berlangsung hingga 2 November 2026 dengan menampilkan lukisan digital yang mengangkat kehidupan pengrajin karawo.




