Pemulihan pascabencana terus gencar dilakukan di bawah koordinasi Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) guna memulihkan fungsi konektivitas serta memulihkan penghidupan masyarakat terdampak.
Di Kota Padangsidimpuan, penantian panjang selama setengah dekade yang dirasakan warga Kompleks Perumahan Sidimpuan Baru akhirnya terjawab tuntas melalui rehabilitasi infrastruktur jalan lingkungan yang kini tengah dikebut pengerjaannya.
Selama lima tahun berturut-turut, masyarakat setempat harus bertahan menghadapi akses jalan yang rusak parah, becek, dan menjadi langganan banjir setiap kali hujan mengguyur. Persoalan tersebut bahkan sempat viral di media sosial Facebook akibat banyaknya keluhan dan aspirasi warga yang tak kunjung terealisasi.
Kegiatan rehabilitasi fisik ini berlokasi persis di Komplek Perumahan Sidimpuan Baru, Jalan Tandang Mulia Harahap, Kelurahan Silandit, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, Kota Padangsidimpuan, Provinsi Sumatera Utara.
Perbaikan menyasar jalan sepanjang 1.300 meter, tersebar di 14 titik. Lebar penanganan berkisar 3 hingga 4 meter menyesuaikan kondisi lapangan dan gang permukiman.
Urgensi rehabilitasi memang sudah sangat tinggi. Ini dikarenakan rentetan bencana hidrometeorologi banjir yang melanda wilayah Sumatera pada tahun 2025, yang memperparah kerusakan badan jalan.
Ketika hujan deras turun, genangan air merendam jalan hingga setinggi mata kaki yang melumpuhkan mobilitas warga. Kendaraan roda dua yang merupakan alat transportasi sebagian besar masyarakat setempat, sama sekali tidak dapat melintas.
Pengerjaan rehabilitasi jalan didanai oleh Transfer ke Daerah (TKD) Tambahan Tahun 2026 dengan pagu anggaran senilai Rp 1.964.160.000 yang dilaksanakan oleh rekanan kontraktor CV Namburak (CV Namboruk).
TKD Tambahan adalah alokasi dana tambahan dari APBN yang disalurkan oleh pemerintah pusat ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) di luar alokasi reguler. Peruntukannya antara lain memperkuat kapasitas fiskal daerah, khususnya guna mempercepat rehabilitasi, rekonstruksi, serta pemulihan wilayah yang terdampak bencana atau untuk mendukung penanganan kebutuhan mendesak lainnya
Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, selaku Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, berulang kali mengatakan
TKD perlu segera dimanfaatkan secara optimal. Daerah terdampak diminta memprioritaskan pemulihan, terutama perbaikan infrastruktur yang rusak. Sementara itu, daerah yang tidak terdampak secara langsung dapat menggunakan anggaran tersebut untuk memperkuat mitigasi bencana.
“Nah, bagi yang tidak terkena, silakan digunakan, dalam rangka untuk antisipasi bencana. Itu luas. Saya berikan kesempatan luas sekali, penggunaannya. Ya, bisa untuk membangun, memperkuat jalan, memperkuat jembatan, memperkuat infrastruktur, daerah-daerah yang rawan bencana,” ujar Tito saat memimpin Rapat Koordinasi Percepatan Realisasi Bantuan Keuangan ke Daerah Sumatera secara virtual dari Gedung A, Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Warga Sidimpuan baru beruntung karena mendapat berkah TKD Tambahan yang ditujukan membangun jalan di wilayah mereka.
Progres penyelesaian pekerjaan fisik di lapangan dimulai sejak awal Oktober 2026 dan ditargetkan rampung secara menyeluruh pada 12 Desember 2026. Tahapan konstruksi diawali dengan penyiapan serta pemadatan fondasi jalan (base) kelas A setebal 15 sentimeter menggunakan alat berat grader, yang kemudian dilanjutkan dengan pengaspalan menggunakan campuran aspal panas (hotmix) setebal 5 sentimeter.
Walaupun curah hujan kerap membuat jalan becek dan menghambat mobilitas pengangkutan material, pekerjaan terus digenjot. Dampak manfaatnya dirasakan langsung oleh warga yang kini mulai melintas di atas hamparan jalan yang telah dipadatkan secara lebih aman, bebas genangan lumpur, dan nyaman untuk beraktivitas harian.
Salah seorang perwakilan warga Komplek Sidimpuan Baru, Muhammad Irfan Siregar (43), menyampaikan rasa terima kasih dan kelegaannya mewakili seluruh warga atas kehadiran pemerintah yang menyahuti keluhan lingkungan mereka. Ia menuturkan secara gamblang riwayat penantian warga serta dinamika yang sempat hangat diperbincangkan publik:
"Iya, kalau untuk khusus jalan ini. Mungkin kalau jalan-jalan yang lain ada perbaikan kan, tapi kalau di sini baru ini. Dan kondisi jalan di sini juga sempat viral di media sosial. Tapi mudah-mudahan sekitar tahun yang lewat, banyak usulan, bahkan banyak ribut-ribut di Facebook masalah ini, mudah-mudahan pemerintah sudah menyautinya."
