Asrama Gowani: Cagar Budaya Kolonial 150 Tahun yang Terabaikan

celebesmedia.id
2 jam lalu
Cover Berita

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di tengah gedung-gedung baru dan padatnya lalu lintas Makassar, sebuah bangunan tua berdiri nyaris tak dilirik. Usianya lebih dari 150 tahun. Menurut catatan Sistem Informasi Cagar Budaya (Simcabud) Makassar, bangunan itu sudah ada sejak 1874, ketika kota ini masih berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda. 

Kini, Asrama Gowani bertahan dalam sunyi, menjadi saksi bisu perjalanan Makassar dari kota jajahan hingga metropolitan yang terus bergerak.

Bangunan cagar budaya ini berada di Jl. Amanagappa, Kelurahan Baru, Kecamatan Ujung Pandang. Kawasan di sekelilingnya pernah menjadi bagian penting kota kolonial, dan deretan bangunan bersejarah di sekitarnya menjadikan lokasi ini seperti lorong waktu bagi siapa pun yang mau berhenti sejenak.

Dari segi arsitektur, Asrama Gowani memperlihatkan ciri khas rumah tinggal era Hindia Belanda. Bangunannya berdenah segi empat dengan tata ruang yang tertata. Ruang tamu di bagian depan, kamar-kamar yang saling berhadapan, dan dapur di bagian belakang. Atapnya berbentuk limasan, bentuk yang kokoh dan cocok dengan iklim tropis.

Detail aslinya masih bisa dijumpai hingga hari ini. Lantai ubin lawas masih terpasang, sementara jendela berdaun lebar tetap berdiri, dahulu dirancang agar udara dan cahaya leluasa masuk ke dalam ruangan. Unsur-unsur inilah yang membuat bangunan ini bukan sekadar tua, tetapi menyimpan karakter zaman yang kini semakin langka di Makassar.

Fungsi bangunan ini berubah mengikuti zaman. Pada awalnya, ia merupakan rumah tinggal kepala sekolah OSVIA, sekolah pendidikan pegawai pribumi di masa Hindia Belanda. Setelah itu, pada 1957, bangunan ini menjadi tempat tinggal putri-putri bangsawan Sulawesi. Dari lorong-lorongnya pernah mengalir cerita pendidikan, adat, dan perubahan zaman dari era kolonial menuju masa kemerdekaan.

Pada 1998, bangunan ini direnovasi besar-besaran demi menjaga keaslian bentuknya. Pemiliknya saat itu, almarhumah Imelda Towoliu, menerimanya sebagai hadiah dari Ibu Negara NIT, Fransche.

Ironisnya, bangunan yang pernah dirawat dengan penuh perhatian ini kini tampak kurang terurus. Tanda-tanda kurangnya perawatan terlihat jelas, padahal potensinya sebagai destinasi wisata sejarah sangat besar. Setiap tahun tanpa perawatan membuat usia bangunan ini kian rapuh.

Asrama Gowani adalah pengingat bahwa warisan sejarah tidak hanya perlu dikenang, tetapi juga dirawat. Sebab ketika satu cagar budaya hilang, yang lenyap bukan hanya tembok dan atap, melainkan potongan ingatan sebuah kota.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Soal Insentif Rp1 Triliun untuk Pemda, Bos BGN: Tak Hanya Buat MBG
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
Mantan Wamen Silmy Karim Didakwa Lakukan Pemerasan Rp168,9 Miliar
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
5 Rumah di Lampung Barat Hangus Terbakar, Kerugian Ditaksir Rp2 Miliar
• 21 jam lalurctiplus.com
thumb
Jenderal Suyudi: Integritas Jadi Dasar Pelaksanaan Tugas Polisi
• 18 jam lalujpnn.com
thumb
KSP sekaligus Ketum PB ISSI Apresiasi Prestasi Atlet Balap Sepeda Indonesia
• 5 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.