Jakarta, VIVA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan akhir pekan dengan rapor merah. Indeks saham domestik anjlok 0,80 persen atau 41 poin ke level 5.057,05 pada Jumat, 30 Oktober 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan saham-saham milik konglomerat Prajogo Pangestu yang kompak terkoreksi, mulai dari BREN, TPIA, BRPT hingga CUAN.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG sepanjang perdagangan bergerak fluktuatif dengan menyentuh level terendah 4.979,34 dan posisi tertinggi 5.116. Bahkan, pada sesi pertama perdagangan, indeks sempat terperosok ke bawah level psikologis 5.000.
Tekanan jual yang terjadi membuat mayoritas saham berakhir di zona merah. Tercatat sebanyak 523 saham mengalami penurunan, sementara 187 saham berhasil menguat dan 81 saham lainnya bergerak stagnan.
Di tengah pelemahan tersebut, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat mencapai Rp8.882,51 triliun.
Saham Grup Barito Jadi Pemberat IHSGSalah satu faktor yang membebani pergerakan IHSG adalah koreksi sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama emiten yang berada di bawah Grup Barito milik Prajogo Pangestu.
Saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) menjadi salah satu pemberat utama setelah harganya anjlok 6,99 persen menjadi Rp1.795 per saham.
Tekanan juga terjadi pada saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) yang terkoreksi 5,19 persen ke level Rp1.280 per saham.
Sementara itu, saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) turut mengalami penurunan tajam. Emiten tersebut terkoreksi hingga 6,96 persen ke posisi Rp1.070 per saham.
Tidak hanya itu, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) juga terperosok 6,83 persen menjadi Rp382 per saham.
Di luar kelompok saham Grup Barito, PT Ekamas Mora Republik Tbk. (MORA) juga mengalami tekanan besar. Saham perusahaan tersebut turun 6,97 persen ke level Rp2.270 per saham.
Koreksi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap pergerakan indeks, terutama karena saham-saham dengan bobot besar memiliki pengaruh terhadap pergerakan IHSG.
Rupiah Melemah, Tekanan Pasar Saham Semakin BeratSelain tekanan dari saham-saham Grup Barito, pelemahan nilai tukar rupiah turut menjadi sentimen negatif bagi pasar saham domestik.
Berdasarkan publikasi riset harian Mirae Asset Sekuritas, depresiasi rupiah yang berlanjut membuat tekanan terhadap pasar saham Indonesia semakin besar.