Irfan menambahkan bahwa selama sekitar lima tahun jalan tersebut mengalami kerusakan dan tergenang air setinggi mata kaki setiap hujan deras hingga sepeda motor tak bisa lewat. Ia juga mengajak masyarakat sekitar ikut menjaga kelestarian jalan dengan bergotong royong bila sewaktu-waktu muncul genangan, sembari menitipkan harapan penambahan fasilitas tiang listrik resmi di bagian ujung kompleks yang saat ini masih menggunakan tiang pribadi.
“Ya harapannya, warga di sini pun menjaga kelestarian jalan ini jugalah. Dan kami harapannya ikut juga warga Kompleks Sidimpuan Baru ini menjaga, melestarikan jalan. Contohnya, ya nanti kan kalau ada genangan, ya mungkin nanti digotongroyongkan. Mudahan-mudahanlah perbaikannya bagus ke depannya ya, bermanfaatkan sama masyarakat di sini,” lanjut Irfan.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Kota Padangsidimpuan, Addi Mawardi Harahap (50), menerangkan bahwa proyek ini merupakan satu dari delapan titik kegiatan Bina Marga berbasis dana TKD Tambahan 2026 senilai Rp7 miliar, sekaligus menjadi satu-satunya paket yang telah berkontrak dan menunjukkan realisasi fisik di lapangan.
"Untuk pekerjaan jalan yang ada di Kompleks Sidimpuan Baru ini, kita mengadakan pemasangan base dengan tinggi 0,15 cm sepadat mungkin dengan lebar 4 meter, dan ada juga yang 3,5 meter, serta untuk gang-gang ada yang 3 meter. Habis itu kita hampar base kelas A, 15 sentimeter, baru setelah padat kita set, membuat ketebalan, campuran air, setelah padat semuanya baru kita melaksanakan hotmix atau pelingkut dengan tebal 5 sentimeter."
Addi menambahkan bahwa proyek yang dimulai awal Oktober ini diwajibkan tuntas seluruhnya pada 12 Desember mendatang, kendati faktor cuaca hujan masih menjadi tantangan utama pelaksana.
Pihaknya pun menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Presiden Prabowo Subianto, kementerian/lembaga terkait, dan pemerintah provinsi atas kucuran dana TKD yang mempercepat pembangunan infrastruktur di daerah.
Dinamika lapangan tersebut dibenarkan oleh pelaksana kegiatan dari CV Namboruk, Borkas Ritonga (30). Ia menyebutkan bahwa pekerjaan diawali dengan mobilisasi alat berat dan suplai material dari gudang untuk proses penimbunan dan pemadatan sebelum masuk tahap pengaspalan.
Meski guyuran hujan membuat permukaan jalan becek dan menyulitkan distribusi material, pihaknya tetap berupaya optimal mengejar target waktu yang telah ditetapkan.
Strategi pemulihan infrastruktur jalan permukiman ini merujuk secara ketat pada prinsip dokumen Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatera 2026–2028.
Dalam kerangka Renduk PRRP, rehabilitasi jaringan jalan tidak sekadar berorientasi memperbaiki kerusakan fisik semata, melainkan dirancang guna memulihkan konektivitas antarlintasan, memperlancar mobilitas orang dan distribusi logistik, serta membangkitkan ekonomi wilayah terdampak bencana.
Pemulihan diarahkan secara bertahap, diawali dari pengembalian fungsi aksesibilitas jalan secara fungsional hingga rekonstruksi permanen berstandar ketahanan bencana tinggi yang memenuhi prinsip Build Back Better, Safer, and Sustainable (BBBSS).
Dokumen Renduk juga menggariskan pentingnya keterpaduan penanganan jalan dengan drainase permukiman serta pelibatan komunitas lokal dalam menjaga keberlanjutan infrastruktur.
Berdasarkan data makro yang dihimpun dari laporan pemulihan dan Rencana Induk penanganan pascabencana Siklon Tropis Senyar di 53 kabupaten/kota di Sumatera, estimasi kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi mencapai Rp205 triliun.
Di tingkat daerah, Kota Padangsidimpuan mengoptimalkan pagu TKD Tambahan Bina Marga senilai Rp 7 miliar untuk 8 lokasi penanganan fisik jalan dan jembatan, di mana jalan Komplek Sidimpuan Baru menjadi titik perdana yang berjalan di lapangan.
Pada tingkat regional provinsi, dari penanganan konektivitas jalan terdampak di Sumatera Utara, sebanyak 72 ruas jalan dan 30 jembatan nasional/strategis terus dipulihkan dengan capaian progres Kementerian PUPR di Sumatera Utara yang telah mencapai 78,7 persen, berada di atas Provinsi Sumatera Barat sebesar 76,1 persen dan Provinsi Aceh sebesar 51 persen.
Secara agregat kewilayahan Sumatera, penanganan infrastruktur jalan dan jembatan terus dipercepat untuk menjamin stabilitas arus barang dan mobilitas masyarakat antardaerah.





